Menu

Otomatis
Breaking News

Riau

Jalur Musiman

badge-check

Pacu Jalur 2025. (Foto: net olahan AI) Perbesar

Pacu Jalur 2025. (Foto: net olahan AI)

TAHUN 2025 lalu Wak, Tepian Narosa seperti halaman rumah besar yang alih-alih didatangi orang sekampung, bahkan-campur bengak siket- orang sedunia. Festival Pacu Jalur dibuka Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, didampingi Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo. Pokoknya, berlambak orang hebat yang datang pada saat itu.

Waktu itu, pejabat tinggi negara seperti berebut mencari tepian. Maklumlah, jalur sedang mendunia. Aura farming seorang bocah membuat perahu panjang dari Kuansing meluncur sampai ke layar telepon gengam orang-orang yang bahkan mungkin tak tahu di mana Kuantan Singingi berada.

Kalau boleh bergurau sedikit, tahun lalu bukan hanya jalur yang berpacu. Pejabat pun seperti ikut pacu jalur, siapa cepat, dia dapat panggung.

Tahun 2026, suasananya agak meleset Wak. Pembukaan cukup diwakili Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, dan bolehlah lagak dikit karena membawa bantuan sebesar Rp1,4 miliar. Sementara jalur yang berlomba berkurang, dari 228 jalur pada 2025 menjadi 175 jalur pada 2026.

Hadiah pokok dari APBD Kuansing masih Rp493,5 juta. Angkanya tidak berubah. Tetapi tahun lalu ada tambahan Rp360 juta dari APBD Provinsi Riau, ditambah bonus hewan ternak dari Wakil Presiden. Tahun ini, bantuan dari pusat masih dalam tahap konfirmasi. Bahasa kampungnya, duitnya belum nampak, kabarnya masih berkayuh. Jangan sampai kelabu asap, Wak.

Di sinilah kita patut berhenti sebentar, bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, tetapi untuk bercermin. Sebab Pacu Jalur bukan sekadar perahu panjang yang didayung puluhan orang. Ia adalah kerja kampung. Ada kayu yang dipilih, ada tukang yang menarah, ada anak muda yang berlatih, ada ibu-ibu yang memasak, ada orang tua yang berdoa, ada ninik mamak yang menjaga adat.

Jalur itu lahir dari gotong royong, bukan dari sorotan kamera. Maka agak lucu kalau kita baru rajin memuji budaya ketika dunia sedang menontonnya. Ketika viral, kita cakap Pacu Jalur adalah warisan hebat.

Ketika masuk media internasional, kita bangga mengatakan inilah jati diri Riau. Tetapi setelah tepuk tangan reda, jangan sampai jalurnya pula yang kita biarkan mendayung sendirian.

Orang Melayu punya petuah, “Yang kecil jangan dihina, yang besar jangan disanjung melampau.” Sebab pujian yang berlebihan kadang membuat kita lupa bekerja, sementara kritikan yang berlebihan pula boleh membuat kita lupa bersyukur.
Budaya tidak boleh dipelihara dengan musim Wak, kalau tidak alamat terlungkop jalur tu.

Jangan ketika viral kita pasang tanjak tinggi-tinggi, tetapi ketika sepi tanjaknya kita gantung di belakang pintu.

Tahun lalu bahkan penyanyi asal Amerika ikut tampil menghibur masyarakat. Dunia maya ramai. Wakil Presiden datang. Menteri-menteri hadir. Pacu Jalur menjadi pembicaraan banyak orang. Tahun ini, dunia mungkin masih melihat, tetapi sorotannya tidak seterang dahulu.

Nah, di sinilah kedewasaan kita diuji. Apakah kita mencintai Pacu Jalur karena memang mencintai budayanya, atau karena dunia sedang menyukainya?

Kalau karena budaya, maka ketika viral maupun tidak viral, jalur tetap harus dijaga. Kalau karena gengsi, maka ketika kamera pergi, semangat pun ikut pulang.

