KUANTAN SINGINGI tidak hanya jadi “lumbung dan penghasil” orang pintar di Riau. Di daerah ini juga lahir pejuang perintis kemerdekaan yang ikut mewarnai perjalanan panjang bangsa ini sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Salah satu pahlawan pejuang perintis kemerdekaan Indonesia di Kuantan Singingi adalah KIAI HAJI (KH) UMAR USMAN. Seorang pemimpin yang merakyat dan pernah berkali-kali ditangkap penjajah Belanda, Inggris, dan Jepang karena pidato-pidatonya yang pedas dan tajam.
Umar Usman merupakan orang pertama asal Kuantan Singingi yang bergabung dengan Jong Islameten Bond (JIB). Ia juga tokoh pertama asal Kuantan Singingi yang jadi Bupati Militer Indragiri (5 Januari 1949 – 2 Februari 1952) dan anggota DPR RI (1971 – 1976) pada era Pemerintahan Presiden Suharto.
UMAR USMAN lahir di Telukkuantan pada 15 Desember 1912. Anak dari pasangan Saha dan Sai tumbuh di keluarga yang sederhana, namun punya tekad membaja.
Ketika umur tujuh tahun, ia menimba ilmu di Sekolah Rakyat di Telukkuantan. Kemudian melanjutkan pendidikan di English Arabic School di Singapura.
Pada 1929, Umar Usman memperdalam ilmu agama di Al Irsyad Al Islamiyah di Batavia (Jakarta). Sekolah ini didirikan pada 6 September 1914 oleh Al-Irsyad Syekh Ahmad As-Surkati Al-Anshari.
Saat sekolah di Al Irsyad Al Islamiyah itu, Umar Usman juga aktif di organisasi pergerakan JIB. JIB yang disebut juga dengan Perhimpunan Pemuda Islam adalah organisasi perhimpunan pemuda dan pelajar Islam Hindia Belanda.
JIB turut andil dalam Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
JIB didirikan 1 Januari 1925 di Batavia diprakarsai Raden Syamsurizal alias Raden Syam dan sejumlah tokoh seperti: Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, RH Kasman Singodimedjo, Mr. Mohammad Roem, Mr. Syafruddin Prawiranegara, dan Mohammad Natsir.
Dalam perjalanannya, JIB menerbitkan surat kabar Annur (Het Licht) dan organisasi Pandu Indonesia (Natipij) yang merupakan organisasi pertama dengan nama berbahasa Indonesia. Di bidang pendidikan, JIB mendirikan sekolah: Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau sekolah Belanda untuk Bumi Poutera.
Kantor Pusat JIB semula di Batavia (1925-1935). Kemudian pindah ke Semarang (Jawa Tengah). Anggota JIB pada 1925 tercatat 1004 orang di seluruh wilayah Hindia Belanda – sekarang di Indonesia. Sedangkan Ketua Umum JIB pada 1935 adalah M. Arif Aini.
JIB bubar pada 1942 bersamaan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia. Namun perjuanganya akan terpatri dalam lintasan sejarah perjuangan Indonesia.
PADA 1931, Umar Usman diminta oleh masyarakat Telukkuantan pulang kampung, mengajarkan agama Islam. Kebetulan, setahun sebelumnya, Yahikam Datuk Penghulu Malin asal Sentajo sudah mendirikan sekolah bernama Nurul Islam di Telukkuantan.
Selain menjadi guru di Nurul Islam, Umar Usman melakukan dakwah dari kampung ke kampung. Dakwahnya selalu mengobarkan semangat juang masyarakat melawan penjajah. Karena itu, ia selalu mendapat pengawasan yang ketat dari pihak Belanda.
Dalam melakukan dakwah dari kampung ke kampung, Umar Usman selalu memilih tofik yang membangkitkan semangat masyarakat untuk melawan penjajah. Dakwahmya selalu diawasi oleh Belanda.
Puncaknya ketika Umar Usman memimpin rapat yang di adakan di gedung bioskop Teluk Kuantan. Pada saat itu, dia menyampaikan pidato yang menceritakan perjuangan umat Islam di Tripoli dan Turki melawan penjajahan Italia.
