Menyebut Zapin, tak lengkap kalau tak singgah ke Hadramaut, Yaman. Dari sanalah asal muasalnya, dibawa pedagang dan mubaligh Arab sekitar abad ke-16 ke pesisir Selat Malaka, termasuk Riau dan Pontianak.
Jauh perjalanan Zapin ini, lebih jauh dari perjalanan kita mencari subsidi minyak goreng. Hadramaut itu pula namanya sudah membuat bulu roma naik: “Hadhra al-Maut”, artinya kematian telah hadir. Seram betul bunyinya, Wak.
Tapi anehnya, dari tanah “kematian” itulah lahir tarian yang hidup, lincah, dan berdenyut semangat. Macam hidup orang Melayu agaknya, Wak: “Bio lah hidup susah, tapi pantang mati gaya.”
Zapin ini asalnya bukan main-main. Ia tarian dakwah. Syairnya Islami, geraknya sopan, iringannya gambus. Di istana Melayu dulu, Zapin bukan sekadar hiburan, tapi cara halus mengajak orang mendekat pada agama. Dakwah versi berlenggang, bukan versi berteriak.
Sejarah pula sudah jelas mentasbihkan: penari Zapin tradisi itu laki-laki. Bukan karena perempuan tak pandai menari, Wak, tapi karena teknis geraknya. Kaki cepat, langkah tinggi, kadang terkangkang. Kalau perempuan buat gerakan ini, tersingkap kain, puah sisih…! bukan Zapin yang dipuji, aurat pula yang kena viral. Gerakan Zapin juga banyak menunduk, kalau perempuan bergerak cepat dan menunduk, silap hari bulan. Usah cakap lagi kasus yang satu ini ya, Wak…!?
Jadi kalau hari ini ada perempuan menari Zapin, sah saja. Tapi itu namanya Zapin kreasi dengan berbagai persiapan. Jangan pula disulap jadi Zapin tradisi. Tradisi itu macam sijil kelahiran, Wak, tak boleh dipadam sesuka hati. Kalau dipadam, nanti sejarah pun jadi yatim piatu.
Kadang, entahlah. Orang Melayu, khususnya di Riau ini unik. Benda lama disayang, benda baru disanjung. Tapi jangan sampai yang lama dibuang, yang baru dipuja melangit. Tradisi itu akar. Kreasi itu dahan. Kalau akar dipotong, dahan pun tumbang. Itu hukum alam, bukan hukum MURI. Heee…
Kadang kita ini sibuk betol mengejar pengiktirafan. Rekor sana, rekor sini. Seolah-olah kalau sudah dapat sertifikat, semua masalah hidup terus selesai. Padahal, Wak, sertifikat itu tak pandai menambal jalan yang berlubang, yang menjahanamkan masyarakat.
Sertifikat juga tak pandai menyelesaikan tunda bayar. Tak pandai mengisi periuk yang kosong. Paling kuat, sertifikat cuma mampu buat orang senyum sekejab, lepas itu isi perut “berzapin” lagi. Senyum pun berubah jadi senyum pahit sambil mencemik.
Jadi kalau orang tanya, “Tak sah lah Zapin kalau semua perempuan?” Secara tradisi, memang tak sah, Wak. Tapi secara kreasi, silakan. Yang jelas jangan sampai membida’ahkan tradiri hingga bercampur aduk. Nanti yang tradisi jadi kabur, yang kreasi jadi bingung, yang menonton pula jadi pening lalat.
Zapin itu warisan dakwah. Dari Arab, masuk ke Melayu, disesuaikan dengan adat, disulam dengan budaya. Ia bukan sekadar tarian, tapi sejarah berjalan. Kalau kita tukar seenak perut, sama saja kita menconteng muka nenek moyang kita sendiri.
Kita boleh bangga dengan Zapin yang berkembang, dengan festival, dengan panggung besar, dengan tepuk tangan ramai. Tapi jangan lupa, kebanggaan itu harus seiring dengan kebijaksanaan. Jangan sampai Zapin kita makin megah, tapi nilai dan sejarahnya makin lemah.
Pendek kata, Wak, Zapin biarlah kita muliakan sesuai asalnya. Tradisi jangan dipadam, kreasi jangan disekat. Rekor boleh dikejar, tapi perut rakyat jangan ditinggal. Jangan sampai Zapin kita makin gemilang di pentas, tapi hidup orang Melayu makin malang di jalan: ini baru namanya hadramaut.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com. (berbagai sumber)







