Menu

Mode Gelap
Pemkab Siak Kukuhkan SOTK Baru, Terjadi Mutasi Demi Kelancaran Pembayaran Gaji ASN Ikuti Seminar Peningkatan Mutu Akademik, Puluhan Mahasiswa Unilak Muntah 3 Rumah di Dusun Nadi Bangka Tengah Terseret Arus Banjir, PT TIMAH Tbk Salurkan 300 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Sepuluh Kepala Daerah dan Tiga Wartawan Raih Trofi Abyakta di HPN 2026 Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 13 Januari 2026: Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada Kecelakaan Tunggal di Pelalawan, Sepasang Karyawan Bank Tewas

Minda

Labirin Kuasa

badge-check


					Ilustrasi AI Perbesar

Ilustrasi AI

Oleh Hang Kafrawi

Asap kopi mengepul tipis di kedai Nah Meun, bercampur bau tembakau dari rokok yang diisap pelan oleh Atah Roy. Dari kursinya yang menghadap jalan tanah kampung, Atah Roy melihat lalu-lalang motor tua dan anak-anak berlari mengejar bola plastik. Petang itu udara berat, bukan karena cuaca, tapi karena obrolan yang sudah lama mengendap di kepalanya. Di meja depan, Darus masuk dengan langkah mantap, jas rapi, jam tangan mengilap. Orang-orang di kedai berbisik tentang mobil hitamnya yang terparkir di depan.

“Assalamualaikum, Tah,” sapa Darus.

“Waalaikum salam, Darus. Duduklah, kite minum kopi panas, biar lidah kite tak kaku,” jawab Atah Roy, matanya lurus ke gelas.

“Ape kabo kampung, Tah? Dengo-dengo kabo Atah masih sibuk dengan urusan jambat itu?” kata Darus membuka cerita sambil memesan secangkir kopi ke Nah Meun.

“Bukan sibuk, Darus. Hanye menjage agar mimpi orang kampung ini tak hanyut. Jambat itu nyawe bagi kami, orang kampung,” jawab Atah Roy tersenyum tipis.

“Tah, semue itu ade proses. Kite tak bisa langsung, Atah tahulah aturan sekarang,” ucap Darus sambil mengaduk kopinya yang baru ditaruk Nah Meun di mejanya.

“Aturan?” potong Atah Roy, matanya menatap tajam. “Aturan yang kau maksud itu, Darus, labirin. Orang kampung ini ibarat tikus di dalamnye. Setiap jalan yang mereke tempuh, dindingnye semakin tinggi. Dan yang pegang kunci pintu keluar orang-orang macam dikau,” suara Atah Roy sedikit meninggi.

“Ah, Atah, jangan keras-keras. Dunie ini permainan, Atah cume belum pandai mainnye,” ucap Darus tertawa kecil.

“Bermain dengan perut orang lapo, Darus? Bermain dengan jalan rusak yang memutus anak ke sekolah? Kalau itu permainan, make pemenangnye cume penjahat,” Atah Roy semakin menggeram.

Kedai hening. Hanya suara sendok beradu dengan gelas. Nah Meun, si pemilik kedai, pura-pura sibuk mengelap meja di sudut belakang. Orang-orang di kedai kopi itu hanye saling pandang tanpa mengeluarkan suara.

“Aku tak pernah lupe, Darus! Dulu dikau yang paling lantang mendukung gagasan jembatan itu. Dikau duduk di sini juge, mengangguk-angguk saat aku paparkan rencane jembatan itu. Tapi setelah kau duduk di kursi tinggi, kau lihat aku seperti orang asing. Bahkan dikau patahkan setiap usul aku di depan orang ramai!” suara Atah Roy bergetar menahan geram.

“Politik,Tah. Atah tak akan mengerti,” Darus menghela napas, berusaha tertawa.

“Kalau politik itu alasan untuk melupekan asal, biolah aku tak mengerti. Lebih baik aku tetap jadi orang kampung yang tahu berterime kasih, dibandingkan jadi orang kota yang pandai menjual kepalsuan,” ucap Atah Roy, kali ini suaranya rendah tapi mengiris.

