Oleh Hang Kafrawi
Segala yang diciptakan di alam raya ini oleh Sang Maha Pencipta merupakan jalan bagi manusia untuk mencapai kemuliaan. Tentu saja kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan yang mendapat ridho dari Sang Maha Pencipta. Sebagai khalifah di muka bumi ini, manusia diberi fasilitas lebih, terutama pikiran dan perasaan, oleh Sang Maha Pencipta untuk memanfaatkan segala ciptaanNya yang lain. Manusia benar-benar dimajakan oleh Allah dan konsekuansinya adalah ketika manusia menyalahi aturan yang telah ditetapkan, maka azablah balasannya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya bagi manusia taat dengan aturanNya, balasannya pula kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Segalanya ditentukan oleh manusia dan Allah hanya mempertegaskan apa yang diusahakan oleh manusia di kehidupannya.
Meyakini bahwa segala yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta untuk kepentingan manusia, orang-orang terdahulu (manusia yang hidup di zaman purba) memperlakukan makhluk lain (hewan, tumbuhan, dan bahkan mahkluk halus) dan benda-benda yang ada di sekelilingnya sebagai diri mereka sendiri. Selain itu, segala makhluk dan benda-benda di sekeliling mereka merupakan perwujudan jalan penyerahan diri kepada Sang Maha Pencipta. Penyerahan diri ini dilakukan agar Sang Maha Pencipta tidak murka.
Berdasarkan pandangan inilah, manusia terdahulu sangat memuliakan makhluk dan benda-benda yang ada di sekeliling mereka. Segala kegiatan yang dilakukan manusia masa lalu selalu menghormati apa-apa yang menjadi penunjang kehidupan mereka. Keharmonisan antara manusia dengan mahkluk dan benda yang diciptakan Sang Maha Kuasa terjalin dengan baik. Merusak yang lain berarti merusak diri manusia itu sendiri dan Sang Maha Kuasa akan memunculkan kemurkaanNya lewat alam. Makanya manusia masa lalu memanfaatkan alam sesuai keperluan, tidak berlebih-lebihan.
Mempertimbangkan keselarasan keperluan mereka dengan mahkluk dan benda-benda yang ada di sekeliling mereka, orang masa lalu menghormati dengan melaksanakan berbagai ritual. Pada ritual-ritual penghormatan inilah, orang masa lalu menggunakan bahasa lisan untuk memuji segala mahkluk dan benda-benda. Agar komunikasi berjalan lancar, maka dipilihlah orang ‘pintar’ yang mampu berkomunikasi dengan mahkluk dan benda-benda yang ada di sekeliling mereka. Orang pintar inilah yang disebut dukun atau bomo menjadi ‘penyambung lidah’.
Dalam berkomunikasi ini, dukun atau bomo menggunakan kata-kata pujian yang kaya akan makna. Selain mengandung makna yang kuat melalui metafora, kekuatan bunyi dari kata-kata tersebut juga menjadi penting. Kekuatan bunyi dari kata-kata yang dipilih melahirkan suasana yang diyakini mampu membuka ruang komunikasi yang lebih akrab; suasana magis.
Media bahasa dengan kata-kata pilihan untuk menghasilkan bunyi dan menciptakan suasana magis yang digunakan dukun, bomo, atau pun pawang untuk berkomunikasi dengan makhluk lainnya, pada hari ini lebih dikenal dengan nama mantra. Mantra diyakini oleh orang masa lalu dan sebgaian orang masa kini, merupakan jalan komunikasi hati yang diyakini mampu menggugah alam.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mantra diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.
Mantra, sebagai bentuk ekspresi spiritual, tidak hanya sekadar bunyi-bunyi yang diucapkan dalam ritus dan upacara, melainkan juga merupakan pancaran keyakinan yang sangat dalam dari jiwa manusia terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Kata-kata dalam mantra sering kali memuat harapan, permohonan, perlindungan, bahkan pengakuan dosa secara tersirat. Dalam praktiknya, mantra bukan semata-mata instrumen magis, tetapi juga mengandung nilai-nilai etika dan estetika yang tinggi. Mantra adalah puisi suci yang mengalir dari hati manusia untuk menyapa semesta.
Kehadiran mantra dalam kebudayaan Melayu, misalnya, mencerminkan bagaimana orang Melayu menjaga hubungan spiritual antara manusia dan alam. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional, mantra hadir dalam pelbagai bentuk: dari menyembuhkan penyakit, mengusir hujan, hingga memohon hasil panen yang melimpah. Semua itu menunjukkan betapa kuatnya keterhubungan antara manusia, bahasa, dan alam semesta. Bahasa dalam mantra tidak bisa dipahami secara harfiah semata, tetapi harus ditafsirkan sebagai upaya spiritual untuk mengharmoniskan hubungan dengan yang gaib dan yang nyata.
Mantra-mantra juga mengajarkan manusia untuk rendah hati di hadapan segala sesuatu. Dalam setiap bunyi yang dilantunkan, ada rasa takut, harap, kagum, dan cinta kepada Yang Maha Kuasa. Mantra bukan hanya sarana, tetapi juga jalan: jalan yang sunyi dan penuh penghayatan, tempat di mana manusia mencoba menyelami misteri ciptaan Allah. Inilah sisi batiniah dari mantra, ia bukan untuk disombongkan atau dipertontonkan, tetapi untuk diamalkan dalam keheningan dan kejujuran hati.
Dalam banyak masyarakat adat, sebelum memulai sesuatu yang besar, seperti menebang pohon, membuka ladang, atau melaut, orang-orang tua akan memanjatkan mantra. Tindakan ini bukan semata-mata tradisi, tetapi bentuk kesadaran bahwa segala sesuatu di alam ini memiliki ruh, dan tidak boleh diperlakukan semena-mena. Ada tata krama spiritual yang diajarkan lewat mantra: bahwa hidup bukan soal mengambil, tapi juga soal menghormati dan mengembalikan. Mantra, dalam bentuk inilah, menjadi guru yang membimbing manusia agar tidak serakah.
Di zaman modern yang serba rasional ini, banyak yang mencibir mantra sebagai warisan masa lalu yang tak relevan. Namun, sesungguhnya, di balik mantra terkandung filsafat hidup yang dalam: bagaimana manusia menjaga sikap terhadap sesama makhluk, menjaga lisan, dan bersikap rendah hati dalam meminta. Justru dalam dunia yang kehilangan makna karena tergesa dan tergoda oleh kecepatan, mantra bisa menjadi ruang jeda untuk kembali mengingat bahwa manusia bukan penguasa segalanya, melainkan hanya bagian kecil dari ciptaan.
Mantra bukan sekadar susunan kata-kata puitis berisi pujian dan permohonan. Mantra adalah bentuk keyakinan hati. Mantra adalah zikir leluhur yang tercipta dari penghayatan mendalam akan kehadiran Sang Maha Kuasa dalam setiap denyut kehidupan. Melalui mantra, manusia purba dan tradisional telah mengajarkan kita cara memuji Tuhan dengan tulus, dengan cara mereka sendiri: lembut, penuh hormat, dan menyatu dengan alam. Mantra adalah jalan jiwa untuk mendekat, menyapa, dan mengagungkan Sang Pencipta, dengan bahasa yang lahir dari cinta.
Namun hari ini, dunia telah berubah. Alam yang dahulu dihormati kini diperlakukan sebagai barang dagangan. Gunung digali, sungai dikotori, hutan dibakar demi keuntungan sesaat. Manusia modern, yang mengaku paling berakal, justru kehilangan hikmah dalam memperlakukan semesta. Mereka tidak lagi berkomunikasi dengan alam, tidak lagi menyapa makhluk lain dengan hormat. Mereka hanya tahu mengambil, menaklukkan, dan menguasai. Di tengah kerakusan itulah, mantra harus dihadirkan kembali, bukan sekadar sebagai ritus, melainkan sebagai perlawanan spiritual terhadap keserakahan.
Mantra mesti dibangkitkan kembali sebagai ingatan kolektif bahwa manusia hidup bersama, bukan di atas segala ciptaan. Di balik setiap bunyi mantra ada kesadaran bahwa bumi bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan yang mesti dijaga. Setiap kali bumi dilukai oleh tangan-tangan serakah, setiap kali sungai menghitam dan udara mengandung racun, kita perlu kembali ke akar: menyebut satu per satu nama yang kita lupakan, menyapa tanah, batu, angin, dan pohon, dan memohon maaf melalui suara hati. Itulah fungsi mantra hari ini, menghidupkan kesadaran dan membangkitkan keberanian untuk menolak kerakusan.
Dalam konteks inilah, mantra menjadi bahasa perlawanan. Mantra bukan hanya puisi sakral, tetapi juga teriakan sunyi dari jiwa-jiwa yang masih waras di tengah zaman yang menggila. Ketika hukum tak berpihak pada alam, ketika korporasi menjadi tuan atas kehidupan, maka mantra yang lahir dari batin yang bersih bisa menjadi doa perlawanan. Kita memerlukan kembali para penjaga bumi, bukan hanya dengan cangkul dan kampanye, tapi juga dengan kekuatan kata-kata yang lahir dari hati, sebagaimana leluhur kita dulu menjaga semesta dengan suara suci: mantra.
Dalam tiap desah angin dan bisik daun, mantra bisa dibisikkan kembali. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan. Bukan untuk memamerkan kuasa, tapi untuk menghidupkan rasa. Mantra adalah nyanyian lembut yang mengingatkan bahwa kerakusan membawa celaka, dan harmoni adalah keselamatan. Di sinilah mantra bukan hanya warisan, tetapi senjata spiritual melawan dunia yang sedang sekarat karena manusia telah lupa pada asal-muasal kehidupannya.
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK.









