SEJAK sekolah dasar dulu, masih lembut lagi ubun-ubun, Wak, telinga kita sudah dipasak dengan petuah orang tua dan guru: hiduplah elok-elok, kenal lingkungan, jangan sempat jadi cerita tak sedap di kampung. Maka keluarlah pribahasa Melayu yang bunyinya sederhana, tapi maknanya dalam sampai ke ulu hati.
Harimau mati meninggalkan belang.
Gajah mati meninggalkan gading.
Manusia mati meninggalkan nama.
Maksudnya dari tiga pribahada di atas memang dah jelas terang benderang, yang hidup bukan soal lamanya umur, tapi apa yang tinggal selepas kita tiada. Harimau tak dikenal karena panjang kumisnya, mengaumnya, tapi dikenal karena belangnya. Manusia pula tak dikenang karena rumahnya yang bertingkat, mobil mewah dan jabatan, tapi karena nama baik atau buruk.
Nah! Gajah, Wak? Ia meninggalkan gading. Tapi di sinilah cerita Melayu mulai terasa pahit di lidah dan geram meletop-letop menengok gajah dipenggal di hutan konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Padahal gading yang dalam pribahasa adalah simbol, bukan harta yang diperebutkan, tapi kini malah menjadi sebab gajah tak sempat mati wajar. Satwa dilindungi ini diburu, dipotong kepalanya, dikerat gadingnya, lalu ditinggalkan jadi bangkai. Mati belum tentu sempat “meninggalkan” sudah lebih dulu “diambilkan.”
Nilai ekonomi gading katanya tinggi. Katanya indah bila diukir. Kononnya, gading lambang status dan kekuasaan. Padahal adat Melayu mengajarkan, yang terlalu dipuja harta, biasanya lupa diri. Yang lupa diri, biasanya lupa pantang larang. Maka terjadilah yang dilarang adat, dikecam agama, ditentang undang-undang memburu gajah.
Yang lebih sedih, Wak, bukan cuma gajah yang dibunuh. Pribahasa pun ikut “diperkosa.” Kalimat bijak yang seharusnya mengingatkan manusia agar tidak silau harta, malah dipelintir jadi alasan kerakusan. Bayangkan kelak, bila gajah hanya tinggal di buku pelajaran. Anak cucu bertanya, “Atuk, apa itu gading?”
Atuk menjawab, “Dulu itu gigi gajah.”
“Gajah tu apa, Tuk?”
Saat itu bukan hanya gajah yang punah, tapi satu potong identitas Melayu ikut terkubur. Pribahasa tinggal bunyi, makna tinggal abu.
Padahal pesan leluhur kita jelas, Harta habis dimakan zaman, Nama baik hidup sepanjang jalan.
Kalau gajah pun habis karena gading, jangan-jangan manusia pun nanti habis karena nama. Maka sebelum semuanya tinggal cerita, eloklah kita ingat kembali, bukan gading yang patut dikejar, tapi nama baik yang patut dijaga. Begitulah adat berkata, tajam tanpa marah, lucu tapi beradab.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








