Ikhtiar Merawat Marwah dan Catatan Silaturrahmi Penama Melaka
Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany
Ada sebuah syair yang mengalun pelan di lidah orang-orang selat—yang kita hafal sejak kecil—yang dinyanyikan seumpama mantra sebelum tidur: Tuah Sakti hamba negeri/ Esa hilang dua terbilang/ Patah tumbuh hilang berganti/Takkan Melayu hilang di bumi//. Itu bukan sekadar lagu Hang Tuah, lagu biasa yang didendangkan bagi mengenang keperkasaan Hang Tuah pahlawan Melaka. Itu adalah janji seorang hamba kepada negerinya, kepada marwah bangsanya, bahwa ia tak akan pergi sebelum tuahnya ditanam, sebelum pengabdiannya benar-benar dibuktikan, dibaktikan sepenuh jiwa.
SESEKALI dalam renunganku paling diam—sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan dalam arus padu sejarah Melayu yang pernah singgah—di antara deru Selat Melaka dan debur ombak pesisir Pulau Bengkalis yang deras dan kentara, kadang sempat pula kubertanya, di manakah ‘Tuah’ itu kini berada? Di manakah ia bermukim di tengah perkembangan zaman yang kian maju oleh teknologi dan berbagai kemudahan? Apakah ia bersembunyi pada ukiran masjid, pada tiang-tiang gedung yang megah dan menawan? Atau pada sampan perahu yang berlabuh di dermaga-dermaga tua dan usang tak lagi diingati?
Entahlah. Lalu dalam sunyi dan penuh teka-teki kudapati segala jawabannya itu. Ternyata ia wujud pada sesuatu yang lebih lembut dan abadi: pada huruf-huruf yang ditulis dengan penuh kasih—sebab sebuah negeri hanya akan kekal jika ia dituliskan, akan abadi-lah ia bila dikenang sepanjang waktu dan zaman. Dan dari tepian selat ini, ikhtiar mulia untuk menulis sebagai upaya merawat tradisi dan budaya itu kini kian himpun, tersimpul dalam sebuah nama yang syahdu. Tentu pula pada nama yang kelak akan menjadi ingatan sejarah bagi anak cucu, bagi generasi yang akan datang: Perkumpulan Penulis Bengkalis.
Penalis! Itulah akronimnya, sebuah nama yang terdengar begitu ringkas: Perkumpulan Penulis Bengkalis. Tetapi di balik ringkasnya nama yang ditabal itu, ada sebuah laman bermain yang luas, damai dan menenangkan. Laman yang ditumbuhi aneka ragam bunga berwarna-warni—yang akan selalu berseri, menjadi tempat terindah bagi setiap penulis, penyair dan sastrawan, juga sejarawan dan budayawan yang tunak menyulam kata dengan segala kerinduan. Mungkin juga ada yang datang ke sana dengan sajaknya, dengan prosa, karya ilmiah dan intelektualnya. Meski mereka dari berbagai latar belakang berbeda dengan bermacam genre kepenulisan yang ada, namun mereka tetap satu, duduk bersembang pada hamparan adat resam yang sama: merawat tradisi menulis, menjadi penjaga akan nilai-nilai budaya dan historis.
Semua kita tahu, bahwa Bengkalis adalah pulau sejarah, Pulau Sastra yang diberi tuah dan menyimpan berbagai berkah. Sejak dahulu, pulau ini telah banyak yang singgah, datang membawa barang dagangan, membawa berita bahagia, berita luka dan airmata, dan bahkan membawa lupa. Jika tak ada yang mencatat, lalu siapa yang akan ingat bahwa di sini pernah ada pelabuhan yang ramai, bangunan-bangunan lama yang menyimpan berbagai kisah, juga harapan dan doa yang dipanjatkan di tengah badai? Di sinilah Penalis berdiri, melanjutkan, meneruskan perkumpulan dan perhimpunan para penulis yang pernah ada sebelumnya.
