Oleh Ivo Nela Kresna Parhusip
Seperti biasa, Sania sedang terduduk di balkon rumah sembari menikmati segelas coklat panas miliknya. Merenung dan menatap sendu kecupan senja yang menyejukkan jiwa. Entah sejak kapan ia menyukai senja, padahal dulunya ia sangat menyukai hujan.
Desiran angin yang berhembus sore itu membuat Sania terlena, ia tidak menyadari kedatangan Arini.
“Perlu ditambah lagi coklat panasnya nona?” kejut arini sembari menatap gelas milik Sania yang sudah tandas.
Karena kedatangan Arini yang tiba-tiba membuat Sania tersentak. “Buat kaget saja Rin,” keluh Sania.
“Lagi pula mengapa kamu termenung seperti itu? hati-hati, nanti kamu kemasukan setan loh,”.
“Hushh, jangan aneh-aneh bicarannya Rin” ucapnya membuat Arini tersenyum dan ikut terduduk disamping Sania. Helaan nafas yang berat dan tatapan sendu Sania, kembali Arini bertanya.
“Hal apa yang mengusik pikiranmu San?,” Sania menoleh dengan senyum kecut menghiasi wajahnya.
“Terlalu banyak hal yang mengusik pikiran ini Rin, banyak pertanyaan-pertanyaan yang larut dalam pikiran yang belum kutemukan jawabannya, dan segala ketakutan akan hal-hal buruk yang akan terjadi kedepannya.” Arini tak menanggapi perkataannya.
“Karna nyatanya segala yang ku rencanakan tak pernah bisa berhasil. Dan rasanya hidupku sia-sia saja selama ini” lanjutnya.
“Mengapa harus sekeras itu sama diri sendiri San? hidup ini singkat, jangan buang waktumu untuk memikirkan hal-hal rumit itu. Hiduplah dengan sewajarnya, semua hanya tentang bagaimana cara kamu menjalani, menikmati dan bersyukur akan hidup ini”.
“Sesederhana itu kah?” Tanya Sania dengan sedikit kesal.
“Lalu, apa menurutmu dengan menyesali dan mengutuki diri seperti ini dapat mengubah keadaan?” Balas Arini.
“Dan apa menurutmu segampang itu untuk tetap bisa menerima keadaan diri yang tidak baik-baik saja? aku juga manusia biasa Rin. Wajar aku merasa lelah, aku hanya tidak mengerti mengapa setiap usaha yang ku lakukan tidak pernah berjalan baik. Selalu kegagalan yang kuterima. Aku merasa Tuhan tidak pernah adil dalam hidupku”. Kenyataan itu yang membuat hancur hati Sania, membuat cairan bening yang sudah memenuhi matanya sejak tadi akhirnya luruh tak terbendung.
“Bukan Tuhan yang tidak adil atas hidupmu San, tapi dirimu sendirilah yang menghancurkan harapanmu”.
“Apa maksud dari perkataanmu itu Rin?” tanya Sania penuh lirih
“San, kamu hanya berharap pada manusia, apa kamu lupa bahwa Tuhan lah yang pegang kendali atas hidup dan takdirmu. Karna sekeras apapun kamu berusaha tetapi bukan itu yang ditakdirkan Tuhan mau bagaimana? Dan pastinya kecewa yang akan kamu dapatkan.”
Pernyataan itu membuat Sania terdiam, dan perlahan mencoba mencerna perkataan Arini.
“Jangan terlalu takut San, ikuti saja skenario yang telah disiapkan. Lakukanlah semua hal yang menurut kamu itu baik, berusahalah semampumu. Biarkan sang Maha Kuasa yang menentukan akhirnya,”.
“Lalu bagaimana dengan hati, masihkah kosong ruang itu?. Atau masihkah dihuni sang Tuan yang enggan kamu usir?,” tanya Arini dan menoleh pada Sania. Ia dapat melihat raut wajah pilu Sania yang menatap penuh luka sinar mentari yang semakin redup. “Aku juga tidak mengerti Rin, aku juga ingin terbebas dari keadaan ini. Dan itu juga yang sedang aku usahakan,” ucapnya pilu.
“Bukankah lima tahun sudah cukup untuk tenggelam dalam luka itu?, sudah saatnya kamu membuka hati. Dan juga, dia sudah ada yang memiliki San,” bujuk Arini.
“Ini bukan hanya masalah waktu Rin, aku juga sudah membangun tembok tembok pertahanan itu selama beberapa tahun ini. Tapi selalu retak bahkan nyaris runtuh ketika bertemu dengannya. Aku juga tidak mengerti mengapa sang Maha Kuasa selalu apik perihal pertemuan antara aku dan dia. Lagi pula, perihal membuka hati aku belum siap untuk patah lagi, dan terjatuh pada luka yang sama Rin,”. Ungkap Sania dengan sesak ketika mengingat sosok itu. Seseorang yang berhasil memporak-porandakan perasaannya. Kenangan tentangnya bak pedang tajam, yang kembali menggoreskan luka lama di hatinya yang bahkan belum pulih seutuhnya.
“Satu yang pasti San, sesuatu yang datang di kehidupan kita selalu dengan satu alasan. Agar kita dapat belajar. Belajar berkasih sayang, belajar melupakan, dan belajar terbiasa. Meski tak selalu berhasil pada pelajaran pertama, namun dapat mencoba untuk mengulangi pelajaran itu lagi bukan?,”.
“Kamu tidak perlu ragu Rin, aku akan selalu berusaha untuk belajar dan sembuh. Aku juga paham, aku perlu membahagiakan diri sendiri, membenahi diri, hingga aku bisa bangkit kembali menjadi lebih baik.” Ungkap Sania dengan senyum pada Arini.
“Baiklah San,” balas Arin dengan senyum manisnya. “ Baiknya kita turun, hari sudah semakin gelap,” ajak Arini yang mulai beranjak dari balkon rumah itu dan diikuti Sania.
Dengan begitu berakhirlah senja, rona jingga yang menghiasi semesta itu sudah redup. Berganti dengan gelapnya cakrawala. Namun inilah awal dari semua kisah. Awal yang baru untuk memulai kisah hidup yang lebih baik, dan awal yang baru untuk mengenang kisah yang lalu. Hal apapun yang terjadi dalam hidup tak boleh larut dalam kesedihan dan penyesalan karna waktu akan terus berjalan.
Ivo Nela Kresna Parhusip adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak







