Menu

Mode Gelap
Cuaca Kepri Sabtu 6 Juni 2026 Didominasi Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah APKASINDO Apresiasi Afni, Annisa dan Zukri, Perjuangan Kepala Daerah Dongkrak Harga TBS Petani Kades Ulu Maras Apresiasi Program Jumat ASRI, Gotong Royong Keliling Pererat Kebersamaan Warga Peduli Masyarakat Pesisir, Ditpolairud Polda Riau Gelar Program ‘JALUR’ di Rupat Utara Beasiswa CSR BRK Syariah Bantu Mahasiswa STIT Mumtaz Karimun Wujudkan Cita-cita Pendidikan Satresnarkoba Polres Bengkalis Amankan Pengedar Ekstasi di Desa Pamesi Bathin Solapan

Ragam

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

badge-check


					Dalmasri Syam (dilingkar hijau) Perbesar

Dalmasri Syam (dilingkar hijau)

Dalmasri Syam adalah satu dari sedikit politisi Kepulauan Riau yang menyatukan ketenangan pribadi, keluasan pengalaman, serta keteguhan prinsip dalam perjalanan hidup dan kariernya.

Lahir di Jambi dan menetap di Tanjungpinang lebih dari empat dekade, hidupnya adalah kisah seorang perantau yang menemukan rumah, membangun keluarga, merawat pergaulan, dan menanamkan pengabdian.

Cinta membawanya lebih menetap di Kepri. Ia menikahi seorang guru SD asal Tambelan Erdawati yang mengajar di Kampung Bugis. Dari sanalah kehidupannya di Tanjungpinang bertumbuh bermula dari Kampung Bugis. Sebuah kampung yang unik. Di sinilah Dalmasri mengawal karirnya. Mulai dari organisasi tingkat desa hingga kelak jadi penguasa partai.

Kemudian ia pindah ke Batu Hitam, hingga akhirnya membangun rumah keluarga di Jalan Hanjoyo Putro. Rumah itu menjadi ruang silaturahmi, pertemuan gagasan, dan saksi perjalanan seorang politisi yang tumbuh dari proses panjang.

Dalam politik, Dalmasri bukan figur yang hadir dari kebetulan. Ia mengukir karier melalui konsistensi, kedisiplinan, dan kesediaan belajar. Ia tumbuh aktif sejak muda, pernah memimpin KNPI Kepulauan Riau, lalu berperan penting di Partai Golkar Kabupaten Kepri hingga mengantar sahabatnya jadi bupati Bintan lalu jadi gubernur Kepri. Walaupun di akhirnya mereka mengambil jalan yang berbeda.

Dalam perjalanan politiknya, ia pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Kepulauan Riau, kemudian pernah jadi Ketua DPRD Kabupaten Bintan, serta dipercaya memimpin Perusahaan Daerah Kabupaten Kepri sebagai direktur.

Jabatan-jabatan itu menunjukkan pengakuan atas kapasitasnya: bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga sebagai manajer publik.

Puncak pengabdian formalnya ditandai ketika ia dipercaya sebagai Wakil Bupati Bintan periode 2015–2020. Dalmasri menjalani kepemimpinan dengan watak yang khas: santun, rasional, tidak suka gaduh, dan selalu mengedepankan dialog. Ia adalah politisi yang bekerja tanpa harus banyak berteriak.

Lebih dari sekadar jabatan, Dalmasri adalah saksi hidup sejarah Kepri. Ia menyaksikan dan ikut terlibat dalam dinamika perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, memahami karakter para tokohnya, mengingat detail peristiwa yang tak selalu tercatat dalam dokumen resmi.

Ingatannya yang kuat menjadikannya rujukan penting bagi siapa saja yang ingin memahami evolusi politik Kepri dari masa Orde Baru hingga hari ini.

Dalam satu tahun terakhir hidupnya, Dalmasri meninggalkan satu ruang kenangan yang hangat: posko kecil di Tanjung Katong, Bintan Centre. Dalam seminggu setidaknya kami ada berjumpa sekadar menanti waktu zuhur masuk di samping Masjid Zul Firdaus.

Sekitar pukul sepuluh pagi hingga menjelang salat Zuhur, ia datang dengan mobil Innova hitam. Berkumpul bersama sahabat-sahabatnya eks mantan pejabat Bintan hanya untuk menikmati secangkir kopi hitam dan teh tarik. Terkadang tersedia bakwan.

Lalu berdiskusi, mengenang masa lalu, dan menimbang keadaan politik hari ini. Di sana, Dalmasri hadir bukan sebagai mantan pejabat, tetapi sebagai abang, sebagai guru kehidupan, sebagai penjaga cerita.

Bang Dal kami memanggilnya pasih mengingat ingat kenangan 30 tahun lalu. Termasuk kutipan kutipan bicara saat itu.

Pada 24 Desember 2025, malam tiba tiba di group WA muncul berita Dalmasri Syam berpulang di Padang. Berita yang mengejutkan. Karena perjalanan di Desember ini nyaris tak pernah bertemu almarhum.

Mungkin karena Bang Dal ke Padang untuk berobat dan saya beberapa kali ke luar daerah untuk sejumlah acara di Jakarta 11 hari, ke Bali dan Malaysia. Pernah beberapa kali ketemu di feri sama sama ke Malaysia. Ia selalu didampingi istrinya. Saya ingat betul dia selalu mengingatkan istrinya jika tidur lihat lihat juga suami mu di samping. Inilah ucapan ketika kamu mendengar kabar sahabat yang tiba tiba pergi mendadak dalam tidur.

Berita kepulangan politisi senior yang mendadak. Saya tahu dia sakit tapi kami masih bisa ngopi. Mungkin dalam sebulan ini saya tak jumpa kondisi kesehatannya mulai menurun dan Ia memutuskan berobat ke Padang.

Ia akan dibawa pulang ke tanah yang ia cintai, ke kota yang telah ia pilih sebagai rumah: dimakamkan di Tanjungpinang. Dalmasri kembali ke pangkuan tanah yang pernah ia perjuangkan, di tengah keluarga, sahabat, dan masyarakat yang mencintainya.

Bang Dal meninggalkan warisan: keteladanan tentang kesetiaan pada nilai, kesabaran menghadapi perubahan, kerja yang tidak selalu butuh sorotan, serta cinta yang jujur pada daerah dan manusia di dalamnya.

Selamat jalan, Bang Dalmasri Syam.
Terima kasih atas jejakmu dan bergelar gelas kopi yang engkau bayar.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, mengampuni dosamu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kami akan mengingatmu bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai manusia yang baik. Aamiin.

Robby Patria

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hanya Padamu Cinta Ini Kuabadikan

30 Mei 2026 - 00:27 WIB

Tangan yang Dulu Merangkulku

23 Mei 2026 - 14:46 WIB

Di Balik Jendela Bersama Buku Jurnal

9 Mei 2026 - 00:15 WIB

Misni Resmi Jadi Sekda, Tonggak Baru Kepemimpinan Perempuan di Kepri

28 April 2026 - 07:53 WIB

PT BSP Menanam Harapan Hijau di Tengah Riau

24 April 2026 - 06:49 WIB

Trending di Ragam