Kehadiran Penalis hari ini sesungguhnya bukan sebagai tandingan, bukan pula sebuah gerakan yang latah dan tak tentu arah, melainkan berangkat dari niat yang tulus hendak mengembalikan kita kepada ingatan sejarah, bahwa dari Bengkalis inilah dulunya ia pernah dikenal, sebagai kawasan pesisir Selat Melaka yang tak sunyi dan henti melahirkan seniman, budayawan, para penjaga akar budaya dan tradisi yang sampai kini terus dirasakan. Dengan demikian, maka tak mustahil jika “Esa hilang dua terbilang” akan selalu hadir dan menjelma di setiap diri generasi penerus daerah ini.
Jika hari ini satu buku lapuk dimakan rayap, maka biarlah esok hari dua buku baru akan ditulis. Jika hari ini satu penulis lanjut usia berhenti karena matanya rabun, bertubuh renta tak berdaya, maka biarlah esok hari akan ada dua puluh anak muda bangkit dengan pena-pena dan tinta-tinta mereka yang masih basah. Itulah makna yang diajarkan oleh Selat kepada kita. Sampai kapan-pun kita tak akan pernah kekurangan cerita, kekurangan ide dan hal-hal mulia untuk selalu dituliskan. Kita hanya kekurangan insan-insan yang tunak, penulis-penulis yang mau menuliskannya dengan tekun dan sabar. Dan Penalis datang untuk mengajarkan semua itu, tentang arti kesabaran dan semangat tak pernah padam.
Jujur, sejak perkumpulan penulis ini dibentuk—dengan usianya yang masih terlalu sangat muda—bagai sebatang pohon jati yang baru saja ditanam dan mesti selalu disirami, aku membayangkan ruang-ruang kecil mana mereka akan berkumpul nanti, di laman-laman bestari yang manakah mereka akan menyusun kata, menkmati indahnya tulisan yang mereka hasilkan setiap hari? Semoga para pendiri, penggagas dan para ahli perkumpulan ini sentiasa bersatu hati, menggapai impian mulia yang dihajati—bagi memagari negeri ini dari segala macam bentuk kerusakan yang saban hari mengancam akal dan budi, terutama pada minda generasi muda yang datang kemudian nanti.
Sebagai orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting dalam teraju perkumpulan para penulis di Bengkalis, aku berharap tak ada yang merasa lebih tinggi, tak ada yang merasa lebih sastrawi. Sebab adat kita memang begitu mendidik dan memandu, bahwa duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Di organisasi penulis ini, setiap orang adalah hamba negeri (sang pengabdi), laksana Laksamana Hang Tuah yang taat setia kepada Sultan Melaka, yang semangatnya selalu hadir di setiap dada dan jiwa para penulis. Oleh karena itu, maka tuahnya akan menjadi sakti justru karena ia mau merunduk, mau menuliskan hal-hal kecil bermanfaat yang kadang terabaikan.
Maka betapa sejuk dan gembiranya hati ini pada Sabtu, 26 September 2026 itu, ketika di dalam sebuah majelis di Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis, berlabuh serombongan penulis dari negeri jiran Melaka, Malaysia—yang rela menyeberangi selat. Mereka adalah Persatuan Penulis Negeri Melaka (Penama) dibawah peneraju utama Cikgu Ahmad Zauawi Che Cob yang datang tidak dengan bendera yang megah, namun dengan kitab, buku-buku karya para penulis di sana. Mereka juga datang dengan senyum yang basah oleh air selat, selat yang menyatukan antara Melaka dan Bengkalis. Alhamdulillah, kami bersilaturrahmi berbalas pantun, duduk bersama dan berjabat tangan bagai saudara yang lama terpisah oleh garis di peta, namun disatukan kembali oleh aksara, oleh budaya dan adat resam yang tak jauh berbeda—dalam sebuah majelis dan agenda penuh makna: Bincang Penulis Serumpun.
