Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Minda

Saat Bangsa Butuh Teladan, Kita Kembali kepada Rasulullah

badge-check


					Saat Bangsa Butuh Teladan, Kita Kembali kepada Rasulullah Perbesar

Oleh: Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag

 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun bukan sekadar seremonial keagamaan. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum untuk merefleksikan kembali siapa sebenarnya sosok Nabi Muhammad SAW, bagaimana akhlaknya, dan bagaimana umat Islam dapat meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menyikapi berbagai peristiwa yang tengah terjadi di Indonesia saat ini.

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang memiliki empat sifat utama: Shiddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Fathanah (cerdas). Empat sifat inilah yang menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang beradab. Kejujuran beliau menciptakan kepercayaan, amanah beliau melahirkan rasa aman, tabligh beliau menegakkan kebenaran, dan kecerdasan beliau membimbing umat ke arah kemajuan.

Sayangnya, jika kita melihat kondisi bangsa Indonesia sekarang, masih sering kita temukan praktik yang jauh dari nilai-nilai tersebut. Korupsi, hoaks, ujaran kebencian, dan perpecahan sosial seolah menjadi penyakit yang terus berulang. Padahal, solusi atas berbagai masalah ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah 1.400 tahun lalu, yakni dengan akhlak mulia.

Sebagai generasi muda, kita punya tanggung jawab moral untuk menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai pedoman. Misalnya, dalam menghadapi maraknya perbedaan pandangan politik yang kerap menimbulkan gesekan di masyarakat, kita perlu meneladani cara Rasulullah berdialog dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Dalam menyikapi masalah ekonomi dan sosial, kita bisa belajar dari kepedulian Rasulullah terhadap kaum miskin, anak yatim, dan mereka yang terpinggirkan.

Momentum Maulid Nabi seharusnya mendorong kita untuk lebih kritis sekaligus solutif. Jangan hanya terjebak pada perayaan seremonial, tetapi jadikan sebagai dorongan untuk bergerak memperbaiki diri dan lingkungan. Indonesia akan kuat jika warganya meneladani akhlak Rasulullah: jujur dalam berucap, adil dalam bersikap, cerdas dalam berpikir, dan amanah dalam mengemban tanggung jawab.

Mari kita renungkan, apakah kita sudah meneladani beliau dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa? Jika belum, inilah saatnya. Karena merayakan Maulid sejatinya bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah, melainkan juga menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangannya di tengah dinamika bangsa kita saat ini.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Intelektualitas Tanpa Etika

19 Januari 2026 - 06:00 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Hadramaut

17 Januari 2026 - 08:25 WIB

Deteksi Kebocoran Pipa: Dari Kewajiban Teknis Menuju Strategi Integritas Aset Migas

12 Januari 2026 - 09:29 WIB

Sultan Menangis

11 Januari 2026 - 07:32 WIB

Trending di Minda