Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Rumah Besar

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, kalau kita ibaratkan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) itu rumah, maka dia bukan rumah petak di ujung gang yang pintunya diketuk sekali sudah marah. Ini rumah besar, halamannya luas, pintunya banyak, tapi adab masuknya tetap satu, buka alas kaki, rendahkan hati, jangan bawa parang apalagi bawa emosi setinggi menara.

Di rumah besar itulah anak kemanakan datang. Ada yang datang sambil mengeluh, ada yang datang sambil mengadu, bahkan ada pula yang datang sambil masam muka, seperti kucing kehilangan ikan asin. Tapi satu hal yang tak pernah diajarkan dalam rumah besar itu, Wak, datang untuk adu otot. Kalau ada yang salah paham lalu menantang, itu bukan sikap ksatria, Wak, itu ibarat ayam jantan lupa kandang, berkokok di dapur orang.

Adat Melayu sudah lama mengingatkan, “menang jadi arang, kalah jadi abu.” Nah, kalau begitu ceritanya, siapa pula yang untung? Rumah hangus, dapur dingin, yang tinggal hanya asap dan penyesalan. Maka jangan heran kalau rumah besar ini tak pernah menyediakan ring tinju, apalagi tribun penonton untuk sorak-sorai. Yang ada hanya tikar panjang, kopi panas, dan kata-kata yang ditimbang dengan akal.

Di situlah letaknya marwah. Rumah besar bukan gelanggang, tapi tempat menimbang rasa. Di situ, suara tinggi akan kalah oleh kata bijak, dan tangan mengepal akan kalah oleh tangan yang disodorkan untuk berdamai. Sebab dalam adat, orang yang paling kuat bukan yang paling keras pukulannya, tapi yang paling panjang sabarnya.

Lucunya Wak, kadang ada juga yang ingin menjadikan rumah besar sebagai saksi keributan. Seolah-olah kalau bertengkar di halaman adat, marwah jadi naik satu tingkat. Padahal, itu sama saja seperti mandi lumpur lalu berharap keluar wangi kasturi. Mana bisa, Wak.

Rumah besar ini berdiri tegab di atas falsafah yang tak main-main, Wak: adat bersendi syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Maknanya jelas, setiap langkah bukan sekadar ikut rasa, tapi ikut tuntunan. Maka ketika masalah datang, baik soal tanah, sengketa, atau sekadar salah paham, yang didahulukan adalah duduk bersila, bukan berdiri bersitegang.

Dalam tunjuk ajar Melayu, sebagaimana diwariskan oleh (Alm) Tenas Effendy, musyawarah itu bukan sekadar rapat panjang yang ujungnya makan kue. Ia adalah jalan mencari keseimbangan agar yang kusut terurai, yang retak kembali lekat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, bukan berat sama dipukul, Wak.

Ingat Wak! Yang paling indah dari rumah besar ini, tak pilih kasih. Walau namanya Melayu, pintunya terbuka untuk semuanya. Siapa saja yang menjejakkan kaki di Bumi Lancang Kuning, dia sudah dianggap keluarga. Filosofinya sederhana tapi dalam, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi jangan heran kalau di dalam rumah itu, logat boleh beda, tapi hati tetap satu arah.

Akhirnya, Wak, rumah besar ini bukan sekadar bangunan adat. Ia adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya. Kalau kita datang dengan marah, yang terlihat hanya kusutnya wajah sendiri. Tapi kalau datang dengan niat baik, yang tampak adalah indahnya persaudaraan.

Jadi, kalau ada yang masih ingin menjadikan rumah besar sebagai arena adu fisik, eloklah kita ingatkan pelan-pelan, rumah ini dibangun dengan adat, bukan dengan amarah. Kalau hendak bertarung, pergilah ke gelanggang. Kalau hendak bermarwah, pulanglah ke rumah besar. Paham!?

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

BRK Syariah Raih Runner Up Aulia Padel Tournament 2026

16 Sep 2026 - 08:56 WIB

BRK Syariah Raih Runner Up Aulia Padel Tournament 2026

Libatkan Seluruh Paguyuban, LAMR Siapkan Peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026

15 Sep 2026 - 16:59 WIB

Libatkan Seluruh Paguyuban, LAMR Siapkan Peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026

Asap Semakin Tebal: Pagi Tanpa Matahari, Malam Tanpa Bintang di Pekanbaru

15 Sep 2026 - 08:25 WIB

Asap Semakin Tebal: Pagi Tanpa Matahari, Malam Tanpa Bintang di Pekanbaru

Ketua SIWO PWI Kepri Endang Kurnia Juara National Open PWI Pekanbaru 2026 di Golden Break Pekanbaru

14 Sep 2026 - 17:19 WIB

Ketua SIWO PWI Kepri Endang Kurnia Juara National Open PWI Pekanbaru 2026 di Golden Break Pekanbaru

KSO Bukan Peralihan Hak: Penguasaan Masyarakat dalam Kawasan Hutan Harus Diselesaikan Sesuai Tipologinya

14 Sep 2026 - 12:50 WIB

KSO Bukan Peralihan Hak: Penguasaan Masyarakat dalam Kawasan Hutan Harus Diselesaikan Sesuai Tipologinya
Trending di Minda