Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Minda

Adat Kaca

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

SYAHDAN, sejak awak kecik lagi, Wak, emak tak pernah marah kalau gelas atau piring kaca jatuh lalu pecah berderai di lantai. Paling-paling emak datang, tengok pecahan kaca, kemudian berkata dengan tenang, “Usah takut. Memang adat kaca, pecah.” Pendek kalimatnya, tetapi dalam maknanya.

Makanya, kalau gelas pecah, awak tak perlu pula berlari masuk kamar, selimut sampai kepala, macam baru saja memecahkan guci pusaka kerajaan. Emak tak mengejar dengan rotan pemukul bantal. Tak pula membuat sidang keluarga. Pecah, ya disapu, dibuang, kemudian hidup diteruskan. Sebab emak tahu, kaca memang diciptakan bening, tetapi bukan untuk dijamin kekal.

Pernah pula suatu hari, gelas milik Ebah jatuh karena ulah awak. Bunyi pecahnya bukan main, Wak; sejuk seram awak dibuatnya. Pecahannya berserak macam harapan orang yang terlalu tinggi menggantungkan janji. Ebah sempat menggerutu. Maklumlah, gelas itu mungkin ada kenangan dan harganya pun boleh tahan.

Tapi emak segera berkata, “Nak cakap ape lagi? Semuanya ada masanya. Adat gelas tu pecah.” Ebah pun diam. Entah karena menerima nasehat, entah karena takut kalau diteruskan ngomel nanti emak pula yang pecahkan gelas yang lain. Hahaha!

Dari situlah emak mengajar kami satu ilmu yang tak pernah ada di sekolah, yakni ilmu menerima. Kaca pecah jangan ditangisi terlalu lama. Barang hilang jangan sampai diri pula yang hilang akal. Yang sudah berlaku, ambillah hikmahnya. Yang boleh disapu, sapulah. Yang boleh diperbaiki, perbaikilah. Jangan pula pecahan kaca dibiarkan di tengah rumah sampai semua orang akhirnya berdarah kaki.

Sekarang emak dan Ebah sudah tiada, Wak. Namun ajaran tentang adat kaca itu masih terngiang-ngiang. Rupanya emak bukan sekadar mengajar bagaimana menghadapi gelas pecah. Emak sedang mengajar bagaimana menghadapi hidup.

Sebab manusia pun ada adatnya. Ada masa datang, ada masa pergi. Ada yang lahir, membesar, berjaya, kemudian tua. Ada yang kita sayang datang menumpang dalam hidup, lalu satu hari dipanggil pulang oleh Allah. Kita hendak menahan bagaimana pun, takkan mampu. Sebab hidup ini memang ada masanya.

Maka janganlah terlalu sombong ketika berada di atas, Wak. Sebab adat kaca, bila terlepas dari tangan, jatuhnya ke bawah. Hari ini kita dipuji, esok boleh jadi kita ditegur. Hari ini kita memegang kuasa, esok mungkin orang lain pula memegangnya. Kalau sudah sampai waktunya, jangan pula marah kepada dunia hanya karena dunia tak mahu berhenti menunggu kita.

Emak juga mengajar tentang ikhlas. Kalau sudah berbuat baik, jangan terlalu sibuk menghitung berapa orang yang berterima kasih. Kalau membantu, jangan setiap malam menghitung dalam kepala, “Aku sudah menolong si anu, sudah menolong si itu.” Itu bukan lagi sedekah, Wak. Itu sudah macam akuntan akhirat.

Berbuatlah yang terbaik sesuai dengan peran masing-masing. Yang menjadi ibu, jadilah ibu yang baik. Yang menjadi ayah, jadilah ayah yang bertanggung jawab. Yang menjadi pemimpin, jangan lupa dirinya juga manusia. Yang menjadi rakyat, jangan pula setiap hari merasa dirinya paling layak menjadi pemimpin. Sebab kadang-kadang mengatur satu ekor ayam pun belum tentu selesai, sudah hendak mengatur satu negeri.

Yang paling penting, jangan sibuk menilai kerja orang sampai lupa menyapu halaman sendiri. Emak selalu mengajarkan, Allah melihat apa yang kita buat. Manusia mungkin melihat hasilnya, tetapi Allah melihat niat dan usaha. Maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan penilaiannya kepada Yang Maha Mengetahui.

Emak juga paling pantang melihat anak-anak suka bertangguh. Katanya, kalau ada kerja boleh dibuat hari ini, buatlah sekarang. Jangan semua benda hendak ditunggu esok. Sebab kerja yang ditangguhkan itu lama-lama bukan jadi ringan, malah beranak-pinak. Satu kerja ditunda, besok datang dua kerja. Lusa sudah jadi tiga. Akhirnya kita pula yang pening kepala.

Tapi ada satu petuah emak yang sampai sekarang membuat awak tersenyum. Katanya, jangan sampai hidup ini terlalu ikut jadwal. “Jam itu nak makan, jam itu nak mandi, jam itu juga nak terberak!” Hahaha! Maksud emak bukan hendak mengatur perut dan usus macam jadwal kereta api, Wak. Maksudnya, jangan sampai perkara kecil pun menjadi alasan untuk menunda pekerjaan besar.

Begitulah adat Melayu yang diajarkan emak, tahu masa, tahu diri, tahu tempat, tahu menerima, tahu bersyukur dan tahu bila harus bertindak. Kalau kaca pecah, jangan dimarahi kacanya. Kalau hidup berubah, jangan dimarahi takdirnya.

Kalau sesuatu pergi, jangan habiskan umur mengejarnya. Ambil hikmah, kemas pecahan, kemudian teruskan perjalanan. Sebab pada akhirnya, Wak, kita semua ini ibarat kaca. Pada suatu masa kita akan sampai kepada waktunya. Entah pecah karena usia, pecah karena keadaan, atau pecah karena terlalu lama menahan beban. Maka sebelum sampai waktunya, gunakanlah hidup sebaik-baiknya. Jangan banyak menunggu. Jangan banyak mengeluh. Jangan banyak merasa paling betul. Berbuatlah baik, bersyukurlah banyak-banyak, dan jagalah marwah diri. Sebab adat kaca itu sederhana, bila sudah sampai masanya, ia tetap pecah. Yang tinggal hanyalah bagaimana kita menjalani masa sebelum pecah itu.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mantap: Zapin Riau Berpeluang Menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

26 Sep 2026 - 10:19 WIB

Mantap: Zapin Riau Berpeluang Menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

Syamsurizal: IKON Syair Perang Siak Jadi Catatan Sejarah Baru Siak dan Riau

25 Sep 2026 - 13:34 WIB

Syamsurizal: IKON Syair Perang Siak Jadi Catatan Sejarah Baru Siak dan Riau

Di Depan Anak-anak SMA, LAMR Ceritakan Jejak Dua Abad Syair Perang Siak

25 Sep 2026 - 11:56 WIB

Di Depan Anak-anak SMA, LAMR Ceritakan Jejak Dua Abad Syair Perang Siak

LAMR Sambut IKON Syair Perang Siak, Menghidupkan Kembali Tradisi Mengarak Titah Raja

25 Sep 2026 - 09:15 WIB

LAMR Sambut IKON Syair Perang Siak, Menghidupkan Kembali Tradisi Mengarak Titah Raja

BRK Syariah Raih Penghargaan Ketepatan Proyeksi Terbaik dari BI

24 Sep 2026 - 14:21 WIB

BRK Syariah Raih Penghargaan Ketepatan Proyeksi Terbaik dari BI
Trending di Pekanbaru