Di majelis bersejarah di gedung LAMR Bengkalis, dalam rangkaian Program Penghayatan Budaya Serantau Penulis Negeri Melaka di Bengkalis (25-27 September 2026), aku melihat apa yang dimaksud dengan Melayu yang takkan hilang itu sungguh benar adanya. Bahasa kita sama, lenggoknya saja yang agak sedikit berbeda. Penulis Melaka melantunkan pantun dan seloka, penulis Bengkalis pun begitu juga. Tak ada perdebatan siapa lebih tua, siapa lebih asal. Yang ada hanyalah kekhusyukan para hamba negeri yang mengerti, bahwa tinta yang diteteskan di Bengkalis dan di Melaka, sesungguhnya berasal dari dakwat yang sama. Dan lebih dari itu, berakar rumpun pada sejarah yang sama pula, sebelum kedua-dua kawasan ini dahulunya dipisahkan oleh kekuasaan kolonial bangsa penjajah dan geopolitik yang ada.
Lihatlah, betapa halusnya kerja ini. Betapa dalam maknanya pertemuan ini. Ia tak gaduh. Ia tak pula menuntut panggung. Di zaman ketika anak-anak kita lebih fasih menghafal lirik dari negeri jauh daripada mengingat pantun, syair dan gurindam bunda mereka sendiri, PENALIS dan PENAMA hadir, mengajak pulang. Pelan-pelan. Dengan lembut, tidak memarahi. Hanya menggelar kertas putih dan berkata: tuliskan apa saja tentang kita, mungkin tentang sejarah kita yang pada masa lalu pernah bersama dan seiya sekata. Tuliskan juga nama ibumu. Tuliskan bau gulai asam pedas di dapurmu. Maka dari tulisan yang sederhana itu, Melayu tumbuh kembali dalam wilayah serantau yang gagah dan ranggi ini.
“Patah tumbuh hilang berganti”. Begitulah hukum pulau ini sejak dahulu. Jika dayungnya patah, ia raut kembali dayung yang baru. Jika penulisnya diam, ia lahirkan lagi penulis yang lain. Begitulah seterusnya. Aku melihat di antara mereka jika semangat menulis itu kian menyala. Mereka menulis puisi, sajak, dan prosa. Bahkan ada kalangan pensyarah (dosen), para akademisi yang berhimpun di dalamnya menuliskan karya ilmiah untuk keperluan mahasiswa dan pelajar-pelajarnya. Sungguh sesuatu yang membahagiakan. Luar biasa tentunya.
Maka wahai sahabat-sahabat penulis, mari kita jaga pena yang ada di tangan-tangan kita ini. Jagalah ia seperti kita menjaga wudhu saban waktu. Basuhlah dengan membaca yang banyak, usaplah dengan merenung yang dalam. Jangan mudah terpedaya oleh ambisi dan ingin selalu terkenal dan dipuja. Ketahuilah, bahwa kita sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar dari terkenal dan dipuja. Sebab kita sedang memastikan bahwa janji itu mesti ditepati, “Takkan Melayu hilang di bumi”. Ia tak akan hilang selama masih ada yang menuliskannya di tepian Selat Melaka yang riuh ini.
Akhirnya, izinkan tulisan sederhana ini kututup dengan doa paling lembut untuk kita semua, para penjaga kata di Bengkalis dan di Melaka yang kini bertaut hati. Semoga silaturrahmi ini menjadi saksi, bahwa Selat Melaka bukanlah pemisah, melainkan pengikat yang setia. Semoga tangan kita di kejauhan tak pernah lelah melambaikan salam, dengan sapa dan kata-kata mesra. Dan semoga pula dari pena-pena kita, tuah negeri di kedua negeri serumpun ini terus mengalir dan terjaga, dari satu generasi ke generasi yang lain. Dari satu matlamat suci ke matlamat suci yang lain pula.
Melalui pertemuan ini—dan dalam setiap hening kita paling sunyi, hendaknya semangat Laksamana Hang Tuah itu tetap hidup dan abadi dalam diri-diri kita, manusia-manusia pilihan sebagai pewaris kata-kata dengan segenap daya yang dipunya: menjadi suluh pelita di gemerlapnya cahaya dunia yang kadang hadir dan datang menyilau mata.
Tabik wahai para penulis, baik dari Bengkalis maupun dari negeri Melaka, Malaysia. Di lain waktu dan masa kembali kita bersua jumpa. Amin.
Wallahu a’lam.
Bengkalis, di tepian Selat Brouwer dan jalur perlintasan Selat Melaka, Ahad, 27 September 2026.








