Menu

Mode Gelap
Anambas Masuk Program Reaktivasi Internet BAKTI, 17 Lokasi Strategis Segera Terlayani Prakiraan Cuaca Jumat 23 Januari 2026: Mayoritas Wilayah Kepri Berawan, Sejumlah Titik Berpeluang Hujan Ringan Revitalisasi Pasar dan Tol Laut Jadi Fokus Audiensi Pemkab Anambas dengan Kemendag RI Respons Cepat Polisi Cegah Karhutla Meluas, Kebakaran Semak di Nongsa Berhasil Dikendalikan Dari Malaysia ke Riau, Mahasiswa UKM Merajut Silaturahmi Serumpun di LAMR SF Hariyanto Vs Ida: Jurus Terbuka di Gelanggang Kewenangan

Meranti

Polisi Pastikan Kematian Wanita Muda di Meranti Murni Bunuh Diri

badge-check


					Kamar jenazah RSUD Kepulauan Meranti, Jalan Dorak, Selatpanjang. F: Ist Perbesar

Kamar jenazah RSUD Kepulauan Meranti, Jalan Dorak, Selatpanjang. F: Ist

RiauKepri.com, MERANTI – Pihak kepolisian memastikan bahwa penyebab kematian Sri Mulyana (26), wanita muda yang ditemukan meninggal di rumahnya murni bunuh diri. Kepastian itu diungkapkan setelah dilakukan proses otopsi pada Jumat (21/11/2025) di kamar jenazah RSUD Kepulauan Meranti, Jalan Dorak, Selatpanjang.

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi SH SIK MH, melalui Kasat Reskrim AKP Roemin Putra SH MH mengungkapkan bahwa setelah dilakukan otopsi dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) di lapangan maka didapatkan kesimpulan bahwa korban murni bunuh diri.

“Otopsi itu dilakukan untuk mengetahui pasti penyebab kematian korban karena ada yang dianggap janggal. Namun kita belum ada menetapkan tersangka, hanya saja diamankan untuk kebutuhan penyelidikan lebih lanjut,” ujar AKP Roemin Putra saat dihubungi Wartawan, Sabtu (22/11/2025) malam.

Dijelaskan AKP Roemin Putra, dari hasil otopsi memang ditemukan tanda-tanda kekerasan dengan benda tumpul di leher korban, namun itu memang tali yang menjerat leher korban untuk mengakhiri hidupnya.

“Bukti lainnya yang menguatkan korban bunuh diri dengan adanya video yang direkam korban sebelumnya kejadian tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, pihak kepolisian telah melakukan otopsi terhadap korban pada Jumat (21/11/2025). Otopsi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB itu dipimpin langsung oleh Kasubdit Dokpol Biddokkes Polda Riau, AKBP Supriyanto, bersama tim forensik. Dari pemeriksaan tersebut, tim medis menemukan adanya sejumlah tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Dari dari hasil otopsi ini kami memang menemukan adanya beberapa tanda-tanda kekerasan, spesifik saya tidak bisa jelaskan,” ujar AKBP Supriyanto kepada sejumlah wartawan usai proses otopsi.

Dia juga menjelaskan bahwa penyebab kematian korban dipastikan berkaitan dengan aspeksia, yaitu kondisi tubuh yang mengalami kegagalan napas.

“Untuk penyebab matinya saya minta waktu, yang pasti memang karena aspeksia,” jelas Supriyanto.

Disampaikan pula bahwa aspeksia dapat terjadi melalui dua mekanisme, yaitu karena tergantung ataupun gantung diri, sehingga diperlukan penggabungan hasil otopsi dengan data penyidikan di lapangan.

“Jadi, aspeksia itu metodenya ada dua, bisa karena tergantung atau gantung diri. Kita harus dikombine dengan keterangan-keterangan penyidik dari hasil olah TKP,” ungkapnya.

Sebelumnya, Sri Mulyana ditemukan meninggal dunia di dapur rumahnya di Jalan Utama, Desa Tenan, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau pada Rabu (19/11/2025) malam.

Penemuan jenazah diketahui sekitar pukul 22.30 WIB. Unit Identifikasi Polsek Tebingtinggi Barat segera mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi SH SIK MH, melalui Kapolsek Tebingtinggi Barat, Iptu Iskandar Nopianto membenarkan adanya laporan terkait penemuan mayat jenazah wanita tersebut. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan bekas ikatan pada leher.

“Iya benar, telah dilakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) dan jenazahnya sudah dibawa ke RSUD untuk proses lebih lanjut,” ujar Iskandar Kamis (20/11/2025) siang.

Dijelaskan Iskandar, korban yang lahir di Lalang pada 19 Oktober 1999 itu pertama kali dilaporkan oleh suaminya, Arifin (28). Menurut keterangan saksi Kolil (53), tetangga korban, ia didatangi Arifin yang meminta pertolongan. Saat tiba di rumah, Kolil melihat korban sudah meninggal dunia dalam keadaan tergantung di area dapur, sebelum kemudian diturunkan bersama suami korban.

Dari hasil observasi awal yang dilakukan oleh dokter, pihak kepolisian menemukan beberapa kejanggalan yang dinilai tidak sepenuhnya sesuai dengan kasus bunuh diri pada umumnya.

“Kejanggalan pada kondisi tubuh korban memungkinkan mengindikasikan bahwa peristiwa ini perlu pengusutan lebih lanjut,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi juga tidak menemukan tanda-tanda umum pada korban gantung diri, seperti keluarnya cairan dari kemaluan, bintik-bintik perdarahan di area mata, tetesan air liur, maupun kondisi lidah yang biasanya terjulur.

“Ketiadaan tanda-tanda fisik yang biasa ditemukan pada korban gantung diri tentu menimbulkan kecurigaan sehingga perlu pendalaman lebih lanjut,” pungkasnya. (RK12).

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

SK Jadi Modal Hidup Baru: 1.670 PPPK Paruh Waktu Meranti Kini Lebih Mudah Akses Pembiayaan Syariah

22 Januari 2026 - 15:17 WIB

Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau

21 Januari 2026 - 19:43 WIB

Tangis Norma Pecah di Pekanbaru, Pasutri Korban Mafia Tanah di Meranti Mencari Keadilan

20 Januari 2026 - 12:06 WIB

Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam

19 Januari 2026 - 09:50 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Trending di Meranti