Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

“Pendidikan di Ujung Negeri: Antara Asa dan Realita”

badge-check

Salah satu Sekolah Menengah Pertama. F: Andryan Rahmana Riswandi
Perbesar

Salah satu Sekolah Menengah Pertama. F: Andryan Rahmana Riswandi

Oleh: Andryan Rahmana Riswandi

 

Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya rutinitas tahunan pidato, upacara, dan baliho besar yang menghiasi ruang-ruang publik. Namun bagi sebagian lain, ini adalah momen renungan. Sebuah titik jeda untuk menengok kembali wajah pendidikan kita, terutama di daerah-daerah yang selama ini hanya terdengar sayup dalam percakapan pembangunan di pesisir, di pulau-pulau kecil, di tempat-tempat yang jauh dari sorotan kamera. Seperti di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, tanah kelahiran saya.

Saya lahir dan besar di Karimun. Saya tumbuh bersama semangat para guru yang mengajar dengan cinta, walau sering kali harus menempuh jarak yang melelahkan demi bisa berdiri di depan kelas. Saya melihat siswa-siswa yang menyeberangi laut demi hadir di sekolah. Di pundak kecil mereka, tersimpan mimpi-mimpi besar: menjadi dokter, guru, perawat, atau sekadar bisa membantu keluarga keluar dari lingkaran kemiskinan.

Namun di tengah semangat itu, realita berbicara dengan jujur. Masih banyak anak-anak di pulau-pulau kecil yang berjuang menembus keterbatasan hanya untuk belajar. Gedung sekolah rusak, laboratorium tak berfungsi, dan akses digital yang semestinya menjadi jembatan ke masa depan masih terasa seperti mimpi yang jauh.

Para guru honorer dan tenaga pendidik keagamaan di baik di pusat kota maupun di pelosok Karimun masih belum mendapat perhatian yang merata. Mereka mendidik dengan ketulusan, namun kerap bertanya dalam hati: apakah negara benar-benar hadir untuk mereka? Padahal, merekalah ujung tombak perubahan itu sendiri.

Isu lain yang tak kalah penting adalah beasiswa. Banyak pelajar dan Mahasiswa cerdas dari keluarga sederhana harus menghentikan pendidikannya karena terbentur biaya. Program beasiswa jikalau sudah ada, mesti perlu diperluas jangkauannya, ditingkatkan jumlah dan kuotanya, serta dipermudah aksesnya agar benar-benar sampai pada mereka yang membutuhkan bukan hanya mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi panggilan hati bagi para pemimpin dan pemangku kebijakan, baik di pusat maupun daerah. Saatnya mendengar lebih dalam suara dari pelosok. Jangan biarkan anak-anak di Karimun, Kundur, Moro, Buru, Durai, dan pulau-pulau lainnya merasa terabaikan. Mereka berhak atas masa depan yang cerah, sama seperti anak-anak di kota besar.

Mari kita ubah arah narasi pendidikan kita. Jangan biarkan ia terjebak dalam dokumen program dan laporan-laporan kinerja. Jadikan pendidikan sebagai gerakan bersama yang menjangkau hingga ke titik terjauh negeri ini. Karena pendidikan bukan sekadar membangun gedung, tapi membangun harapan.

Saya percaya, Karimun bisa menjadi contoh bahwa kemajuan pendidikan bisa tumbuh dari kepulauan. Asalkan ada keberanian untuk berpihak, dan kemauan untuk turun langsung menyentuh realita di lapangan.

Dan kepada para orang tua, jangan pernah lelah menjadi cahaya pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sebab masa depan bangsa ini, termasuk Karimun, sedang bertumbuh dalam diri anak-anak kita hari ini.

Keadilan dalam pendidikan bukanlah hadiah ia adalah hak. Dan sudah waktunya kita memperjuangkan hak itu, bukan hanya dari pusat, tapi dari pinggiran negeri ini.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari kita jaga nyala semangat Ki Hadjar Dewantara bukan hanya dalam upacara dan pidato, tapi dalam langkah nyata menuju masa depan yang lebih adil dan berilmu.

 

Tentang Penulis :

Andryan Rahmana Riswandi merupakan Mahasiswa dan Pemerhati Isu Pendidikan dari Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Dengan latar belakangnya yang tumbuh dan berkembang di daerah kepulauan, Andryan memiliki pandangan mendalam mengenai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat, terutama di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Karimun. Melalui pandangannya, ia memperjuangkan pemerataan akses pendidikan, peningkatan fasilitas, perhatian terhadap guru-guru, serta dukungan terhadap pelajar berprestasi, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Sebagai seorang yang aktif mengamati dan menulis mengenai kondisi pendidikan, Andryan mengajak semua pihak untuk lebih memperhatikan kondisi pendidikan di daerah-daerah terutama daerah terpencil. Ia berharap agar Hari Pendidikan Nasional dapat menjadi momen refleksi untuk mewujudkan perubahan nyata dalam sektor pendidikan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Karimun.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Gemuruh Tinta di Selat Malaka: Merawat Warisan Kata dan Kebangkitan Literasi Negeri Junjungan

20 Sep 2026 - 06:31 WIB

Gemuruh Tinta di Selat Malaka: Merawat Warisan Kata dan Kebangkitan Literasi Negeri Junjungan

Raja Zalim

19 Sep 2026 - 09:18 WIB

Raja Zalim

KSO Bukan Peralihan Hak: Penguasaan Masyarakat dalam Kawasan Hutan Harus Diselesaikan Sesuai Tipologinya

14 Sep 2026 - 12:50 WIB

KSO Bukan Peralihan Hak: Penguasaan Masyarakat dalam Kawasan Hutan Harus Diselesaikan Sesuai Tipologinya

Awas Penyangak!

12 Sep 2026 - 08:49 WIB

Awas Penyangak!

Pemimpin Nyanyuk

5 Sep 2026 - 07:48 WIB

Pemimpin Nyanyuk
Trending di Minda