RiauKepri.com, TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat, yang selama ini dikenal sebagai pusat warisan budaya Melayu, kembali menjadi sorotan nasional. Senin (28/7/2025), dua pejabat tinggi negara, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Wamenko Polhukam) RI Letjen TNI (Purn) Lodewick Freidrich dan Plt Wakil Jaksa Agung RI Prof. Dr. Asep Nana Mulyana, melakukan kunjungan khusus ke pulau bersejarah di Tanjungpinang tersebut.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari penguatan sinergi antara nilai budaya dan pembangunan hukum berbasis kearifan lokal. Didampingi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, para pejabat menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga, termasuk situs-situs penting seperti Masjid Raya Sultan Riau, makam Raja Ali Haji, hingga Rumah Perdamaian Adhyaksa yang menjadi simbol pendekatan hukum restoratif.
“Penyengat bukan hanya warisan sejarah, tapi juga teladan hidup bagaimana hukum dan budaya menyatu membentuk masyarakat yang berkeadilan,” ujar Prof. Asep Nana Mulyana. Ia menekankan pentingnya menjadikan hukum adat dan nilai lokal sebagai referensi dalam pembangunan hukum nasional yang lebih humanis.
Sementara itu, Letjen TNI (Purn) Lodewick menilai bahwa Pulau Penyengat merepresentasikan semangat kebangsaan dalam keberagaman. “Kami melihat semangat pelestarian budaya di sini selaras dengan nilai-nilai kebangsaan. Ini bisa menjadi model bagi daerah lain,” tuturnya.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyambut hangat kedatangan kedua pejabat tersebut. Ia menyatakan bahwa Penyengat adalah pusaka bangsa yang harus terus dihidupkan, tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga sebagai ruang edukasi kebangsaan dan hukum adat.
Kehadiran Rumah Perdamaian Adhyaksa yang berdampingan dengan Balai Adat Melayu juga menjadi sorotan penting. Tempat ini merefleksikan pendekatan penyelesaian hukum yang lebih mengedepankan musyawarah, nilai kekeluargaan, dan keadilan restoratif yang telah dipraktikkan sejak zaman kesultanan.
Kunjungan ini turut dihadiri oleh Kepala Kejati Kepri Jehezkiel Devy Sudarso beserta jajaran, yang mendampingi rangkaian kegiatan. Kegiatan ini mempertegas komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga nilai-nilai warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
Pulau Penyengat kini tak hanya menjadi destinasi sejarah, tetapi juga menjadi laboratorium hidup bagi integrasi budaya dan hukum, demi Indonesia yang beradab dan berkeadilan. (RK9)
Editor: Dana Asmara







