KONSISTENSINYA menjaga detak jantung budaya tak usah diragukan lagi. Dia begitu mencintai dunia yang mulai ditinggalkan generasi muda saat ini.
Wajar jika orang menyebutnya sebagai penjaga marwah budaya di Kuantan Singingi. Dia palang pintu yang siap menghadang siapapun yang merusak budaya.
Si empunya nama adalah Supar Mi – salah seorang penggiat seni tradisional dan conten creatort di Kuantan Singingi, Riau. Konsisistensi dan kecintaannya untuk menjaga budaya tak pernah pudar di usianya yang makin menua.

“Kalau bukan kita (menjaga) siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Itu alasan sederhananya,” ujar pria yang dipanggil akrab Par Mi.
Alasan lain? Tentu Par Mi tidak ingin budaya di Kuantan Singingi tergerus dan hilang ditelan bumi. Dia ingin agar generasi muda mencintai dunia ini.
Par Mi hampir tak pernah absen dalam setiap kebudayaan yang digelar di Kuantan Singingi. Entah itu randai, hikayat, sepakraga, dendang, komedi, dan lainnya. Tak hanya hadir, dia ikut terlibat dan jadi mentor di dalamnnya.
Pria kelahiran 14 April 1971 ini begitu tegar menjaga marwah budata ini. Ibarat batu karang di tengah lautan, dia siap dihempas badai. Dia meniti di atas buih di tengah gelombang yang maha dahsyat. Semua itu demi menyelamatkan budaya dan menjaga marwah budaya tetap terjaga di Kuantan Singingi.
Di tempat tinggalnya Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah kini Par Mi terus membina generasi muda untuk mencintai budaya.
Wajar, jika pemerintah memberikan apresiasi kepadanya. Namun itu bukanlah tujuan utamanya. “Misi utama saya adalah menjaga marwah. Jika ada penghargaan itu alhmdulillah,” jelasnya.
Tahun 2023 dia pernah jadi nominasi kategori komedian/lawak tradisional terpilih ke-3 utusan Pengda PaSKI Riau yang digelar PaSKI. Kendati gagal meraih juara, namun ini cukup membuktikan eksistensinya di dunia Komedi.
Parmi mampu mewarisi seniornya Fakhri, Udin, dan Abral sebagai komedian. Dia juga mewarisi kemampuan Jum’at dan Piri sebagai tukang hikayat.
Par MI boleh dibilang seniman bertelentah dan serba bisa dari Kuantan Singingi.
Di tengah dunia seni dan budaya tidak mendapatkan tempat di Pemkab Kuantan Singingi, Par Mi dan kawan tetap berkarya.
Entah sampai kapan….







