RiauKepri.com, PEKANBARU – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning sukses melaksanakan Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang bertajuk Metagames Nusantara: Strategi Kreatif dalam Pelestarian Sastra Lisan Kampar bagi Gen-Z melalui Komunitas Seni Budaya Nolam Bungo. Program ini bertujuan mendampingi Komunitas Seni Budaya Nolam Bungo sebagai mitra untuk menggaet Gen-Z dalam upaya pelestarian sastra lisan nolam di Kabupaten Kampar, Riau.
Program ini berlangsung selama dua bulan dari Juli hingga September. Kegiatan dimulai dari sosialisasi kepada mitra Komunitas seni budaya Nolam Bungo dan juga generasi muda atau Gen-Z di desa Teratak, kecamatan Rumbio jaya, Kampar pada bulan Juli 2025. Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memperkenalkan rencana kegiatan PKM sekaligus mengajak masyarakat dan juga generasi muda untuk bergabung dan menjadi bagian dalam program ini dan bersama-sama mendukung pelestarian manolam. Tradisi manolam berada diambang punah karena jumlah maestro yang semakin berkurang, kondisi naskah yang semakin kritis dan terhentinya proses regenerasi. Jika upaya pelestarian tidak dilakukakan maka khawatirnya, tradisi ini akan hilang tak terselamatkan.
Komunitas Nolam Bungo hadir dalam misi pelestarian dan pengembangan tradisi lokal Kampar. Namun, mereka terkendala dalam menyusun program yang menarik bagi Gen-Z. Padahal Gen-Z adalah generasi potensial dalam mengemban peran pelestari. Oleh karena itu, Tim PKM PM Metagames Nusantara yang diketuai oleh Mutiara Sri Wulandari (mahasiswa Prodi Sastra Indonesia) Menyusun program yang mereka beri nama Metagames Nusantara (Megantara).
Kegiatan utama dalam program PKM-PM Megantara ini memiliki empat misi utama, yang mana di setiap misinya diselipkan permainan tradisional Nusantara agar kegiatan lebih interaktif dan diminati oleh peserta. Misi 1 dimulai dengan mengajak Gen-Z untuk mengetahui pengertian dan sejarah perkembangan manolam, yang dipadukan dengan permainan tradisional petak umpet. Dalam permainan tersebut, peserta diberi tantangan untuk menyebutkan fakta-fakta tentang sejarah manolam atau melantunkan lirik syair manolam dengan irama khasnya sebelum melanjutkan permainan. Cara ini menjadikan suasana lebih hidup dan juga interaktif, sekaligus menanamkan nilai budaya dengan cara yang menyenangkan.
Misi 2 berfokus pada pengenalan pewarisan dan pelestarian manolam. Kali ini peserta diajak untuk memahami bagaimana tradisi ini diwariskan secara lisan atau dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, serta pentingnya peran anak muda khususnya Gen-Z dalam menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan zaman. Untuk membuat kegiatan lebih menarik, pembelajaran ini dipadukan dengan permainan tradisional gobak sodor atau galah panjang. Setiap kali peserta berhasil melewati garis lawan, mereka diminta untuk melantunkan syair atau menyebutkan cara pelestarian manolam. Dengan demikian, permainan tidak hanya menumbuhkan kekompakan dan rasa kebersamaan, tetapi juga menguatkan kesadaran mereka akan pentingnya menjaga kelestarian tradisi dan budaya yang ada.
Misi 3 menggunakan permainan tradisional setatak. Pada misi ini, peserta ditantang untuk mencoba menuangkan ide mereka dalam penulisan lirik manolam mereka sendiri dengan panduan dari tim PKM dan komunitas. Setiap kelompok membuat bait demi bait syair sederhana sesuai tema yang diberikan, lalu membacakannya sebelum melanjutkan giliran dalam permainan setatak. Metode ini membuat peserta tidak hanya menjadi pendengar dan pelantun syair, tetapi juga kreator dan penulis yang ikut serta dalam melahirkan syair baru nolam.
Misi 4 dipadukan dengan permainan otak-otakan. Dalam misi ini, peserta diajak menguji sejauh mana pemahaman mereka tentang manolam sejak kegiatan PKM dimulai. Pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah, nilai, serta bentuk pelestarian manolam dijadikan tantangan dalam permainan. Hasilnya, terlihat bahwa pemahaman Gen-Z semakin bertambah dan mereka semakin mengenal tradisi ini lebih jauh.
Kegiatan kemudian ditutup dengan acara malam puncak yang digelar pada hari Jum’at 5 September 2025 bersamaan dengan acara peringatan Maulid Nabi di Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kampar. Pada malam tersebut, para peserta tampil melantunkan syair nolam di hadapan masyarakat. Selain itu, Gen Z juga menampilkan sebuah pertunjukan teater sederhana yang menggabungkan syair manolam dengan gambaran kehidupan mereka. Teater itu menceritakan perjalanan generasi muda yang awalnya enggan untuk belajar tradisi manolam, namun akhirnya berubah menjadi semangat untuk belajar setelah merasakan sendiri keindahan dan nilai yang terkandung dalam manolam. Pertunjukan ini berhasil membawa penonton ikut merasakan betapa pentingnya manolam bagi mereka sekaligus memberi harapan bagi kelestarian tradisi yang penuh akan petuah dan juga nasihat ini.
Kepala Desa Teratak yang ikut hadir dan menyaksikan acara malam puncak memberikan apresiasi besar terhadap inisiatif mahasiswa ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu dalam pelestarian manolam sekaligus memberikan ruang baru bagi generasi muda Desa Teratak untuk ikut dan terlibat langsung dalam pelestarian manolam. “Kami merasa sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Untuk ke depan, pihak desa akan memfasilitasi generasi muda yang mau melestarikan tradisi dan budaya setempat, agar manolam tidak hilang dan tergerus zaman,” tegasnya.
Rifki, salah seorang peserta Gen-Z juga menyampaikan kesan positifnya. Menurutnya, kegiatan ini sangat menarik sekaligus menyenangkan. “Kami mengucapkan terima kasih kepada tim PKM yang sudah berkenan untuk mengajak kami mengenal dan belajar manolam lewat cara yang menyenangkan, yaitu memadukan pembelajaran dengan permainan tradisional. Jadi kami tidak merasa bosan dan jenuh saat belajar, dan juga kami jadi tahu apa itu manolam, bagaimana membacakan liriknya, dan kenapa tradisi ini penting untuk dijaga,” ucapnya penuh antusias.
Program ini diharapkan bisa terus berlanjut, tidak hanya sebatas kegiatan mahasiswa, tetapi juga menjadi gerakan bersama masyarakat dan juga generasi muda untuk menjaga dan menghidupkan kembali manolam sebagai warisan budaya yang sangat berarti bagi Kampar.
Penulis Fadhil Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Melayu, FIB Unilak