Rupanya ada seorang Controleur (Kontrolir) Belanda yang hadir dalam rapat tersebut. Akibat pidatonya, Umar Usman ditangkap Belanda dan kemudian diajukan ke pengadilan. Dari hasil persidangan, ia dihukum penjara selama 3 tahun (1931 -1934). Semenjak itulah dia di penjarakan di Yogyakarta.
Selama menjalani hukuman Umar Usman dipekerjakan sebagai sekretaris penjara. Sebagai balasan dari jasanya yang digunakan Belanda, akhirnya Gubernur Jenderal Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936) berkedudukan di Bogor memberikan remisi atau pengurangan masa hukuman dari 3 tahun menjadi 2,5 tahun.
Umar Usman keluar dari penjara pada 1934 dengan persyaratan harus memenuhi peraturan Passentrelsel yang mewajibkan setiap penduduk yang akan berpergian memiliki surat jalan. Hukuman ini tentunya sangat menyiksanya karena tidak bisa lagi menyampaikan dakwah kepada masyarakat.
Pada 1934 Umar Usman kembali dipenjarakan Belanda di Padang dengan tuduhan melanggar UU pasal 154 karena tulisan yang dibuatnya dianggap mendorong rakyat untuk melawan, rasa benci, dan merendahkan martabat Belanda.
Pada 1937 Umar Usman keluar dari penjara Patitih, Padang. Keputusan hakim yang menyatakan bahwa dia di penjara selama 4 tahun hanya dijalaninya 2,5 tahun. Banding yang diajukannya sebelum ditahan diterima oleh hakim.
Pada 1939 Umar Usman mengikuti Kongres Islam di Kuala Lumpur (Malaysia). Nasibnya nahas. Setelah kongres selesai ternyata Inggris sudah menanti dan menggiringnya ke penjara.
Umar Usman ditahan karena dianggap berbahaya karena Inggris mendapatkan surat dari Batavia yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang tokoh komunis.
Umar Usman tidak dapat berbuat apa-apa sampai Jepang masuk ke Indonesia pada 1942. Jepanglah yang membebaskan dirinya dari penjara Kuala Lumpur. Jepang juga mengangkat dirinya untuk menjadi intel atau tentara rahasia Jepang yang biasa disebut Fuji Kikan atau F-Kikan.
Ia ditugaskan menjadi F-Kikan di daerah Rantau Kuantan yang wilayahnya meliputi Kabupaten Kuantan Singingi sekarang. Namun mengetahui niat sesungguhnya Jepang, ia berbalik menentang Jepang. Ia dianggap Jepang sebagai penghianat. Akibatnya ia ditangkap dan dibawa oleh Jepang.
KETIKA Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, Umar Usman ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dan, ketika Soekarno-Hatta memproklamairkan kemerdekaan 17 Agustus 1945, ia berada di garda terdepan dalam mendukung kemerdekaan RI.
Pasca proklamasi, Umar Usman kembali menjalani aktivitas dakwahnya. Meskipun harus keluar masuk penjara demi membentuk semangat para pejuang untuk memperjuangkan kemerdekaan dan bangkit dari penindasan penjajah. Baginya menjalankan misi meski pada akhirnya harus kembali ke penjara merupakan hal yang biasa.
Pada awal kemerdekaan di Rantau Kuantan, Umar Usman bergabung dengan sejumlah pemuka masyarakat yang mendukung kemerdekaan RI. Di antaranya, Jamal Lako Sutan, Umar Amin Husin, Buya Hasan Arifin, Buya Ma’rifat Mardjani, Ibad Amin, Sarmin Abroes, Syafii Yatimi, Ibnu Abbas, Abdoer Rauf, Thoha Hanafi, Saidina Ali, Muhammad Noer Raoef, Radja Rusli, dan lainnya.
Umar Usman dan kawan-kawan ikut aktif menggerakkan masyarakat Indragiri khususnya Rantau Kuantan mendukung kemerdekaan RI. Mereka juga berjuang melakukan perlawanan melalui perang gerilya di hutan-hutan yang ada di Rantau Kuantan.
KETIKA agresi Belanda ke-2 pecah 19 Desember 1948, Umar Usman dan perjuang lainnya di Rantau Kuantan bergabung dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr. Syarifuddin Prawiranegara yang berpusat di Bukitinggi.
