RiauKepri.com, PEKANBARU- Fajar masih malu-malu menyibak kabut subuh, ketika halaman Markas Polda Riau di Jalan Patimura, Pekanbaru, Riau, perlahan-lahan mulai dipenuhi manusia. Ada yang menggeliat pemanasan, ada yang sibuk menyesuaikan tali sepatu, dan tak sedikit yang hanya berdiri, diam, menatap langit yang belum sepenuhnya biru. Hari itu, Ahad (13/7/2025), ribuan pasang kaki bersiap melangkah di satu event lari terbesar di Sumatera, Riau Bhayangkara Run 2025.
Langkah pertama dimulai tepat pukul 06.00 WIB. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin flag off, didampingi Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Gubernur Riau Abdul Wahid. Mereka juga turun ke lintasan, bukan untuk berpidato atau sekadar memantau, melainkan berjalan santai, menyapa warga, bercengkerama, menjadi bagian dari kerumunan. Di pagi itu, tak ada jarak antara pejabat dan rakyatnya.
Suasana hangat menyelimuti udara yang masih segar. Jenderal Sigit dan Irjen Herry tersenyum lepas, meladeni sapaan warga.
Tak ada formalitas berlebihan, hanya manusia yang sama-sama menikmati pagi dan energi kebersamaan.
Tahun ini, lebih dari 13.000 peserta membanjiri event tahunan ini. Dari yang paling kecil hingga yang paling tua, dari warga lokal hingga pelari internasional, semuanya mengambil tempat di garis start dengan semangat yang sama, menyatu dalam gerak, dalam semangat, dalam harapan. Tiga kategori lari disediakan, 21K, 10K, dan 5K, membuka ruang bagi semua kalangan untuk ikut ambil bagian.
Gubernur Riau, Abdul Wahid, mengenakan jersey oranye mencolok. Ia berjalan santai di antara warga, melontarkan candaan ringan, sesekali menyapa anak-anak yang memberikan semangat dari pinggir lintasan. Tak ubahnya seorang kawan lama yang kembali pulang, Wahid tampak menikmati suasana, meresapi kehangatan yang tak bisa diduplikasi oleh seremonial apapun.
“Ini bukan hanya perayaan Hari Bhayangkara, tapi juga pembuktian bahwa Riau bisa menjadi tuan rumah event besar,” ujar Irjen Herry Heryawan, bangga namun tetap rendah hati. Ia menyebut angka 14 ribu peserta bukan sebagai klaim, tapi sebagai bentuk cinta warga terhadap olahraga dan lingkungan.
Ya, lingkungan. Di balik deru napas dan keringat yang menetes, Bhayangkara Run juga membawa pesan lain yang lebih dalam pesan tentang cinta alam. Dalam sambutannya, Gubernur Wahid menggarisbawahi pentingnya merawat alam. Ia menyinggung Taman Nasional Tesso Nilo, kawasan konservasi yang selama ini menjadi ikon sekaligus tantangan perlindungan ekologi di Riau.
“Kita ingin hidup berdampingan dengan alam, supaya masa depan anak cucu kita tetap terjaga,” ujarnya.
Kata-kata itu tak sekadar retorika hari itu, ribuan orang hadir bukan hanya membawa energi, tapi juga harapan.
Ketika garis finish akhirnya dicapai oleh satu per satu pelari, mereka tidak hanya membawa pulang medali atau sertifikat. Mereka membawa pulang cerita. Tentang pagi yang cerah di Pekanbaru. Tentang pejabat yang berjalan bersama rakyat. Tentang ribuan langkah yang menyatu, untuk olahraga, untuk persaudaraan, untuk bumi yang lebih lestari.
Dan di tengah semua itu, Bhayangkara Run menjadi lebih dari sekadar lomba lari. Ia menjadi simbol, bahwa olahraga, jika diiringi niat baik dan semangat bersama, bisa menjadi jembatan antara hati-hati yang ingin terus peduli. (RK1)








