AKHIR pekan ini, aku duduk dengan dua orang kawan satu kabupaten, boleh dikatakan sekampung. Satu PNS Provinsi Riau, satu lagi PNS Kabupaten Kepulauan Meranti. Aku sendiri hampir jadi P3K, tapi entah kenapa takdir lebih suka aku hidup dengan deadline dan kopi, jadilah wartawan, profesi penuh doa dan utang di warung. Heee…!?
Kami mengikat janji jumpa selepas Zuhur di sebuah kedai kopi entang Jalan Sudirman, Pekanbaru. Tepat waktu, kami sudah tercacak, kopi hitam panas, rokok dua kawan tu menyala, sedangkan aku sudah berhenti merokok jika ingin jantung terus berdetak.
Kami berbual sesuka hati perut, pada topik Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), menjadi bahan ketawa. Soalnya, benda ini macam penyangga iman dan dompet PNS.
Kawan PNS Provinsi Riau mulai buka lawang. Katanya, TPP mereka tetap dibayar, cuma tiga bulan terakhir dipotong 30 persen. Tapi tenang saja, kata pemimpin, yang entah kenapa ucapannya sering terdengar seperti bisikan makhluk halus, tahun 2026 TPP dijamin dibayar penuh, tak ada potong-memotong lagi.
Aku angguk-angguk, pura-pura paham.
Belum sempat aku komentar, kawan PNS Meranti tampak tersenging, ketawa kecil. Hisap rokok dalam-dalam, tenang betul mukanya, macam baru terima gaji padahal keuangan Meranti kabarnya lagi loduh, kering kerontang, kalau cermin retak seribu.
Dalam hati aku heran: “Budak ini ngape santai saje. Apa dia tak bergantung pada TPP seperti PNS pada umumnya? Apa SK-nya sudah bisa dimasak jadi lauk?”
Penasaran, aku pun bertanya.
“Macam mane TPP di Meranti?”
Dia jawab santai, seolah bercakap soal cuaca di musim hujan, sedap menangkop sagu nghendang. “Kami di Meranti dah kebal, bang. Dibayar empat bulan, tak dibayar pun tak bual.”
Aku terngangak.
“Kenape macam itu pula?”
Katanya lagi, dengan wajah penuh keikhlasan tingkat dewa penunggu gumbang. “Puas kami kene janji-janji. Janji tu dah macam nasi benyai. Nak bising pun tak ade gune. Duit pun memang tak ade.”
Lalu kawan PNS Meranti itu menutup dengan kalimat sakti: “TPP tu bagi kami PNS di Meranti, hukumnya makruh. Ade kami ambik, tak ade kami diam saje.”
Meja kopi langsung bergoncang oleh tawa kami. Inilah mungkin satu-satunya daerah di mana TPP naik kelas dari hak pegawai jadi fiqih penghasilan.
“Soal TPP 2026,” tanyaku.
“Macam sabut hanyut di Sungai Siak,” jawabnya.
“Timbol-tenggelam, bang. Kadang nampak, kadang ghaib, tenggelam,” sambung kawan tu.
Tak sampai di situ, dia tambah satu perencah lesing penutup, “Pemimpin di kampung kite tu, entah kenape, takut pade satu orang. Kalau takut pade kepentingan masyarakat macam Bupati Siak, kami dukung. Ini takut pade kepentingan satu orang saje.”
Aku diam. Kopi terasa pahit, bukan karena gulanya kurang, tapi karena kenyataan terlalu jujur. Menjelang Ashar, aku minta diri balik. Sempat aku tanya,
“Kalau makan minum ini, amankan?”
Kawan PNS Meranti tu menjawab, “Kalau makan minum, aman, bang.”
Aku balik dengan satu kesimpulan: Di negeri orang lain, TPP itu penambah semangat. Di Meranti, TPP itu ujian kesabaran. Dan bagi PNS-nya, TPP bukan lagi soal duit, tapi nampaknya soal iman, keikhlasan, dan kemampuan menertawakan nasib sendiri.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







