Menu

Mode Gelap
Improved Oil Recovery (IOR): Peluang Nyata bagi BUMD Riau di Tengah Menurunnya Produksi Minyak Harimau Sumatera Masuk Permukiman Warga Siak, Ternak Ayam dan Kucing Jadi Mangsa Bupati Siak Minta PT AIP Tanggungjawab, Terbukti Buang Limbah ke Sungai Kunjungan Kerja ke Kemenkes RI, Pemkab Meranti Upayakan Percepatan Peningkatan Sarpras Kesehatan Tahun 2026 Bupati Bintan Resmikan Gedung Poliklinik Rawat Jalan, Laboratorium Mikrobiologi, dan Instalasi Farmasi RSUD Bintan Bentrok Berdarah di Rohul, Satu Tewas, Polisi Amankan 12 Orang

Riau

Pertama Dalam Sejarah, Pucuk Pimpinan DKR Adalah Seniman – Akademis

badge-check


					Jefri al-Malay Perbesar

Jefri al-Malay

RiauKepri.com, PEKANBARU- Pertama kali dalam sejarah Dewan Kesenian Riau (DKR) dipimpin seniman akademis dengan terpilihnya Jefri al-Malay, A. Md. S, S. S., M. Sn, sebagai Ketua Umum DKR Jumat malam (5/9). Sebelum ini, Ketum DKR dari kalangan birokrat, seniman politisi, dan seniman wartawan.

Kandidat Doktor yang dosen dan Dekan 2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning (FIB UNILAK) ini menang mutlak, memperoleh delapan dari 13 pemilik suara. Kandidat lain adalah Iskandar Zulkarnain dan Kuni Mashoranti.

Sastrawan Taufik Ikram Jamil mengatakan, latar belakang keseniman Jefri pun unik. Setamat SMA di Sungaipakning, Kabupaten Bengkalis, Ia sempat hijrah ke Jakarta sebagai anak band dengan jenis musik metal. Pulang ke Pekanbaru, selain meneruskan bergabung dengan band, ia bekerja di sebuah organisasi pengusaha. Pekerjaan ini pun ditinggalkannya karena menempuh pendidikan di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) yang baru dibuka.

Ia belajar teater tradisi semacam bangsawan, Randai Kuantan, makyong, dan mendu, langsung dari maesteronya. Tapi ia juga belajar teater modern dari dramawan ternama R. Riantiarno. Bersama kawan-kawannya, dialog kesenian antara tradisi dan modern jadi makanan hari-hari awal 2.000-an yang antara lain dikonkritkannya dengan membangun band Sagu sebagai vokalis, sambil terus mengasahkan kemampuannya menulis puisi dan prosa. Sekejap menjadi wartawan budaya, ia malah sempat memasok kue buatan isterinya ke berbagai gerai, salah satu bukti kerja kerasnya.

Mengajar kesenian di Bengkalis, ia selesaikan S-1-nya di FIB UNILAK. Tak puas, ia lanjutkan S-2 di Padangpanjang sampai meraih magister seni, lalu menjadi pensyarah di UNILAK. Tak berjeda antara berkeseninan dan mengajar, ia sibuk pula melakukan pengkajian dan penelitian termasuk merestorasi fisik naskah kuno Melayu Riau yang bertambun. Dalam keadaan itu pula ia dipercayai sebagai Dekan 2 yang membidangi administrasi dan keuangan.

“Jadi secara keseniman, ia tidak diragukan, bahkan di atas rata-rata. Ia seorang penulis puisi yang baik, mampu pula membacanya secara baik sehingga sempat dinobatkan sebagai johan panggung puisi ASEAN. Maklum, ia juga vokalis dengan suara khas kan,” kata Datuk Seri Taufik Ikram Jamil yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau.

Latar belakang kesenimannya, antara tradisi dengan modernitas, antara selera muda dan tua, antara pop dan sublimitas, tentu menjadi dasar dia bekerja untuk DKR. Ditambah kemampuannya memanejerial, dibuktikan dengan organisasi yang digelutinya bahkan jabatan formal yang diembannya di kampus, berbagai keperluan kesenian akan terakomidir.

Di sisi lain, latar belakang keintelektualannya memang diperlukan dalam pembangunan kesenian kontemporer. Kesenian tidak lagi tumbuh dari instink, tetapi melalui penelitian (research). Kerja-kerja ilmiah harus dapat mendampingi kerja kreatif untuk pertanggungjawaban waktu dan tempat. Kerja-kerja kratif harus ilmiah dan karya ilmiah harus kreatif.

Visi misi yang dilaungkan Jefri yang juga pengurus LAMR Provinsi Riau, memperlihat perpaduan keseniman dan keilmiah itu. DKR harus mampu mengembangkan kesenian dari ceruk-ceruk sekotah Riau, menyebabkan seniman menjadikan DKR sebagai wilayah adu gagasan dan karya. Di dalamnya bertembung segala hal semacam labor, bukan rumah untuk istirahat.

Dan Jefri, mengawalinya dengan memberi kepercayaan kepada seniman. Berdialog dalam tiga bulan dan memuncak tiga hari terakhir karena terkesan ada kecenderungan penglibatan (cawe-cawe) penguasa lewat partai dan almamater, Jefri hadir di tengah gelanggang tanpa untuk mengalahkan karena ia ingin bersanding bukan bertanding.

Menurut Taufik yang mantan Ketum DKR masa awal reformasi yang sampai sekarang sebagai penasihat DKR itu, latar belakang Jefri tersebut, tidak otomatis melambungkan DKR. Ia perlu didukung termasuk oleh pemerintah. Jefri telah memperlihatkan kerja kerasnya dalam berbagai segi sebagai modal besar untuk seni Riau yang lebih baik. Sayang sekali, kalau modal ini tidak diberdayakan. ‘Sile…,” ujar penerima Anugerah Budaya Indonesia 2021 dari Kemendikbud Risti itu lagi. (RK3)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harimau Sumatera Masuk Permukiman Warga Siak, Ternak Ayam dan Kucing Jadi Mangsa

9 Februari 2026 - 18:56 WIB

Bupati Siak Minta PT AIP Tanggungjawab, Terbukti Buang Limbah ke Sungai

9 Februari 2026 - 18:34 WIB

Bentrok Berdarah di Rohul, Satu Tewas, Polisi Amankan 12 Orang

9 Februari 2026 - 13:47 WIB

Di Bulan K3, PT BSP Pupuk Kekompakan Karyawan Lewat Fire Fighting Competition

9 Februari 2026 - 12:23 WIB

“Membunuh” Humor

8 Februari 2026 - 16:47 WIB

Trending di Riau