Menu

Mode Gelap
Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah Menampi Dedap Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI Pulau Terubuk Bersholawat Bersempena Haul Raja Kecik Berjalan Khidmat Billy Yusak Resmi Memimpin BM Kosgoro 1957 Bintan

Ragam

Ibad Amin (1910-1958): Pembuka Dakwah Muhammadiyah di Kuantan Singingi

badge-check


					Ibat Amin Perbesar

Ibat Amin

TUMBUH kembang Muhammadiyah di Kuantan Singingi, Riau tidak bisa dilepaskan dari sosok yang satu ini. Dialah “Pembuka dakwah Muhammadiyah di Kuantan Singingi.”

Sosok yang dimaksud adalah Ibad Amin kelahiran Desa Sangau, Kecamatan Kuantan Mudik sekitar tahun 1910. Cerita berawal ketika Ibad Amin mendapat mandat dari Ahmad Rasyid Sutan Mansur atau AR Sutan Mansur untuk mempersiapkan pendirian Ranting Muhammadiyah di Lubuk Jambi.

AR Sutan Mansur merupakan Konsul Muhammadiyah Minangkabau meliputi Tapanuli dan Riau pada 1931 hingga 1944. AR Sutan Mansur diangkat jadi konsul berdasarkan keputusan Kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau pada 14-26 Maret 1930. Kongres melahirkan sebuah keputusan agar setiap Karesidenan memiliki wakil dari Hoofdbestuur yang disebut sebagai Konsul Muhammadiyah.

Hoofdbestuur” adalah kata dalam bahasa Belanda yang secara harfiah berarti “kepala pengurus” atau “dewan pimpinan utama”. Dalam konteks organisasi, terutama di masa lalu, istilah ini merujuk pada pengurus besar atau kantor pusat sebuah organisasi, seperti NU dan Muhammadiyah.

AR Sutan Mansur nikah dengan Fatimah yang juga Kakak Buya Haji Abdul Karim Amarullah (HAMKA). Ia menjadi Ketua PP Muhammadiyah (1953-1956 dan 1956-1959). Menurut Ketua PP Muhammadiyah (1959-1962), KH. Raden Muhammad Yunus Anis, AR Sutan Mansur merupakan “Bintang” Muhammadiyah dari Barat. Gelar ini diberikan karena kedalaman ilmu tasawuf yang dimilikinya.

Sebelum kedatangan Ibad Amin ke Lubuk Jambi, dua orang utusan dari Lubuk Jambi: Dasin Jamal dan Mohammad Sulaiman Khatib terlebih dahulu menemui AR St. Mansur di Padang Panjang. Mereka minta utusan untuk mempersiapkan pendirian Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi.

Bantuan itu diamini AR Sutan Mansyur dengan menyanggupi dan berjanji segera mengirim Ibad Amin. Utusan itu merupakan “putra daerah ” asal Lubuk Jambi yang waktu itu sedang bertugas mengajar di Kerinci, Kabupaten Sungai Penuh, Jambi sebagai utusan Sumatra Thawalib Padangpanjang.

Ibad Amin menjalani pendidikan di Sumatra Thawalib Padang Panjang. Ia berguru langsung kepada Buya Karim Amarullah yang juga orang tua dari HAMKA dan AR Sutan Mansur yang juga istri dari kakak HAMKA bernama Fatimah.

Ketekunannya dalam belajar, usai menyelesaikan sekolah di Thawalib Padang Panjang, Ibad Amin diutus menjadi guru di Kerinci, Sungai Penuh.
Pada awal September 1933, Ibad Amin datang dengan membawa mandat dari AR Sutan Mansur ke Lubuk Jambi. Ibad Amin menjumpai Dasin Jamal dan Sulaiman Khatib yang sebelumnya sudah menjumpai AR Sutan Mansur di Padangpanjang.

Kedatangan Ibad Amin mendapat sambutan hangat. Setelah selesai mengurus segala sesuatu yang menyangkut dengan perizinan kepada Pemerintah, Penghulu, dan Orang Godang, Ibad Amin mengadakan rapat persiapan di Surau Godang, Pasar Lubuk Jambi.

Lalu pada 9 September 1933, terbentuklah kepengurusan Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi. Semua tokoh yang mengambil inisiatif dan jadi pengurus pertama Ranting Muhammadiyah adalah putra Lubuk Jambi sendiri. Ibad Amin ditunjuk sebagai Penasehat dan Ketua, Mudasin (Wakil Ketua), Sulaiman Khatib (Sekretaris), Raja Ibrahim (Keuangan), Sa’ad Manan dan Arsyad (Pembantu). Kepengurusan ini langsung berhubungan dengan Pengurus Utama di Yogyakarta.

