RiauKepri.com, PEKANBARU– Naskah kuno Syair Raja Siak koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dengan nomor W 273 resmi memasuki tahap pemaparan dalam proses nominasi Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Tahap tersebut menjadi syarat krusial dalam penilaian oleh Dewan Pakar IKON.
Pengusulan naskah ini diprakarsai oleh Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak bersama LAMR Provinsi Riau, dan diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Siak melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Siak, Setya Hendro Wardana, menandatangani dokumen pengajuan tersebut.
Budi Rahmad Ramadhan yang menjadi salah satu ahli pendukung nominasi, Selasa (11/8/2026), mengatakan proses ini merupakan capaian penting karena untuk pertama kalinya pengusulan naskah kuno dari Provinsi Riau mencapai tahap pemaparan setelah melalui perbaikan berdasarkan hasil reviu Komite IKON.
Dalam proses nominasi, jelas Budi, tiga ahli independen yang memberikan dukungan keilmuan adalah budayawan dan sastrawan Riau Taufik Ikram Jamil, peneliti filologi Melayu Universitas Lancang Kuning Iik Idayanti, serta Budi Rahmad Ramadhan yang merupakan Ahli Cagar Budaya Tingkat Pratama dari LAMR Kabupaten Siak.
Pengusulan Syair Raja Siak juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga dan tokoh, di antaranya Perpusnas RI, Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, LAMR Provinsi Riau, LAMR Kabupaten Siak, Dinas Kebudayaan Kabupaten Siak, Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, akademisi UIN Sultan Syarif Kasim Riau, mantan Gubernur Riau Syamsuar, serta praktisi arkeologi dan ahli cagar budaya dari Siak.
Syair Raja Siak merupakan naskah Melayu beraksara Jawi yang terdiri atas 31 folio atau 62 halaman. Naskah ini ditulis di atas kertas Eropa dengan tinta hitam dan rubrikasi merah, serta mengisahkan pergulatan politik Kesultanan Siak setelah wafatnya Raja Kecil, penyerbuan pos VOC di Pulau Guntung, dan konflik Siak dengan VOC pada 1761.
Menurut ringkasan pengusulan, naskah W 273 menjadi salah satu saksi teks Syair Perang Siak yang memiliki nilai penting dalam historiografi, sastra, dan tradisi intelektual Melayu. Naskah tersebut dinilai mampu menghadirkan perspektif Melayu yang dapat dibandingkan dengan catatan kolonial sehingga mendukung pencalonannya sebagai Ingatan Kolektif Nasional.
Budi Rahmad Ramadhan berharap proses pemaparan di hadapan Dewan Pakar dapat berjalan lancar sehingga Syair Raja Siak berpeluang ditetapkan sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional Indonesia. (RK1)










