Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Kamis, 11 Juni 2026: Tanjungpinang dan Batam Berpotensi Hujan Ringan, Wilayah Kepulauan Dominan Cerah Berawan LAMR: Jangan Diamkan Pelanggaran HAM Kepada Masyarakat Adat Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai Rawit Dukung Ketahanan Pangan Bina Desa Mahasiswa PBM FIB Unilak Dalami Adat Pernikahan Mempura Siak LAMR Sambut Kehadiran BPK Riau, Perkuat Pelestarian Adat dan Budaya Melayu DPRD Batam Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Pemko Pertahankan WTP ke-14

Seni dan Budaya

Batu Hitam     

badge-check

Oleh Firma Adila

Kisah ini diawali dari seorang ibu yang sedang sibuk mencari anak anak nya, dikarenakan hari yang sudah menjelang malam, konon di desa tersebut terdapat cerita-cerita mistis yang sangat dipercaya oleh penduduk sekitar.

Di desa tersebut sangat kental akan adat dari nenek moyang mereka, seperti yang terjadi pada sore hari ini, penduduk sudah mulai ricuh memanggil anak- anak mereka untuk masuk kedalam rumah dan menutup pintu serta jendela, dikarenakan waktu senja yang dipercaya banyak makhluk makhluk halus yang berkeliaran menggoda penduduk diwaktu tersebut, dan juga banyak orang mempunyai ilmu atau biasa disebut orang pintar melepas ilmu yang tidak baik pada waktu tersebut.

Malam hari pun telah tiba, rumah-rumah penduduk desa mulai kelihatan cahaya lampu pelita, tak terkecuali di rumah keluarga kecil yang berisikan suami istri dan anak yang masih dalam kandungan. Mereka dengan asiknya duduk berbincang sambil menyantap ubi yang baru saja disajikan oleh istrinya.

“Bang, teringin hati aku nak makan burung punai, kalau tak penat bolehlah abang tolong carikan” ujar sang istri yang tengah mengidam.

“Abang bisa nyarikan burung  punai itu, tapi boleh beri abang tempo dulu waktu empat hari?, sebab abang dah ade janji nak menyaring ikan same pak ishak besok, sekurang kurangnye bisa buat beli kain bedung anak kite pas dah lahiran nanti”  ujar sang suami yang tengah mencoba memujuk sang istri

“Kalau macam tu, kenape abang tak pegi malam ni aje untuk menjerat burung , paginye bisalah abang pegi menjaring ikan tu”

“Eh dah malam ni Eni!” sanggah sang suami.

“Abang dah tak sayang dengan Eni?, kalau macam tu biar lah eni balik ke umah mak” Eni kemudian bergegas ke kamar  berniat untuk mengemas baju-baju nya.

“Iye Eni abang pegi malam ni”

Mendengar itu, sang istri tersenyum dengan sumringah, ia segera menyiapkan bekal berupa ubi rebus, Sang suami juga bergegas menyiapkan peralatan, tikar kecil, lampu lentera, peralatan pemburuan yang telah disiapkan, semua peralatan tersebut di masukkannya kedalam tas, kemudian ia pun berangkat kehutan yang berada tidak jauh di sekitaran desa.

Sesampainya ia di hutan tersebut yang di ketahui memiliki banyak burung punai yang ia inginkan, sebelum Olan memulai aksinya ia berencana untuk membuat pondok  kecil dahulu, untuk di jadikan tempat istirahatnya, ia pun bergegas mencari kayu untuk mendirikan tenda, di saat ia mencari kayu, ia menemukan sebuah batu hitam yang ukuranya sebesar kelereng, dengan rasa penasaran ia pun mengambil batu tersebut, lalu memasukkanya  kedalam saku celananya, ia berencana akan melihatnya kembali setelah ia  mendirikan tempat istirahatnya, waktu berselang Olan pun berhasil menyelesaikan tempat sebuah pondok  untuk  di jadikan istirahat ketika ia selesai berburu burung,  Ia kemudian melihat ke arah lampu lentera yang minyaknya sudah mulai mengering, ia pun bergegas menyalakan api unggun untuk di jadikan penerangan pada malam hari itu, kemudian ia memutuskan untuk istirahat sebentar.

Hal tidak diduga terjadi, sesuatu datang menghampiri pondok Olan kemudian menggoyangkannya, Olan tersadar lalu ia bergegas keluar untuk melihat apa yang telah menggoyangkan pondoknya, Olan tersentak kaget ketika melihat sesuatu yang besar hitam dan tinggi tengah berada didepanya, tidak ada cara lain selain ia berlari untuk menghindari makhluk tersebut. Setelah sekian lama ia berlari, Olan merasa kalau ia berada ditempat yang sama, ia mencoba lari lagi dari berbagai arah dan hasilnya ia tetap berada ditempat yang sama, dengan semangat pantang menyerah ia mencoba berjalan lagi untuk mencari jalan keluar, tak lama Olan menemukan rumah tua, ia sangat bahagia mengira bahwa ia telah sampai disebuah perkampungan, ia segera mempercepatkan jalanya, namun seseorang memegang pundaknya, Olan kemudian berbalik dan kaget mendapati seorang laki laki tua dan bungkuk tengah menatapnya dengan lekat dan berkata

“Ape hajat engkau kemari?” ujarnya dengan nada datar.

“Awalnye saye cume nak mencari burung tok, tapi saye tersesat”

“Sekirenye tak ade gune, balekkan hal yang tak mestinye kau simpan dan jalan lah lurus kedepan” ujar lelaki tua itu kemudia ia memasuki kedalam rumah meninggalkan Olan. Olan mengingat bahwa  ia perna mengambil batu hitam kecil, ia mencoba merogoh sakunya dan mendapati batu itu masih ada, ia kemudian berbalik dan berjalan lurus kearah depan tak berselang lama ia mendapati pondok nya, dan meletakkan barang tersebut kembali ketempat ia temui, tak lama ia mendengar suara yang memanggilnya, lama kelamaan suara itu semakin banyak, ia berlari mendekati suara itu dan tampak lah gerombolan oraang kampung yang mencarinya, dari dalam gerombolan keluarlah sang istri yang langsung memeluk Olan, ia menangis dan mengatakan bahwa Olan sudah tiga hari belum kembali, Olan sontak kaget mendengar pernyataan tersebut, membuat ia bertanya tanya bagaimana ia bisa selama itu dihutan ini, pertanyaan nya terhentikan disaat kepala suku didesa itu mengajak masyarakat yang ada disitu untuk pulang dan menyuruh Olan untuk menceritakan semua hal yang telah ia alami  ketika ia sampai didesa nanti.

Firma Adila adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nadim Festival Obati Kerinduan Event Sastra di Batam

8 April 2026 - 15:49 WIB

Penyair Bintan Erizal Norman Pukau Delegasi Asia Tenggara di Nadim Festival 2026

5 April 2026 - 15:28 WIB

Rumah Budaya Tengku Mahkota Wakili Indonesia Ikut Simposium Bangsawan Nusantara di Perak

29 September 2025 - 11:00 WIB

PPN XIII Jakarta: Puisi Menjalin Persaudaraan Asia Tenggara, Ini Sejarahnya

6 September 2025 - 14:39 WIB

Budaya Melayu, Superego Kultural yang Mulai Dilupakan

2 September 2025 - 14:02 WIB

Trending di Seni dan Budaya