Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

PaSKI Riau Julang Tawa Jaga Waras dan Marwah

badge-check

Suasana diskusi PaSKI Riau di Galeri Hang Nadim Bandar Serai, Pekanbaru Perbesar

Suasana diskusi PaSKI Riau di Galeri Hang Nadim Bandar Serai, Pekanbaru

Oleh Hang Kafrawi

Komedi bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi Melayu Riau. Sejak dahulu, komedi telah bersebati dalam kehidupan masyarakat, mengalir dalam tutur, menari dalam pergelaran, dan hadir dalam pelbagai bentuk seni rakyat. Dalam adat dan panggung, dalam dendang dan pantun, unsur kelakar menjadi bagian dari cara orang Melayu menyampaikan kritik, mendidik dengan halus, dan menertawakan getir hidup dengan elegan. Komedi bukan hanya untuk tertawa, tetapi juga untuk menyejukkan, menyentuh, dan menyampaikan pesan-pesan yang kadang tak mampu diucapkan secara terang.

Komedi dalam kebudayaan Melayu bukan sekadar pelepas penat. Ia adalah cara bertutur orang bijak, senjata halus para intelektual kampung, dan cermin cerdik dari kebudayaan yang menjunjung adab. Komedi Melayu Riau bukan tawa keras yang menampar, tapi senyum menggelitik yang menyentuh akal dan rasa.

Sudah sejak dulu komedi bersebati dalam nadi orang Melayu, mengalir dalam pantun, menyelinap dalam karya seni, menari dalam Randai, dan bercanda dalam Bangsawan. Tak ada yang dipaksakan, tak ada yang dibuat-buat. Orang Melayu Riau tidak melawak, namun orang ketawa. Sebuah ungkapan Mosthamir Tahib yang begitu dalam, merangkum kehalusan budaya ini: bahwa komedi bukan tontonan kasar yang menghardik, melainkan seni menyentil tanpa menyakiti, menggoda tanpa menghinakan.

Inilah yang ditegaskan oleh Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau saat memperingati dua dekade kiprahnya melalui perhelatan bertajuk “Jejak Komedi dalam Seni Tradisional Melayu Riau” pada 13 Juni 2025 di Galeri Hang Nadim, Bandar Seni Raja Ali Haji, Pekanbaru. Hadir dalam diskusi ini pengurus PaSKI Kabupaten/Kota se-Riau, dan sastrawan Riau seperti Fakhrunnas MA Jabbar, Kazaini Ks, Hari B. Koriun, Jefri Al Malay, Fedli Aziz, pelawak senior Udin Semekot. Perhelatan ini bukan sekadar selebrasi, melainkan gema budaya. Sebuah penegasan bahwa komedi Melayu punya akar, punya harga diri, dan layak dianggap warisan, bukan hanya hiburan pinggiran.

Lawak Melayu tidak muncul dari nalar kosong. Ia tumbuh dari sastra: dari cerita jenaka, pantun bersahut, hingga karya satir Soeman HS yang mengajarkan bahwa tawa bisa lahir dari cerdasnya bahasa dan tajamnya sindiran. Kekuatan komedi Melayu Riau ada pada narasi, pada keahlian menjerat makna lewat cerita. Lihatlah si Badang, Lebai Malang, atau kisah si Kancil: lucu, tapi menyengat. Sindiran tajam dibungkus fabel; kritik sosial disampaikan dalam celoteh binatang.

Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi marwah, komedi bukan sembarang jenaka. Ia menari dalam adab. Wak Zul seniman dari Siak menyebutkan bahwa pemantun pernikahan dipilih bukan karena tampangnya, tetapi karena humornya. Lawaknya bukan olok-olok murahan, melainkan kepintaran memutar kata, menyentil hati, dan membuat orang tertawa sambil merenung. Di situ komedi Melayu berdiri: halus, berkelas, dan tetap membumi.

