“LELAH boleh menyerah jangan. Hidup itu harus diperjuangkan, Kawan!”
Itulah motto hidup Sirpuat (64): “Jupen” alias “Juru Penerang” tanpa SK dari pemerintah. Ia kini tinggal di Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi.
Sejak tahun 1986 silam, Puat sapaan akrabnya sudah melakoni profesinya sebagai Jupen: memasang dan memperbaiki instalasi listrik di kampung halamannya.
Puat dijuluki Jupen seumur hidup. Kerjanya tidak mengenal kata “pensiun” seperti Jupen “benaran” yang diangkat berdasarkan SK oleh pemerintah.
Kata Jupen itu melekat pada Puat karena dialah yang menerangi kampung halamannya dengan listrik. Bermula sejak 1986 hingga sekarang.
Semula Puat hanya “stokar” atau pembantu pamannya Paisol dengan nama beken Pisol. Seiiring perjalanan waktu statusnya statusnya naik menjadi “sopir” alias sudah mandiri.
Sebagai Jupen lika- liku hidup pria kelahiran Sentajo tahun 1960 panjang dan berliku. Tamat SD 2 Sentajo di Pulau Komang pada 1973, Puat sudah masuk hutan “baladang kasang” di Rimba Siaga, Sentajo.
Sementara kawan-kawan seperjuangannya: Ismaili, Hardi Nasri, Yasrif, Saidin Asmara (Pandak) melanjutkan ke jenjang SMP di Telukkuantan.
“Waktu itu dua adik saya Idas dan Sarpius alias Saujat sedang sekolah. Saya mengalah untuk menang,” ujarnya mengenang.
Menurut Puat, dirinya pernah ditawari Martius Kartijo melanjutkan pendidikan ke jejang menengah ke Telukkuantan. Ada tiga pilihan yakni SMP, SMEA, dan ST di Telukkuantan.
Waktu itu Pak Kartijo tengah melaksanakan tugas sebagai anggota Tenaga Kegiatan Sosial (TKS) di Desa Muaro Sentajo. Namun Kartijo
memberikan dua persyaratan kepada orang tuanya.
Pertama: Selama sekolah anaknya (Puat) tinggal bersama Kartijo. Kedua, setamat sekolah, anaknya ikut Kartijo ke tempat tugasnya atau ke kampung halamannya di Pulau Jawa.
“Saya tak mau karena Pak Kartijo beragama Kristen. Saya takut diajak ikut agama dia (Kristen). Padahal itu belum tentu,” ujarnya tersenyum.
Puat memilih ikut bapaknya “baladang kasang” ke Rimba Siaga daripada memilih ikut Kartijo. Empat tahun di hutan belantara, pada 1976, Puat mendapat tawaran dari pamannya Kaslim merantau.
Tujuan adalah ke Kota Baru Pulau Kijang, Indragiri Hilir. Di sini ia bekerja sebagai buruh atau petani padi. Tak lama berselang tepat 1978, Puat kembali diajak pamannya Kaslim yang akrab disapa Atai mengadu nasib ke Jambi.
“Bukannya jadi baik. Di Jambi, Puat kembali “baladang kasang.” Pekerjaan itu saya lakoni hingga 1981,” jelasnya.
Merasa tak ada kemajuan akhir tahun 1981, Puat minta izin kepada pamannya merantau ke Pekanbaru. Di kota inilah Puat memulai petualangan hidupnya.
Berbagai pekerjaan dilakoni Puat di Pekanbaru. Pada akhirnya diajak pamanya Pisol menjadi “stokar” pemasangan instalasi listrik di berbagai daerah di Provinsi Riau. Wilayah kerja mereka selain Pekanbaru sampai ke Selat Panjang.
Pada 1986, Puat dan Pisol pulang kampung. Namun pekerjaannya tetap menjadi “stokar” Pisol. Nah, dia baru jadi “sopir” ketika Pisol diangkat menjadi Pegawai Tata Usaha di SMP Benai.
“Mau tak mau saya jadi sopir benaran,” katanya tersenyum.
Sembari menjadi sopir itu, Puat mengajar mengaji di Surau Tanah Genting, Muaro Sentajo. Karena pandai mengaji, dia ikut MTQ antar surau di Sentajo dan sering pula mendapat juara.
Sering dapat juara, Puat naik “pangkat” dari peserta menjadi juri. Mulai juri tingkat desa, kecamatan Sentajo Raya d/h Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi d/h Indragiri Hulu hingga tingkat Provinsi Riau.
Dan sebagai juri, pekerjaannya tak pernah jauh dari profesinya sebagai Jupen. Yakni sebagai petugas lampu.
Namun sejak tahun 2020, Puat tak lagi diajak jadi juri di tingkat provinsi. “Ada persyaratan juri harus lulusan S-1, sementara saya hanya lulusan “es tontong” alias hanya lulusan SD,” jelasnya.
Belakangan ini dengan kondisi tubuhnya yang kelihatan mulai ringkih tapi gelak tawanya masih seperti biasa dan tetap bersemangat. Puat tetap menjadi “Jupen” bagi masyarakat yang membutuhkan tenaganya.
Entah kapan Puat akan pensiun sebagai Jupen. Jika pegawai pensiun umur 58 atau 60, saya tak pernah pensiun,” ujarnya tergelak.
Puat selalu memberikan nasehat: “Jika diam itu baik lakukanlah. Namun sebaliknya jika kita diam orang menginjak-injak kita, melawanlah biar orang itu TERDIAM.”
Puat ingin harga diri kita sebagai orang jangan diinjak-injak. Sebab, harga diri itu di atas segala-galanya.
“Pesan itulah yang selalu kami jalani adik-adiknya di Dusun Tanah Genting C.q Buriang selama hidup di rantau orang.
Terima kasih SIRPUAT: senior, suhu, abang, dan guru yang kami hormati.
Sehat selalu ya!







