HARI ini, Sabtu 13 September 2025 adalah seratus hari Afni Zulkifli dan Syamsurizal menjabat sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Siak. Untuk menjadi pemimpin di negeri istana itu penuh perjuangan: masih terniang gugatan lawan politik dan Afni-Syamsurizal harus dihadapkan dengan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di beberapa TPS. Padahal, mereka sudah menang pada Pilkada serentak.
Retak tangan orang siapa yang tahu, Afni yang berlatar belakang wartawan dan seorang aktivis itu, akhirnya atas kuasa Allah kembali meraih suara terbanyak. Tangis haru menghiasi ruang-ruang hati masyarakat Siak yang memang menghendaki Afni-Syamsurizal memimpin mereka.
Perjuangan pasangan dengan slogan Kito Gas (Gerakan Afni-Syamsurizal), tak sebatas PSU tapi menunggu pelantikan yang juga membuat jantung berdetak kencang. Pasalnya, kepala daerah dalam Pilkada serentak sudah dilantik semuanya. Begitu mereka dilantik, Afni dan Syamsurizal disambut dengan keuangan daerah yang hampir kering kerontang, dan ditambah dengan utang. Azab pokoknya. Bagaimana Afni dan Syamsurizal menghadapi persoalan ini semua, sementara janji politik sudah harus ditepati. Berikut ini wawancara khusus Taufik Hidayat, wartawan riaukepri.com (RK) dengan Bupati Siak Afni Zulkifli:
RK: Apa tantangan utama yang langsung dihadapi setelah pelantikan sebagai Bupati Siak pada 4 Juni 2025?
Afni: Kami langsung dihadapkan pada kenyataan pahit. Tumpukan utang Pemkab Siak yang sangat besar. Lebih menyedihkan, sebagian utang itu adalah honor guru ngaji, kader Posyandu, perangkat kampung, dan para pekerja pengabdi yang belum dibayar berbulan-bulan.
RK: Bagaimana dengan proyek-proyek besar, apakah juga masih menyisakan utang?
Afni: Ironis memang, justru sebagian proyek besar itu sudah lebih dulu dilunasi. Sementara yang menunggu hak-haknya untuk kebutuhan sehari-hari masih harus bersabar. Ini yang jadi pergulatan batin kami, memilih mendahulukan ambisi visi-misi atau menuruti hati nurani.
RK: Berapa besar sebenarnya tunda bayar dan utang yang diwarisi?
Afni: Utang pihak ketiga di bawah Rp200 juta, mayoritas kontraktor lokal kecil, mencapai lebih dari Rp50 miliar. Kalau ditotal seluruhnya, defisit dan utang mencapai sekitar Rp400 miliar. Ini sangat jauh lebih berat dibanding masa 2017–2018 yang hanya Rp150 miliar dan masih bisa ditolong oleh dividen BUMD.
RK: Apakah BUMD masih bisa diandalkan sebagai solusi?
Afni: Tidak seperti dulu. Sekarang justru BUMD sedang merugi. Ketika kami dilantik, Siak sedang babak belur dari hampir semua sisi.
RK: Bagaimana langkah pertama yang dilakukan terhadap kondisi keuangan ini?
Afni: Kami tak punya pilihan selain mulai mencicil semua utang itu. Berat memang, tapi harus. Bayangkan, walaupun beban proyek sepanjang 2024 sudah menembus Rp331 miliar, diawal 2025 tetap saja dilelang proyek baru senilai lebih dari Rp100 miliar, berbasis utang juga.
RK: Bagaimana respons masyarakat terhadap kondisi ini?
Afni: Sangat menyentuh. Nomor pribadi saya dibanjiri curhat. Ada yang sampai diancam cerai karena honor belum dibayar. Ada yang datang ke rumah dinas. Para supir angkutan gratis sekolah juga berteriak di media sosial karena gaji tak kunjung dibayar. Padahal ini semua utang lama, sebelum kami dilantik.
RK: Bagaimana keputusan diambil terkait kondisi seperti itu?
Afni: Hati nurani harus menang. Kami pilih mendahulukan hak kaum buruh, termasuk para supir angkutan gratis anak sekolah. Alhamdulillah, cicilan tahap pertama untuk mereka yang tertunggak sejak Februari sudah kami lunasi.
RK: Seberapa besar utang yang sudah berhasil dibayarkan sejauh ini?
Afni: Sampai tanggal 8 September 2025, kami sudah membayar Rp161 miliar atau sekitar 49,25% dari total tunda bayar. Masih tersisa Rp165,9 miliar lagi yang harus kami selesaikan.
RK: Apa konsekuensi dari fokus membayar utang ini terhadap kegiatan OPD?
RK: Semua OPD harus melakukan efisiensi besar-besaran. Banyak kegiatan strategis terpaksa dikurangi, bahkan hampir habis. Tapi satu hal yang kami jaga, pelayanan dasar untuk rakyat tidak boleh terganggu.
RK: Efisiensi dilakukan sampai sejauh mana?
Afni: Dari unsur pimpinan pun dimulai. Perjalanan dinas kami potong lebih dari separuh. Beberapa staf kami gaji dari dana pribadi. Tagihan kecil seperti papan bunga kami bayar sendiri. Bahkan sampai hari ini, saya belum menggunakan mobil dinas resmi.
RK: Ada yang bilang, “Itu kan warisan. Kenapa harus dibayar?” Bagaimana tanggapannya?
Afni: Itu hutang resmi yang tercatat dan sah. Maka sesuai prinsip tanggung renteng dalam pemerintahan, tetap harus diselesaikan. Itu bukan lagi soal siapa mewariskan, tapi siapa yang bertanggung jawab kepada rakyat.
RK: Kenapa gaji dan tunjangan pegawai sekarang sering terlambat?
Afni: Karena harus kami prioritaskan untuk melunasi tunda bayar. Tapi semua ini kami buka agar publik tahu apa adanya. Transparansi kami pilih, agar rakyat bisa mengerti dan tidak ada dusta di antara kita.
RK: Hari, Sabtu tanggal 13 September adalah 100 hari anda jadi bupati Siak, apa capaian konkret yang sudah dilakukan?
Afni: Memang belum banyak. Tapi kami sudah:
Memperbaiki sebagian jalan rusak.
Menurunkan harga elpiji 3 Kg.
Menggratiskan dua seragam sekolah.
Menyelesaikan beberapa konflik lahan.
Memperjuangkan hak petani.
Menata kembali aset daerah.
Membangun kolaborasi lintas sektor.
Semua ini dilakukan sambil menanggung beban utang yang luar biasa besar.
RK: Apa pesan anda kepada masyarakat Siak yang mulai khawatir atau kecewa?
Afni: Mohon maaf, dalam 100 hari ini kami belum bisa mewujudkan banyak janji visi-misi. Tapi yakinlah, kami terus bekerja perlahan tapi pasti. Badai ini pasti reda, dan Siak akan kembali bangkit. Kami hanya mohon doa dan dukungan agar niat baik ini mendapat ridha Allah dan keberkahan bagi Negeri Istana.
RK: (Terkahir) Apa harapan Anda ke depan?
Afni: Semoga setelah semua utang ini selesai, pembangunan bisa dijalankan dengan cara yang bermarwah, PAD meningkat, dan Siak kembali berjaya. InsyaAllah, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. (RK1)








