BEGINILAH pengakuan kawan saya Abdul Wahab. Sejak akhir Juni, dia terkejut-kejut ketika setiap kali membuka media sosial, video pacu jalur termasuk parodinya, menyerbu telepon genggam hampir tanpa jeda, lalu bertambah-tambah ketika berbagai kalangan mengikuti gerak tersebut. Gerakan tukang tari jalur, Rayyan Arkan Dikha, berusia 11 tahun, menyentak sendi jutaan orang sedunia, untuk bertukar tawa dalam alam maya yang makin menyeramkan.
“Ikut bangga dan terharu, tetapi setiap kali menonton video-video jalur dengan Dikha sebagai bintangnya, aku selalu saja membayangkan puluhan ribu tahun lalu, Kandis, Muara Takus, Palembang, Sang Sapurba, Tumasik, Melaka, Pelalawan, Johor, Daik-Lingga, Siak, dan tentu saja Riau sekarang,” tulis Wahab lewat suatu aplikasi pada telepon genggam.
Seperti biasa, saya menunggu, pesan Wahab berikutnya yang selalu beruntun. Betul saja, tak lama kemudian, dia muncul dengan suatu pernyataan bahwa media utama jalur tersebut adalah sungai yang memiliki dua nama. Di muaranya bernama Sungai Inderagiri, sedangkan pertengahan sampai ke hulunya adalah Batang Kuantan. Sebelum bernama Sungai Indragiri dan Batang Kuantan, Sungai Keremunting dan Sungai Keruh sebutannya — keruh karena perahu dagang lalu-lalang.
Kitab Sulalatus Salatin, sumber utama sejarah Melayu menyebutkan bahwa suatu rombongan bangsawan yang dipimpin Sang Sapurba, mengairi sungai tersebut sampai ke Kuantan. Rakyat Kuantan tidak mau begitu saja mengikuti apa yang dikatakan Sang Sapurba sebagai pewaris Sriwijaya Muara Takus Palembang. Untuk itu ia harus adu kekuatan dengan seekor ular yang selalu mengancam penduduk, bernama ular Sakti Mona.
Sang Sapurba menang, sehingga rakyat pun mengucapkan janji setia. Dia kemudian dikirim ke Pagaruyung untuk misi Kuantan, lalu bergerak kembali ke Bintan, Tumasik alias Singapura, Melaka, Pelalawan, Johor, Daik-Lingga, dan Siak. Rute ini meliputi waktu sekitar 500 tahun, jatuh bangunnya apa yang disebut Melayu klasik.
Cuma menyebut Muara Takus – Palembang, tak mungkin melupakan masa sebelumnya, sebab sekurang-kurangnya ditemui dalam ingatan kolektif masyarakat. Di Batang Kuantan itu pula berdiri banyak kerajaan, bahkan sebelum masehi. Ada Kerajaan Kandis, Kota Alang, sampai kemudian Kerajaan Kuantan. Sementara sistem kedatuannya pun terus menjalankan perannya sampai sekarang, dikenal Oso Kurang Duapuluoh, satu kurang dua puluh – ya, sinonim dengan 19 begitu. Berbagai situs, bahkan berbentuk piramid, banyak ditemui di Kuantan yang terpaku seperti minta diceritakan.
Kalau sudah begitu, sambung saya membalas pesan dari kawan yang tinggal di kawasan Selat Melaka sana, tampilkan juga hasil penelitian Universitas Gajah Mada di salah satu cabang Batang Kuantan, tepatnya di Logas tahun 2009. Tapi Wahab justru menyebutkan henelitian yang dilakukan Dinas Kebudayaan Riau tahun 2023 di daerah aliran sungai Singingi – Kuantan itu, memperkuat bahkan menemukan hal-hal baru dibandingkan penelitian sebelumnya.
Kesimpulan penelitian terbaru itu adalah bahwa jejak peradaban manusia di Riau, dapat ditelusuri 40.000 tahun SM, yang dikaitkan dengan berbagai penemuan di wilayah Sumatera lainnya sampai ke Malaysia. Ditemukan alat batu yang digunakan pada masa prasejarah oleh manusia Homo Sapiens atau Phitecantropus, berumur 10.000 – 40.000 SM, mirip temuan peradaban purba di Sangiran, Jawa Tengah. Bertolak dari Sangiran sebagai kawasan asal manusia di dunia sehingga Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengemukakan bahwa Indonesia adalah metropolitian peradaban dunia, temuan ini, tentunya juga merupakan bagian yang tidak bisa didiamkan begitu saja.
“Dengan demikian, engkau ingin mengatakan bahwa Aura Farming Rayyan Arkan Dikha, bukan sesuatu yang berdiri sendiri kan? Di sana ada sejarah dan peradaban, bukan hanya kepentingan sesaat dan fragmatisme kan?” tanya saya. Terus terang, saya ingin melanjutkan perbincangan ini dengan menceritakan prestasi anak-anak Riau menggemparkan kemanusiaan, bahkan sampai terbawa oleh dongeng. Tapi karena Wahab diam saja, rese (mood) saya pun tak bergerak. Nantilah ya…