Ternyata dalam perjalanan setelah kepengurusan Muhammadiyah terbentuk mendapatkan pertentangan di Lubuk Jambi. Kalangan ninik mamak dan kaum adat yang punya pengaruh dalam kehidupan masyarakat Lubuk Jambi melakukan perlawanan. Sebagai pengatur tatanan kehidupan sosial masyarakat mereka merasa dilangkahi.

Ninik mamak dan kaum adat ini mempunyai kedudukan sentral dan kuat dalam pelbagai kehidupan dalam masyarakat Lubuk Jambi. Termasuk dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan agama yang menentang Muhammadiyah mendirikan mesjid di perkampungan.

Ninik mamak menilai Muhammadiyah mengubah kebiasaan lama masyarakat Lubuk Jambi dengan kebiasan baru. Misal dalam pelaksanaan shalat Jumat. Sebelumnya dilaksanakan di satu tempat, yaitu di Mesjid Jamik Koto Lubuk Jambi.

Tujuannya ini bertujuan agar ninik mamak dapat melakukan pembinaan terhadap masyarakat Lubuk Jambi. Namun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk tidak memungkinkan jika pelaksanaan shalat Jumat diadakan di Mesjid Jamik. Akhirnya ninik mamak dan kaum adat mau menerima dan memberikan “laluan” kepada Muhammadiyah untuk mendirikan mesjid di desa-desa. Hal ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam pelaksanaan shalat Jum’at.

Dalam perjalanan selanjutnya, Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi terus berkembang. Pada masa kepemimpinan Hasan Arifin (1935- 1940) Muhammadiyah Ranting Lubuk Jambi menjadi tiga ranting. Yaitu: Kinali (1937), Sungai Pinang (1938), dan Pebaun dan Cengar (1938).

Dengan adanya ranting ini maka persyaratan bagi Muhammadiyah Lubuk Jambi untuk mendirikan cabang terpenuhi, sehingga terbentuklah Muhammadiyah Cabang Lubuk Jambi tahun 1938. Selajutnya Muhammadiyah meluas sampai ke Telukkuantan, Baserah, Cerenti, Peranap sampai ke Indragiri.

Muhammadiyah Cabang Lubuk Jambi juga mengembangkan amal usaha yang telah dimiliki. Dan, amal usaha Muhammadiyah kini terus berkembang. Dan, amal usaha Muhamamdiyah kini ada di setiap kecamatan di Kuantan Singingi.

SELAIN tokoh tokoh Muhammadiyah, Ibad Amin juga pejuang yang namanya kini dikenang masyarakat Kuantan Singingi. Bersama pejuang lainnya seperti Intan Hoesin, Radja Roesli, Ma’rifat Mardjani, Sarmin Abrus, Umar Usman, Hasan Basri, Syafi’i Yatimi, Thoha Hanafi, Syaidina Ali, Abdul Raoef, Muhammad Noer Raoef, Amin Hoesin, Ibnu Abbas ikut mengusir penjajahan dari Kuantan Singingi.

Ibad Amin juga termasuk pejuang yang menentang tindakan kewenangan-wenangan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Ia bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dibentuk oleh Ahmad Husein di Padang pada 15 Februari 1958. PRRI membentuk pemerintah “tandingan” dibawah Perdana Menteri Mr. Sjafruddin Prawiranegara melawan tindakan kesewenangan-wenangan Pemerintah Pusat.

Ibad Amin bergabung dengan pasukan Dewan Banteng yang mendukung PRRI dalam melawan Pemerintah Pusat yang membentuk Operasi 17 Agustus untuk menumpas PRRI di Sumatra Tengah Pusat menunjuk Kolonel Ahmad Yani untuk menumpas PRRI. Sedangkan di Lubuk Jambi operasi penumpasan PRRI dipimpin oleh Kapten Fadillah.

Dan Ketika Riau masih tergabung dengan Provinsi Sumatra Tengah, Ibad Amin pernah menjadi asisten wedana atau camat di Kuantan Mudiki Kabupaten Indragiri. Yakni camat Kuantan Mudik (1956-1958) dan Mandi Angin di Bukittinggi (1958).