Salman Aziz seniman dari Kampar mengingatkan kita pada satu hal penting: di masa lalu, tukang kisah lucu diundang ke rumah-rumah. Bukan untuk main sirkus, tapi untuk menyatukan keluarga, mempererat silaturahmi, dan menabur nilai dengan tawa. Komedi menjadi jembatan hati. Bahkan dalam cerita hewan pun, orang Melayu mampu menyisipkan pesan tentang hidup yang adil, lidah yang jujur, dan kekuasaan yang tak semena-mena.

Sementara Suparmi seniman seniman Kuansing menyoroti tokoh Bujang Gadih dalam seni Randai. Sosok konyol tapi bijak, yang menjadi perantara pesan sosial lewat gelak tawa. Ia bukan badut norak, tetapi cermin dari rakyat yang menyindir elite dengan cara santun. Begitu pula Deni Afriadi dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Melayu, FIB UNILAK, memaparkan pentingnya peran komedi dalam panggung teater tradisional Melayu. Ia menyebut bahwa dalam bentuk-bentuk teater seperti Bangsawan, Mendu, Mak Yong, dan Mamanda, elemen komedi selalu hadir sebagai alat perekat emosi penonton, penyalur kritik sosial, sekaligus penyegar suasana. “Dalam panggung teater tradisi Melayu, komedi menjadi perkakas yang penting,” ujar Deni.

Menurutnya, jejak ini dapat ditelusuri sejak abad ke-17, yang menunjukkan betapa tua dan mengakar kuatnya komedi dalam pentas kebudayaan orang Melayu. Dari pentas istana hingga gelanggang rakyat, komedi senantiasa menemukan ruangnya, menghidupkan cerita, mendekatkan pesan, dan menciptakan keakraban yang melampaui batas status sosial.

Inilah yang ditawarkan oleh komedi Melayu Riau: tawa yang membangun, bukan meruntuhkan. Ia menjadi ruang dialektika, bukan pelarian. Ia mengajar tanpa menggurui, menyentil tanpa menyakiti. Dalam zaman yang mudah terbakar oleh ujaran kebencian dan konten viral tanpa nalar, komedi Melayu hadir sebagai pengingat: bahwa lucu tak harus bodoh, dan menghibur tak harus menghina.

Maka, ketika PaSKI Riau menabuh genderang untuk menjadikan Hari Komedi Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap penggerak tawa, itu bukan sekadar seremonial. Itu seruan budaya. Ajakan untuk kembali menempatkan komedi sebagai pilar peradaban. Bangsa yang bisa menertawakan diri dengan cerdas adalah bangsa yang telah dewasa. Melayu Riau telah membuktikan itu sejak dulu, lewat humornya yang bersastra dan jenakanya yang berakal.

Sabas untuk pengurus PaSKI Riau yang dinahodai Ahmad Benny Joniaman atau lebih akrab disapa Bens Sani, yang telah menaja diskusi ini dalam rangka menjemput Hari Komedi Nasional bangsa ini. Diskusi ini menyadarkan kita bahwa komedi bukan berurusan hiburan semata, lebih dari itu, komedi membawa pesan moral bangsa ini untuk menyadari diri sendiri. Kita harus berani menertawakan diri kita sendiri, sehingga kita sadar kekuatan yang ada pada diri sendiri. Sekali sabas Bens dan kawan-kawan.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK, Pekanbaru, Riau.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Awas Penyangak!

12 Sep 2026 - 08:49 WIB

Awas Penyangak!

Dari Pesan WhatsApp, Terbongkar Dugaan Pencabulan Santri di Siak

11 Sep 2026 - 15:05 WIB

Dari Pesan WhatsApp, Terbongkar Dugaan Pencabulan Santri di Siak

Pemimpin Nyanyuk

5 Sep 2026 - 07:48 WIB

Pemimpin Nyanyuk

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

3 Sep 2026 - 10:21 WIB

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

Program BSP Peduli: Salurkan 20 Ribu Masker untuk Masyarakat

3 Sep 2026 - 09:08 WIB

Program BSP Peduli: Salurkan 20 Ribu Masker untuk Masyarakat
Trending di Pekanbaru