“SETIAP orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.”
Namanya kini jarang terdengar kendati dimasanya disegani karena charisma yang memancar pada dirinya. Dialah MUHAMMAD SAID – anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Modin dan Kalla kelahiran Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi pada 1920 ini. Saudara kandungnya yang lain adalah Muhammad Yusuf, Tirit, dan Oha.
Orang lebih mengenal namanya “JAIT PETAI” dari nama aslinya “Muhammad Said” yang singkat M. Said. Kata “Petai” yang melekat di belakang namanya itu berasal dari kata “Kompeitai atau Kenpeitai.”
Kompeitei atau Kenpeitai merupakan polisi militer Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (IJA) yang terkenal karena tugas-tugas rasia dam intelijennya. Ditakuti dan disegani karena mereka merupakan pasukan yang terdiri dari orang-orang pilihan.
Kompeitai ini dibentuk seiring masuknya Jepang ke Indonesia pada 1942. Lebih tepatnya, mereka mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur pada tanggal 11 Januari 1942 dan dan berakhir pada 17 Agustus 1945, bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
M. Said bersama saudaranya Simat masuk Pendidikan Polisi Jepang di Pekanbaru (Juni 1942 – September 1944). Atau setelah mereka berdua menamatkan pendidikan Sekolah Agama Perguruan Islam di Batu Sangkar, Sumatra Barat (1939-1942).
Sebelumnya, keduanya juga sama-sama menjalani pendidikan Sekolah Desa di Sentajo (1933), Sekolah Government di Talukkuantan (1934-1936), Sekolah Agama Perguruan Islam di Talukkuantan (1937-1941). Selesai pendidikan militer “ala” Jepang itu, M. Said dan kawan-kawan seangkatannya diangkat dengan pangkat Yunsa pada Kantor Polisi Pekanbaru pada 9 Oktober 1942.
Lalu pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, mereka tetap bekerja sebagai Polisi RI dengan pangkat Agent Polisi Kelas II pada Kantor Polisi Wilayah Pekanbaru. Tugas mereka lebih mengkhususkan diri dalam operasi klandestin dan rahasia, kontra – pemberontakan, dan kontra-intelijen.
Jika selama bertugas sebagai polisi, M. Said banyak menjalani penugasan di daerah Kepulauan Riau: Tanjungpinang. Sementara saudaranya Simat banyak bertugas hingga pensiun di Provinsi Riau: Pekanbaru, Bengkalis, Bagansiapiapi, dan Kampar.
Tidak mengherankan jika M. Said sering bolak balik Riau, Kepri, Singapura, dan Malaysia. Bahkan ada yang mengira dia anggota polisi Diraja Malaysia. Perkiraan itu hal biasa karena di negara jiran tersebut dia punya banyak kawan polisi. Dan, di negara jiran tersebut dia punya istri Kamsiah dan anak bernama Fatimah.
Pada masanya M. Said dikenang sebagai polisi “iwan” atau polisi yang jadi “idola wanita.” Parasnya ganteng dan rupawan didukung pula oleh kulit yang putih bersih dan tahi lalat di pipi. Sosok berkharisma dengan tutur kata yang santun dan teratur.
“Itulah anugerah yang diberikan Tuhan kepada orang tua kami,” ujar Gusmir Said – buah hati pernikahan M. Said dengan Rosmanidar asal Desa Teluk Pauh, Kecamatan Pangian, Kuantan Singingi yang bermukim di Desa Muaro Sentajo hingga hayat menjemput dirinya pada 31 Desember 2021.
Sang anak yang kini bermukim di Jakarta ini menyebut bapaknya setidaknya punya enam istri yang tersebar di negara jiran Malaysia, Baserah, Pangian, Sentajo, dan Talukkuantan. Profesinya pun beragam dan sebagian juga sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.
“Walaupun Bapak kami punya banyak istri tapi keluarganya rukun dan damai. Sekarang kami keluarga besar yang saling mensupport antara satu dengan lainnya,” tambah Gusmir Said sembari tersenyum.
Dari pernikahan kelimanya dengan Rosmanidar, M. Said punya anak: Erneti Said, Gusmir Said, Rustam Effendi, Desnawati, Heldawati, Asnawati, Heprianto, dan Hendriadi. Sementara dari pernikahan dengan istri pertamanya Kamsiah di Malaysia, M. Said punya anak bernama Fatimah. Kemudian dari pernikahannya di Sentajo tepatnya di Kampung Baru M. Said punya satu anak: Misman. Sedangkan di Koto dari istinya Syamsidar, M. Said punya tiga anak: Yasril, Yusniati, dan Roswita.
Di Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir dari pernikahannya dengan Tora, M. Said punya dua orang anak: Erlangga dan Dasrul Sapit. Sedangkan dari pernikahan terakhinya dengan Raja Isnaini dari Koto Talukkuantan, dia punya tiga anak yakni Hefni Zahara Putri, Hefriadi Putra, dan Happy Tri Santi Putri.
Jejak M. Said sebagai polisi diikuti anaknya Dasrul Sapit dan cucunya Inspektur Satu (Iptu) Diki Zulnaidi S. Sos., M.H dan Crist Aristian P, S.H. Dasrul Sapit pensiun tahun 2017 di Polresta Batam, Polda Kepulauan Riau dengan pangkat terakhir Ajun Komisaris Besar Polisi. Diki Zulnaidi – anak pertama dari pasangan Erneti dan Zulkifli kini bertugas di Polres Bintan, Polda Kepulauan Riau sebagai Kepala Unit Intelijen Keamanan. Sedangkan Crist Aristyan, S.H anak pertama dari Hefni Zahara Putri dan Roslan Meri kini bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Riskrimsus) Polda Riau.
M. Said meninggal dunia pada 11 Juli 1983 di Rumah Sakit M. Jamil, Padang. Kemudian di kebumikan pada 12 Juli 1983 di Desa Muaro Sentajo, tempat terakhirnya berdomisili.
Penelusuran yang kami lakukan data perjuangan M. Said sebagai pejuang masih bisa ditemukan dalam dokumen jejak kepolisian di Tanjungpinang dan kesaksian anak-anaknya.
Dan tulisan ini hanya sisi lain perjuangan M. Said alias Jait Petai sebagai seorang pejuang. Seorang pejuang yang ikut mengantarkan negara ini menuju kemerdekaan. *)
Penulis: Sahabat Jang Itam







