RiauKepri.com, MERANTI – Sekitar 200 rumah warga serta lahan pertanian di Desa Teluk Buntal, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, terendam banjir yang diduga akibat meluapnya kanal milik PT Nasional Sago Prima (PT NSP). Banjir terjadi setelah tanggul kanal perusahaan tersebut jebol dan tidak mampu menampung debit air.
Genangan air telah berlangsung selama kurang lebih sepuluh hari. Hingga Sabtu (17/12/2025), banjir memang mulai berangsur surut, namun di sejumlah titik masih merendam halaman rumah warga, khususnya di sepanjang Jalan KPH, dengan ketinggian air diperkirakan setengah lutut orang dewasa.
Kepala Desa Teluk Buntal, Agusman Riyadi, mengatakan bahwa banjir yang melanda desanya bukan kali pertama terjadi. Ia menyebut, selama hampir dua dekade terakhir, banjir kerap berulang dan diduga berkaitan dengan keberadaan serta pengelolaan kanal milik perusahaan.
“Banjir hampir terjadi setiap tahun. Pada 2014 desa kami mengalami kebakaran dan bantuan yang diterima hanya sembako. Kemudian pada 2015 hingga 2018 banjir berlangsung selama berbulan-bulan. Banjir kembali terjadi pada 2020, 2021, dan sekarang di tahun 2025,” ujar Agusman.
Ia menjelaskan, pada tahun 2023 pihak perusahaan sempat melakukan pencucian kanal dari bagian hulu. Namun, alat berat yang digunakan terperosok ke dalam kanal dan hingga kini belum dievakuasi. Kondisi tersebut dinilai memperparah aliran air dan meningkatkan risiko banjir.
“Kami sudah menyampaikan agar pencucian kanal dilakukan dari hilir, bukan dari atas, karena berisiko menyebabkan banjir. Namun saran itu tidak diindahkan,” katanya.
Selain persoalan banjir, Agusman juga menyoroti minimnya kontribusi perusahaan terhadap masyarakat setempat. Dari lebih 1.000 jiwa penduduk Desa Teluk Buntal, hanya dua orang warga lokal yang tercatat bekerja di PT NSP. Sementara tingkat pengangguran di desa masih cukup tinggi dan belum diimbangi dengan pelatihan keterampilan dari perusahaan.
“Kontribusi perusahaan terhadap desa sangat minim. Setiap terjadi bencana, bantuan yang diberikan umumnya hanya sebatas sembako,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pemuda sekaligus aktivis Desa Teluk Buntal, Indra. Ia menyebutkan bahwa selama ini para pemuda desa merasa takut untuk menyuarakan aspirasi. Padahal, beberapa pemuda setempat telah memiliki sertifikat keamanan (security), namun berulang kali ditolak saat melamar kerja ke PT NSP.
“Sudah ada beberapa pemuda desa yang bersertifikat security, tapi setiap mengantar lamaran selalu ditolak. Bahkan ada satu pemuda yang sudah satu tahun lebih menitipkan berkas lamaran, tapi tidak pernah dipanggil atau dipedulikan,” ungkap Indra.
Ia juga mempertanyakan proses rekrutmen tenaga kerja di perusahaan tersebut. Menurutnya, lowongan kerja kerap dibuka, namun tidak jelas siapa yang diterima dan dari daerah mana.
“Lowongan dibuka, tapi entah orang mana yang masuk. Warga lokal tidak pernah diberi kesempatan,” katanya.
Terkait bantuan banjir, Indra menjelaskan bahwa perusahaan telah menyalurkan bantuan kepada 158 kepala keluarga (KK), meski sebelumnya permintaan warga hanya sebanyak 150 KK. Bantuan tersebut berupa beras 5 kilogram, minyak goreng, gula 1 kilogram, telur 15 butir, teh satu bungkus, dan kopi satu bungkus.
Namun, warga menilai bantuan tersebut belum sebanding dengan dampak banjir yang telah berlangsung selama lebih dari sepuluh hari.
“Kami sudah meminta agar bantuan tidak hanya sekali, minimal dua kali, sampai air benar-benar surut dan masyarakat bisa beraktivitas normal kembali. Tidak wajar bencana selama ini hanya dibantu sekali dengan nilai yang tidak sesuai dengan penderitaan warga,” tegasnya.
Warga Desa Teluk Buntal berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kanal PT NSP, serta menegaskan tanggung jawab sosial perusahaan agar banjir tahunan yang merugikan masyarakat tidak terus berulang. (RK12).