Umar Usman selain menjadi Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia untuk wilayah Riau Umar Usman juga anggota Dewan Pertahanan Daerah Riau yang diketuai oleh Residen (Pembantu Gubernur) Riau, Abdul Malik.
Pada 5 Januari 1949, dua pesawat Mustang Belanda muncul dari arah tenggara Kota Rengat melakukan penembakan dan pelemparan granat.
Serangan serupa juga dilakukan di Telukkuantan dan Air Molek. Setelah itu tidak beberapa lama muncul 7 buah pesawat Dakota di Rengat dan menerjunkan pasukan payung “Baret Hijau”.
Belanda tidak pandang bulu dalam menyerang rakyat. Belanda menyerang dengan membabi buta. Mayat korban penembakan di buang ke sungai Indragiri sehingga sungai penuh dengan mayat yang hanyut.
Di antara korban yang meninggal salah satunya adalah Bupati Kabupaten Indragiri yaitu Toeloes atau Tulus. Tulus merupakan orang tua kandung penyair Chairil Anwar dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang” (dari karyanya yang berjudul Aku). Chairil Anwar adalah anak tunggal pasangan Tulus dan Saleha asal Sumatera Barat.
Kelak Chairil Anwar menjadi penyair terkemuka Indonesia yang telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus pelopor puisi modern Indonesia.
Dengan meninggalnya Bupati Tulus, otomatis Umar Usman yang merupakan anggota Dewan Pertahanan Riau yang berada di daerah tersebut diangkat menjadi Bupati Militer Kabupaten Indragiri oleh Gubernur Militer Riau pada pertengahan Januari 1949.
Karena Rengat sudah dikuasai Belanda maka pemerintahan mundur ke tempat yang lebih aman. Pada 10 April 1949, Telukkuantan juga berhasil dikuasai oleh Belanda.
Pada 14 Desember 1949 pemerintahan darurat Kabupaten Indragiri meninggalkan Lubuk Ambacang dan pindah ke Telukkuantan karena pasukan Koninklijk Nederlands(ch)-Indisch Leger (KNIL) telah meninggalkan posnya di Teluk Kuantan.
KNIL adalah tentara Kerajaan Hindia Belanda adalah angkatan perang kolonial Hindia Belanda. KNIL memiliki unit angkatan udaranya sendiri yang bernama Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger dan beberapa elemen Angkatan Laut Kerajaan Belanda juga ditempatkan di Hindia Belanda.
Pada Desember 1949 bersama dengan komandan tempur Indragiri Kapten Marahalim. Umar Usman dipanggil ke Bukittinggi untuk menghadiri perundingan penyerahan kekuasan dari Pemerintah Hindia Belanda dengan Local Joint Comite untuk melakukan penyerahan Indragiri.
Akhirnya pada 27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kekuasan dari Pemerintah Hindia Belanda di Indragiri dari Belanda ke pihak Indonesia di Rengat.
Dua putra asal Kuantan Singingi, Umar Usman dari Telukkuantan, Kecamatan Kuantan Tengah dan Radja Roesli dari Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik merupakan anggota Tim Pemerintah RI yang menerima kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda di Kabupaten Indragiri.
PADA tahun 1953 Umar Usman pergi ke Jakarta untuk menjadi Anggota Penerangan Organisasi Islam Asia Tenggara sampai 1971. Kemudian pada 1971, Umar Usman dipanggil lagi ke Pekanbaru oleh Gubernur Riau pada saat itu Arifin Achmad untuk menjadi anggota DPR RI (1971-1976).
PADA 5 Januari 1949 – 2 Februari 1952 Umar Usman jadi Bupati Militer Indragiri menggantikan Tulus yang ikut terbunuh pada perisiwa 5 Janauri 1949. Sebelumnya ia anggota Dewan Pertahanan, namun tewasnya Bupati Tulus mengakibatkan Umar Usman langsung diangkat dan menggantikan Bupati Tulus.
Setelah menjadi Bupati Militer, ia aktif dalam kegiatan untuk mengisi kemerdekaan. Ia ditunjuk menjadi anggota DPR Sumatra Tengah pada 1952-1953.