Darus terdiam. Kopinya sudah dingin. Ia menatap Atah Roy seakan ingin menjelaskan sesuatu, tapi kata-kata itu tak pernah keluar.

Di luar kedai, langit mulai merah. Atah Roy berdiri, membayar dua gelas kopi. “Aku balik dulu, Darus. Jangan sampai dikau tersesat dalam labirin yang dikau buat sendiri, sebab labirin itu tak akan selamenye menyembunyikan pintu keluarnye.”

Darus hanya menunduk. Atah Roy melangkah keluar, meninggalkan kedai Nah Meun dengan langkah mantap. Petang itu, di antara aroma kopi dan tembakau, tersisa rasa pahit yang tak bisa diaduk oleh sendok mana pun juga.

Darus masih duduk membisu. Dari jendela kedai, ia melihat punggung Atah Roy makin jauh, bayangnya melebur dengan cahaya senja. Ada desir aneh di dadanya, seperti perahu yang goyah dihantam gelombang kecil tak tampak, tapi membuatnya oleng.

Nah Meun menghampiri, meletakkan lap kain di bahu. “Darus, labirin itu memang bisa buat orang tersesat, tapi yang lebih mengerikan kalau dikau sendiri tak sado dikau di tengahnya,” kalimat idari Nah Meun tu singkat, tapi menancap ke jantung Darus.

Di luar, Atah Roy melangkah melewati anak-anak yang tadi bermain bola plastik. Mereka tertawa, tak tahu apa-apa tentang jembatan yang tak pernah selesai dibangun, tentang janji-janji yang karam di meja rapat. Atah Roy mengangguk pada anak-anak itu, seperti memberi isyarat bahwa tak semua orang dewasa harus jadi pembohong.

Darus memandang cangkirnya lagi. Kopi itu kini seperti cermin, Darus melihat wajahnya sendiri, tapi dengan garis-garis yang tak pernah ia sadari ada. Wajah seorang yang pernah bermimpi sama, tapi kini menjadi dinding dalam labirin yang menahan orang-orang yang ia cintai.

Suara azan Magrib terdengar dari surau di ujung kampung. Nada itu mengguncang, seperti mengetuk pintu di hatinya. Namun, sebagaimana kebiasaan barunya, Darus memilih tetap duduk. Seolah panggilan itu bukan lagi untuknya.

Atah Roy yang kini sudah di jalan tanah menuju rumah, berhenti sejenak mendengar azan yang sama. Atah Roy menatap langit yang memerah. “Ya Allah, selamatkanlah die dari labirinnye sendiri,” ucap Atah Roy menuju ke surau.

Di kedai kopi, Darus akhirnya berdiri, melangkah keluar. Mobil hitamnya berkilau di bawah cahaya lampu jalan yang baru menyala. Ia memegang gagang pintu mobil, tapi ragu. Kepalanya menoleh sebentar ke arah surau. Ada jalan ke sana, ada pula jalan ke kota. Satu langkah ke kanan, satu langkah ke kiri. Di tengah keraguan itu, Darus sadar, ia sendiri tak tahu jalan keluar dari labirin yang ia bangun.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Siak: Jika Belum Bisa Melayani dengan Baik, Jangan Malu Minta Maaf

12 Januari 2026 - 14:53 WIB

PT BSP Berprestasi dan Peduli, Konsisten Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

12 Januari 2026 - 12:40 WIB

Pengungkapan Sumpah Bertandatangan Gubernur Riau (Berhalangan Sementara) Abdul Wahid

12 Januari 2026 - 09:45 WIB

Deteksi Kebocoran Pipa: Dari Kewajiban Teknis Menuju Strategi Integritas Aset Migas

12 Januari 2026 - 09:29 WIB

Pakar: Pipa Gas PT TGI Meledak Lagi Karena Tidak Ada Inspeksi Menyeluruh

11 Januari 2026 - 11:45 WIB

Trending di Inhu