Adat Melayu mengajarkan marwah. Marwah itu bukan pakaian yang dipakai ketika hendak bertemu orang besar. Marwah adalah perangai yang tetap dijaga walau tidak ada orang melihat. Sebab orang yang baik bukan yang rajin bersalam ketika kamera menyala, tetapi yang tetap bekerja ketika kamera sudah mati.

Begitu pula dengan pemerintah. Budaya tidak cukup dijadikan agenda tahunan. Jangan sampai Pacu Jalur hanya ramai ketika hendak didatangi pejabat, lalu kembali sunyi setelah rombongan meninggalkan tepian. Sebab kalau pejabat datang, kita sambut dengan kompang. Kalau pejabat tak datang, jangan pula kita kehilangan semangat.

Jalur tetap harus didayung.
Karena yang kita perjuangkan bukan siapa yang duduk di tribun kehormatan, tetapi marwah kampung yang berada di tepian.
Dan ada satu hal yang barangkali perlu kita ingat bersama, viral itu tamu, budaya itu tuan rumah. Tamu boleh datang dan pergi. Tetapi tuan rumah jangan sampai kehilangan rumahnya sendiri.

Jangan pula kita menjadi negeri yang pandai memamerkan budaya kepada dunia, tetapi lupa memberi kehidupan kepada orang-orang yang setiap hari menjaga budaya itu.

Pacu Jalur mengajarkan kekompakan. Seorang pendayung tidak boleh mendayung menurut irama sendiri. Kalau satu orang terlalu cepat, yang lain bisa kacau. Kalau satu orang terlalu lambat, perahu bisa kehilangan arah. Begitulah pula mengurus negeri. Tidak cukup seorang yang mendayung. Semua harus satu irama: pemerintah, masyarakat, ninik mamak, pemuda, pelaku budaya, dan dunia usaha.

Kalau yang mendayung hanya ketika ada tepuk tangan, jalurnya mungkin cepat di awal, tetapi belum tentu sampai ke tujuan.
Maka jangan sampai setelah dunia memuji Pacu Jalur, kita malah terlena.

Yang perlu dipacu bukan hanya jalurnya, tetapi juga kepedulian kita. Bukan hanya lombanya, tetapi juga kehidupan masyarakat yang menjaga tradisinya. Sebab budaya yang hanya hidup ketika viral, sesungguhnya belum benar-benar kita hidupkan.

Dan negeri yang paling mudah kehilangan jati diri bukan negeri yang tidak punya budaya. Melainkan negeri yang baru merasa bangga terhadap budayanya setelah orang lain lebih dulu memujinya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pemprov dan LAMR Desak Kemenhut Setujui REDD Riau

21 Agu 2026 - 21:49 WIB

Pemprov dan LAMR Desak Kemenhut Setujui REDD Riau

Empat Tahun Alih Kelola WK CPP, BSP Perkuat Integritas dan Transformasi untuk Menjawab Tantangan ke Depan

21 Agu 2026 - 17:08 WIB

Empat Tahun Alih Kelola WK CPP, BSP Perkuat Integritas dan Transformasi untuk Menjawab Tantangan ke Depan

Semarak Budaya Melayu Kuantan Singingi, Danlanal Dumai Hadiri Pembukaan Festival Pacu Jalur 2026

20 Agu 2026 - 19:11 WIB

Semarak Budaya Melayu Kuantan Singingi, Danlanal Dumai Hadiri Pembukaan Festival Pacu Jalur 2026

Ternyata: Anak Kampar Juara Sayembara Logo HUT ke-81 RI?

18 Agu 2026 - 17:05 WIB

Ternyata: Anak Kampar Juara Sayembara Logo HUT ke-81 RI?

81 Tahun Indonesia Merdeka: Sudahkah Kemerdekaan Dirasakan Semua?

17 Agu 2026 - 19:08 WIB

81 Tahun Indonesia Merdeka: Sudahkah Kemerdekaan Dirasakan Semua?
Trending di Minda