RiauKepri.com, JAKARTA — Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 pada era Presiden Soeharto, meninggal dunia pada 2 Maret 2026 di usia 90 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta. Kabar wafatnya dikonfirmasi oleh Menteri Sekretaris Negara dan memicu gelombang penghormatan dari berbagai kalangan.
Dalam perjalanan kariernya, Try bukan hanya dikenal sebagai wakil kepala negara, tetapi juga sebagai tokoh militer berpengaruh. Sebelum diangkat sebagai Wapres pada 1993, ia menjabat sebagai Panglima TNI dan pernah menjadi Kepala Staf TNI AD, menandai kiprah panjangnya di jajaran militer Indonesia.
Namun, jejak Try dalam sejarah militer juga mengundang diskusi luas, salah satunya terkait insiden Tanjung Priok 1984. Peristiwa ini masih diperdebatkan dalam catatan sejarah nasional karena keterlibatan aparat keamanan saat itu.
Analisis sejarah menyebut Try sebagai salah satu pemimpin militer di masa itu, sehingga diskursus tentang peristiwa tersebut turut terseret dalam refleksi publik menyikapi wafatnya.
Selama masa jabatannya di kabinet Soeharto (1993–1998), Try dikenal sebagai figur yang banyak berinteraksi dengan berbagai unsur pemerintahan dan panglima militer lainnya. Peran ini juga menjadi bagian dari dinamika politik di masa akhir Orde Baru, yang masih dikaji oleh sejarawan dan pengamat politik.
Kini, dengan berpulangnya Try Sutrisno, banyak pihak menilai saat yang tepat untuk melihat kembali kontribusi dan kontroversi yang menyertai era kariernya sebagai bagian dari narasi sejarah Indonesia modern, baik di kancah militer maupun pemerintahan sipil. (RK6/*)







