Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Kamis, 11 Juni 2026: Tanjungpinang dan Batam Berpotensi Hujan Ringan, Wilayah Kepulauan Dominan Cerah Berawan LAMR: Jangan Diamkan Pelanggaran HAM Kepada Masyarakat Adat Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai Rawit Dukung Ketahanan Pangan Bina Desa Mahasiswa PBM FIB Unilak Dalami Adat Pernikahan Mempura Siak LAMR Sambut Kehadiran BPK Riau, Perkuat Pelestarian Adat dan Budaya Melayu DPRD Batam Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Pemko Pertahankan WTP ke-14

Ragam

Merawat Tuah Mendunia Pacu Jalur Kuantan Singingi

badge-check


					Sona Adiansyah, S.Kom.I Perbesar

Sona Adiansyah, S.Kom.I

VIRALNYA aksi joget di atas perahu yang di gagas budak bertuah Rayyan Arkha Dhika. Bertajuk, “Aura Farming”. Menjadi titik tolak bahwasanya, keanekaragaman budaya di Provinsi Riau sangatlah beragam.

Berawal, bagaimana kebiasaan sehari-hari bagi masyarakat lokal di Provinsi Riau. Berdampingan dengan alamnya. Bahkan, di level ciri khas kebudayaan Melayu Riau yang berbeda dengan Kepulauan Riau (Kepri) meski aslinya berstatus kakak adik. Sebaliknya, daerah lain seperti Bangka Belitung, Aceh, Palembang, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan lain-lain. Meski, masih bisa di asumsi satu rumpun. Akan tetapi, dari corak bahasa di Riau beragam jenis Melayu.

Faktor itu di pengaruhi oleh adanya trans lokal yang telah sejak lama mengais rezeki di provinsi ini sebelum pra kemerdekaan Indonesia tiba. Misalnya, keberadaan pacu jalur di Kuansing (Kabupaten Kuantan Singingi). Sebenarnya, di tempat lain budaya pacu jalur tersebut ada. Bahkan, di belahan negara lain juga ada. Namun, sebagai titik pembedanya. Apa, yang telah di gagas oleh budak bertuah Rayyan Arkha Dhika. Merupakan tuah yang memang selalu hidup di bumi Melayu Riau. Bahkan, sebagian beranggapan itu sesuatu yang sakral. Memiliki daya magis supranatural yang kuat. Serta, berkaitan erat dengan unsur – unsur keislaman yang melekat dalam adat istiadat maupun budaya masyarakat Kuansing Riau itu sendiri di kehidupan sehari-harinya.

Mengingat, lokasi pelaksanaan pacu jalur tersebut hampir bisa di katakan berdekatan langsung dengan daerah Pangean. Siapa yang tidak mengenal dengan daerah Pangean yang sama-sama banyak di kenal oleh berbagai dari mancanegara.

Pusat lahirnya pencak silat ilmu bela diri Pangean, dalam miniatur khazanah warisan besar kebudayaan Melayu Riau.

Singkat cerita, mari kita sama-sama menjaga adat maupun budaya di daerah kita masing – masing. Khususnya, di Provinsi Riau. Semoga, takkan lekang di telan oleh zaman.

Bahwasanya, apa yang di sebut bumi bertuah, tanah bertuah, kota bertuah, daerah bertuah dan budak bertuah. Semuanya memang telah sejak lama di wariskan oleh Datuk Laksamana Hang Tuah. Sebagai, payung identitas diri dan kualitas suku maupun bangsa Melayu serumpun di Lancang Kuning.

Tanjak ksatria, keris kejantanan, kuning keramat, baju kurung adab dan adat Ilahiyah. Serta, kain songket di pinggang pantang pulang di medan laga maupun perang.

 

Penulis Sona Adiansyah, S.Kom.I Pemuda Melayu Kecamatan Pulau Burung Indragiri Hilir Riau.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pasar Sosial

7 Juni 2026 - 06:36 WIB

Hanya Padamu Cinta Ini Kuabadikan

30 Mei 2026 - 00:27 WIB

Tangan yang Dulu Merangkulku

23 Mei 2026 - 14:46 WIB

Di Balik Jendela Bersama Buku Jurnal

9 Mei 2026 - 00:15 WIB

Misni Resmi Jadi Sekda, Tonggak Baru Kepemimpinan Perempuan di Kepri

28 April 2026 - 07:53 WIB

Trending di Ragam