Dalam lintasan sejarah Umar Usman merupakan Bupati Indragiri ke-4 dari 10 yang pernah menjadi sebelum Indragiri dimekarkan jadi dua tahun 1965: Yakni Indragiri Hulu dengan ibukota Rengat dan Indragiri Hilir degan ibukota Tembilahan.
Sebelumnya Bupati Indragiri dijabat oleh Encik Ali Datuak Bendahara (1945-1947), Amir Hamzah (1947-1949), dan Tulus (1948-1949). Kemudian setelah Umar Usman (1949-1952), jabatan bupati Indragiri secara berturut-turut diiisi oleh Raja Yamin (1949-1952), Oedin (1952-1955), Datuk Wan Abdurrahman (1955-1956), Datuk Ahmad (1956-1858), dan Tengku Bay (1958-1960).
Kemudian Masnoer sempat menduduki jabatan Bupati Indragiri dan Indrgairi Hulu ketika Kabupaten Indragiri mekar jadi Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir (1959-1976).
Selanjutnya Bupati Indragiri Hulu adalah: Doelharsono (1976-1984), Tata Suparta (1984-1989), Ruchiyat Saefudin (1989-1984 dan 1994- 1999), Raja Thamsir Rachman (1999-2004), Raja Mambang Mit (2004-2005), Raja Thamsir Rachman (2005-2008), Mujtahid Thalib (2008-2010), Yopi Arianto (2010-2015), Kasiaruddin (2015-2016), dan Yopi Arianto (2016-2021).
Selanjutnya Hendrizal dilantik sebagai Pelaksana Harian Bupati Indragiri Hulu 17 Februari 2021 dan berakhir pada 29 Maret 2021). Setelah itu Chairul Riski sebagai Penjabat Bupati Indragiri Hulu (29 Maret 2021- 5 Juli 2021), Rezita Meylani (5 Juli 2021-2024) dan Ade Agus Hertanto (2025 – 2030).
Umar Usman merupakan “putra terbaik” asal Kuantan Singingi yang menduduki jabatan sebagai Bupati Indragiri sebelum Indragiri mekar jadi Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir berdasarkan UU Nomor 6 tahun 1965.
Sekarang Kabupaten Indragiri Hulu kembali menjadi Kabupaten Indragiri. DPRD Indragiri Hulu mengesahkan perubahan nama itu pafa 2023 lalu.
PAHLAWAN Perintis Kemerdekaan ini meninggal dunia di Jakarta 20 Desember 1989 dan dimakamkan di di Desa Koto Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah.
Sebenarnya Umar Usman layak di makamkan di TMP berdasarkan
Persyaratan pemakaman di TMP yang berada di lingkungan Departemen Pertahanan didasarkan pada Undang Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang kemudian diperjelas dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 2010. Namun karena kecintaan dan selalu ingin dekat dengan rakyatnya ia memilih dimakamkan di kampung halamannya, Telukkuantan.
Umar zusman pasih pelbagai bahasa asing seperti: Belanda, Jepang, dan Arab. Ia dikukuhkan sebagai pejuang6 peritis kemerdekaan sesuai Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor Pol 621/65.
Umar Usman memang telah lama meninggalkan kita. Namun nama teman akrab dan seperjuangan Gubernur Riau, H. R. Soebrantas Siswanto (1978-1980) tetap harum dan abadi.
Makamnya secara rutin diziarahi dan tabur bunga pada Hari Bakti Pemasyarakatan (27 April), Hari Bhayangkara (1 Juli), Hari Bhakti Adhyaksa (22 Juli), Hari Kemerdekaan RI (17 Agustus), Hari TNI (5 Oktober), Hari Pahlawan (10 November), Hari Jadi Kabupaten Kuantan Singingi (12 Oktober), dan lainnya.
Bahkan sejumlah politisi yang mau ikut Pemilihan Kepala Daerah di Kabupatan Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir maupun maju sebagai calon legislatif berziarah dan tabur bunga untuk menghormati jasa dan perjuangannya untuk bangsa tercinta di makamnya.
Jasamu tidak akan pernah kami lupakan.*)
Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam








