MIMPINYA untuk meraih gelar serjana di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta pupus dan tinggal kenangan.
Situasi politik dan keamanan yang tak “bersahabat” kurun waktu 1963-1965 menyebabkannya dirinya “angkat kaki” pulang kampung.
Hati kecilnya masih berkata. Bila kelak situasi aman, dia kembali lagi ke Yogyakarta menyelesaikan kuliahnya yang tertunda. Tapi, takdir berkata lain. Situasi Yogyakarta malah makin kacau. Puncaknya adalah pecahnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 di yang dikenang sebagai G30S/PKI.
Akibat peristiwa itu Komandan Korem 072/Pamungkas, Kolonel Katamso Darmokusumo dan Kepala Staf Korem 072/Pamungkas Letkol Raden Sugiyono Magunwiyoto gugur.
Jenazah mereka ditemukan di sebuah lubang bersama di Kentungan, Yogyakarta. Kemudian pada 22 Oktober 1965 jenazah mereka dimakamkan di TMP Semaki Yogyakarta.
- Keluarga Besar Asdiman
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahkan mereka sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 118/KOTI/ 1965 tertanggal 19 Oktober 1965.
Pangkat mereka secara anumerta dinaikan satu tingkat menjadi Brigjen TNI Anumerta Katamso Darmokusumo dan Kolonel TNI Anumerta Raden Sugiyono Magunwiyoto
Kekacauan dan kepanikan akibat G30S/PKI itulah yang dialami Asdiman ketika menimba ilmu di Yogyakarta. Tak tahan, ia pulang kampung ke “Kota Jalur” Taluk Kuantan untuk menenangkan diri.
Setelah kondisi aman Asdiman berniat kembali melanjutkan kuliahnya yang tertinggal di kota Gudeg tersebut. Namun nasib berkata lain.
Di Taluk Kuantan sebelum jadi guru, Asdiman sempat kerja serabutan selama tiga tahun (1965-1968). Tentu, pelbagai pekerjaan dilakukannya untuk mengisi waktu. Pada akhirnya penantian itu tiba. Ia diterima jadi guru honor di Mualimin Taluk Kuantan dan sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 Tahun Sentajo.
Rekan Asdiman sesama mengajar di PGAN 4 Tahun Sentajo di antaranya adalah Masran Ali, Alwis Madir, Nursulin, Abbas, Jomaris, dan Arjasita. Dia mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris.
Di Sentajo pula Asdiman menemukan benih-benih cinta dan melupakan sejenak Yogyakarta kota impiannya. Ia bertemu dengan tambatan hati pujaan kasihnya Nuraini. Putri keempat dari tujuh bersaudara pasangan Hamzah dan Lama yang lahir pada 27 Oktober 1949 adalah guru di SD Negeri 1 Sentajo.
Pada akhirnya sang pujaan hati itu dipersuntingnya jadi istri pada 19 Februari 1970. Acara pernikahan itu berlangsung di Desa Kampung Baru Sentajo.
Sejumlah kerabat, rekan seperjuangan sesama guru termasuk saudara kandung istrinya: Lukman, M. Yunus, Martius, Hamzili, Badrun, dan Yulkusni hadir pada acara penuh bahagia itu.
Pernikahan penuh cinta itu mereka punya lima orang anak. Yakni Andi Jawaher lahir pada 1970, Anton Suryadi (1973), Endang Hidayati (1975), dan Diana Fitriani (1977). Kini semuanya sudah mandiri.
Meninggalkan PGA
ENAM tahun lamanya Asdiman mengabdi di PGAN 4 Tahun Sentajo (1968-1974). Pada tahun ketujuh, Asdiman mendapatkan SK pengangkatan sebagai guru di SD Negeri Pulau Palas, Indragiri Hilir (1975-1977). Dua tahun di Pulau Palas, dia pindah ke SD Negeri 01 Langsat Hulu, Kecamatan Kuantan Tengah, Indragiri Hulu.
Kini SD tersebut sudah bergabung dengan Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi. Di sini dia menjabat sebagai Kepala Sekolah kurun waktu 1977-1987.
Kemudian dia pindah dan jadi Kepala SD Negeri 3 Sentajo di Desa Pulau Kopung (1987-1994). Tugasnya berakhir sebagai Kepala SD Negeri 020 Talontam, Kecamatan Benai pada (1994-2002) golongan IV/b.
Sang istri tercinta Nuraini pernah mengajar di SD Negeri 1 Sentajo kini SD Negeri 020 Kampung Baru Sentajo (1973-1982 dan 1983 dan 2000). Kemudian pindah ke SD Negeri 01 Desa Langsat Hulu (1982-1983).
Kemudian pada 2001-2006 jadi Kepala SD 021 Negeri Pulau Komang Sentajo. Dia sempat dua tahun menjadi Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 020 Kampung Baru Sentajo (2001-2002). Terakhir pensiun sebagai guru kelas Golongan IV/b di SD Negeri 024 Koto Sentajo tahun 2010
Pengalaman panjang, dedikasi, loyalitas, dan pengabdiannya sebagai guru kini dilanjutkan dua putri tercintanya. Endang Hidayati (SMP Negeri 1 Sentajo Raya) dan Diana Fitriani (SMA Negeri 1 Benai).