IBAD AMIN menikah pertama kali dengan Siti Khadijah asal Lubuk Jambi yang juga pendiri SMP Muhammadiyah di Lubuk Jambi. Sang istri mendirikan asrama membangun asrama Mu’alimim Muhammadiyah di Koto Lubukjambi. Murid pertamanya adalah Adli Hasan yang juga cucu dari Ibat Amin dari anaknya Siti Nurani Ibad.

Dan, anak tertua pasangan Ibad Amin dan Siti Khadijah yakni Siti Nuraini pernah jadi Ketua (Pimpinan Aisyiyah Daerah (PAD) Kabupaten Indragiri Hulu.

Kemudian istri kedua Ibat Amin, Marissa merupakan bidan kampung di Lubuk Jambi. Dari pernikahannya itu mereka mempunyai buah hati yakni Sri Chairani lahir (1940), Mulyadi (1944), Edi (1946), Sri Chairati (1948), Sri Adek (1950), Sri Warni (1952), Sri Gunawan (1954), dan Iskandar Alamsyah (1956).

SEBAGAI ulama dan tokoh pejuang Ibad Amin meninggal dunia ketika ikut bergabung dengan PRRI melawan pemerintah Pusat. Informasi yang diterima salah seorang cucunya Reflizar, Ibat Amin meninggal sekitar tahun 1958.

Reflizar menyebut datuknya hilang tanpa jejak. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Inilah kisahnya sebagaimana diceritakan Zushesni Gayatri yang juga cucu Ibad Amin dari anaknya Sri Chairati.

Zulhesni menceritakan kronogis kepergian datuknya berdasarkan cerita dari ibunya Sri Chairati yang menyaksikan langsung peristiwa mencekam malam itu.

TENGAH malam menjelang tidur kebiasaan Datuk, mengaji Alquraan. Datuk membelai rambut Sri Chairati anak gadisnya yang tengah berbaring di pahanya.

Tiba-tiba datang sekelompok orang memakai sebo yang mengaku suruhan Bupati Indragiri Tengku Bey. Orang itu menyuruh Datuk menghadap bupati karena ada sesuatu hal penting. Datuk minta izin mengganti pakaian jubah putih dan kopiah haji yang dipakainya ke kamar. Alasannya tak layak memakai pakaian seperti itu menghadap bupati.

Namun orang yang menjemput itu tidak mengizinkan Datuk untuk menggantikan pakaian jubah putih yang dipakainya. Tiba-tiba saja orang yang menjemput Datuk meletakkan pedang bengkok ke leher belakang Datuk sambil mengajak pergi. Suasana malam yang hening tiba-tiba mencekam. Anak-anak Datuk yang lagi tidur terbangun dan bertangisan mendekap nenek Marissa yang terduduk lemas. Sejak itu Datuk tidak kembali lagi.

REFLIZAR mengatakan Ibat Amin menduga Pemerintah Pusat yang lagi melakukan operasi 17 Agustus untuk menumpas pasukan PRRI di Sumatra Tengah yang meliputi Riau, Jambi, dan Sumatra Barat. Sedangkan di Lubuk Jambi operasi penumpasan PRRI di pimpin oleh Kapten Fadillah.

Ibat Amin adalah tokoh penting pendukung PRRI melawan Pemerintah Pusat yang saat itu tengah bergejolak. Ia merupakan salah seorang target tokoh yang dicari untuk dihabisi.

“Itu dugaan saya karena pada waktu itu banyak juga tokoh-tokoh pro PRRI seangkatan datuknya di Lubuk Jambi diculik orang tak dikenal,” ujar Ongah Molid sapaan akrab wartawan senior multi telenta di Kuantan Singingi ini.

Reflizar hanya tahu neneknya Marisa meninggal dalam usia 80 tahun di Desa Pulau Binjai Lubuk Jambi bertepatan bulan Suci Ramadhan pada tahun 1980. “Saya ingat ketika nenek Marisa meninggal dunia saya masih kelas empat di SD 004 Seberang Pantai dan tinggal bersama nenek di Pulau Binjai,” ujar Reflizar.

Ibad Amin memang telah meninggal. Namun, jasanya terhadap perjuangan dalam membesarkan Muhammadiyah dan berjuang melawan penjajahan ini tidak akan pernah hilang. Ia disebut “tokoh” bukan karena “ditokohkan” tapi karena kontribusi, perjuangan, dan sumbangan tenaga dan pemikirannya terhadap negara ini.*)

Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

BRK Syariah Resmikan Kantor Baru di Baserah, Perkuat Layanan Perbankan Syariah Enam Kecamatan di Kuansing

22 Desember 2025 - 15:00 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Trending di Kuansing