Golak tabayak….
Ota balauk….
Bahaso saisuak….
ITULAH yang jadi ciri khas Maas Lubis beken disapa Mister Lubis. Dan, ciri itu melekat dalam kesehariannya.
Bahasa yang dipakainya setiap “maota lomak’ (cerita sedap) banyak yang tak dipahami. Apalagi oleh generasi zaman now. Sebab, selain jarang terdengar bahasa itu sudah ketinggalan zaman dan sulit dimengerti.
Tapi di situlah seni seorang seniman tradisional dalam berbahasa. Semakin orang bingung, otanya (cerita) makin balauk (sedap). Golaknya (tertawa) pun makin tabayak (tercurah).
Itulah yang menyebabkan suami dari Rosmawati ini diterima disemua golongan. Pergaulannya tidak dibatasi usia, ruang dan waktu.
Pria kelahiran 23 April 1963 serba bisa. Olahraga oke, dia punya Gelanggang Olah Raga (GOR) sendiri. Kesenian dan budaya oke buanget. Pokoknya kemari jadi.
Di bidang kesenian dia sekarang guru seni tradisional di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Dari tangan dingin Mister Lubis banyak talenta muda di Kuantan Singingi yang sudah manggung.
Sebut saja Eri Patopang dan Ery Tanjung “Kamari Jadi” dari Desa Pulau Komang Sentajo. Groub ini terkenal dengan hitnya “Lontong Sate” laris manis di pasaran.
Kemudian Ajab dan Ramlis “Bintang Kejora” dari Desa Muaro Sentajo. Terkenal dengan lagu hitsnya “Kasih Abi Sayang Tak Ilang (Biduak Tiri). Yang lain ada Agut, Suparmi dan Kirit dari Kenegerian Kopah, Yus Aau dan Ali Baba dari Pulau Kopung
Hanya Joni Cafe dan Jumas “Perintang Hati” yang tak mendapat sentuhan tangan dinginnya. Kedua pelaku seni dari Kopah ini dibina langsung seniman kondang Sentajo, Suwito yang akrab disapa Mak (paman) Suwi.
Lagu “Tasimbaba” ciptaan Joni Cafe meledak di pasaran. Konon sampai saat ini sudah dicetak satu juta copy yang beredar sampai ke Mancanegara.
Seniman Sentajo Mamak Suwi menyebut Mister Lubis ibarat Rano Karno di Betawi. Dia sudah berbuat ketika orang lain masih berpikir.
Ayah dari Ramayana, Popi, dan Maigi Fikri kata Mak Suwi punya motto sama dengan Pegadaian. Yakni: menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Menurut Mak Suwi, Mister Lubis cocok jadi Kepala Desa. Sayang dia terlalu baik terhadap semua orang. “Saat ini orang baik itu tidak disukai orang pula,” kata Mak Suwi tersenyum.
Lalu baiknya Mister Lubis menjadi apa? “Dia cocok jadi dirinya sendiri,” tambah Mak Suwi.
Suksis Mister.
*) penulis: Sahabat Jang Itam