Sementara dua lainnya bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi yakni Andi Jawaher (Dinas Pertanian) dan Anton Suryadi (Satpol PP).
Selain menjalani profesi sebagai guru, Asdiman dikenal seorang penceramah/ustadz yang cukup kondang di Kabupaten Kuantan Singingi.
Pengalaman selama menuntut ilmu di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga memberinya bekal dalam menyampaikan pencerahan rohani kepada ummat dan umarah. Dia juga mengajar ngaji di Surau Pulai Babul Khairat Desa Kampung Baru Sentajo.
Dibayar Tuntas
ASDIMAN terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara pasangan M. Yaman dan Jadi Aminah pada 21 September 1942 di Teluk Kuantan. Saudaranya yang lain adalah: Mustari dan Ahdis Neni. Ayahnya M. Yaman bekerja sebagai PNS. Sedangkan ibunya Aminah adalah ibu rumah tangga biasa.
Asdiman menamatkan SR tahun 1949 di Teluk Kuantan. Lalu melanjutkan ke Mualimin Telukkuantan 1949-1955. Kegagalan menyelesaikan kuliah di UGM Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1963-1965) dibayar tuntas anak bungsunya Diana Fitriani yang akrab disapa Fitri. Fitri kuliah di Fakultas MIPA Jurusan Kimia, UGM Yogyakarta (1996 – 2002).
Sebelum menjadi “Cik Gu” di SMA Negeri 1 Benai, Fitri pernah bekerja sebagai peneliti di labor Dinas Pertambangan Kuantan Singingi (2002 s.d. 2004).
Fitri juga nyambi sebagai guru bantu di SMA Negeri 1 Kuantan Mudik setelah mengambil akta IV di Universitas Riau, Pekanbaru, lokasi di SMK Negeri 1 Teluk Kuantan (2003). Akta IV itu tiket mengikuti tes jadi guru.
Dan, ketika ada test formasi guru, Fitri ikut test. Ia lulus tahun 2006. Lalu berdasarkan SK Nomor 813.3/BKD-02/2007/27 tertanggal 20 Maret 2007 ia diangkat jadi CPNS.
Kemudian berdasarkan SK PNS Nomor 820/Dikpora-kp/104 tertanggal 8 Januari 2009 ia diangkat sebagai PNS di SMA Negeri Benai. Sampai sekarang ia tunak menjalani profesi yang dicintainya itu.
“Tak tergoda lagi jadi peneliti, Fit?”
Fitri hanya tersenyum. “Aku bangga menjadi guru bisa mewarisi pekerjaan kedua orang tuaku,” ujar Fitri tersenyum. Lagian katanya di atas dunia ini hanya ada dua profesi yakni guru dan bukan guru.
Kalaupun ada profesi lain selain guru, profesi itu lahir karena adanya peran guru. “Betulkan…? Ayoooo renungi….!” katanya tersenyum manis. Semanis cintanya kepada anak didik dan keluarganya.
Lalu ketika ditanya kunci sukses menjadi seorang guru, Fitri menjawab, Pilihlah satu di antara dua ini: “Jadilah guru” atau “jadi gurulah.”
Maksudnya….?
“Tanyalah kepada guru yang mengajar dengan hati, bukan emosi, pasti dia bisa menjawab, yang jujur” elaknya. Ehmmm……
Ayah Displin
ASDIMAN meninggal dunia pada 27 Februari 2006. Dikebumikan di Desa Kampung Baru Sentajo. Kepergiannya tentu meninggalkan duka dan kenangan bagi anak-anaknya. Dimata anak-anaknya, ayah mereka adalah sosok disiplin, jujur, Ikhlas, pekerja keras, pantang menyerah, penyayang, dan peduli.
Setiap menghadiri acara selalu hadir tepat waktu. Bahkan lebih awal dari jadwal. Ciri itu melekat pada diri sang ayah. Gampang diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan.
Dari anaknya Asdiman sudah mendapatkan delapan orang cucu. Dari anaknya Andi Jawaher – Indrawati, cucu adalah: Indriani Asyura dan Ardiansyah. Kemudian dari Anton – Felda lahir: Aftahnia Rindu Faizah. Dari Endang Hidayati – Yasmidi lahir Annisa Septia Mulyani dan Olivia Zahra Ramadhani. Dari Diana Fitriani – Wandri lahir: Muhammad Bail Rafif, Amira Kaisah Aqilah, dan Muhammad Alfaqih.
Selamat jalan Ayah…
Jasamu tidak akan bisa kami bayar….
“Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang luput dari segala salah dan silap. Jika ayah Ayah kami salah dan silap, tolong maafkan,” ujar Diana Fitriani penuh harap.
Penulis: Sahabat Jang Itam: 04-09-2025








