Di balik keunikan rumah panggung yang membuat Panipahan dijuluki “kota terapung”, tersimpan cerita tentang bagaimana warganya berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar: air bersih dan sanitasi yang layak, di tengah keterbatasan infrastruktur yang belum menjangkau kawasan di atas air ini.
Penulis : Repi, Alfan, Florence Carolyn Lai, Siti Nasywa Elfirman, Agung Maulana
Afiliasi : Universitas Lancang Kuning
Panipahan, Rokan Hilir : Setiap kali hujan turun di Panipahan, deretan drum plastik biru di teras-teras rumah panggung sibuk menampung air dari atap. Bagi warga di kawasan tepian Sungai Rokan ini, air hujan bukan sekadar berkah cuaca — ia adalah sumber air bersih utama, bahkan komoditas yang diperjualbelikan antarwarga ketika musim kemarau tiba.
Fenomena ini menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian tim Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Lancang Kuning, yang menyoroti bagaimana kondisi fisik dan sosial kawasan pesisir membentuk cara warga Panipahan beradaptasi — tidak hanya lewat bentuk rumah, tetapi juga lewat siasat bertahan hidup sehari-hari.
Dari Kayu ke Beton: Menjinakkan Air yang Naik-Turun
Seperti kawasan pesisir lain di Panipahan, rumah-rumah di Jalur B dibangun dengan konstruksi panggung sebagai respons langsung terhadap fluktuasi muka air yang rutin terjadi. Tiang kayu menjadi pilihan tradisional karena mudah didapat dari lingkungan sekitar, sekaligus mampu menjaga bagian bawah rumah tetap kering — mencegah kerusakan akibat kelembapan, hama, korosi air asam, hingga risiko banjir yang datang tiba-tiba.
Namun seiring waktu, sebagian warga mulai beralih menggunakan tiang beton sebagai solusi yang dinilai lebih ekonomis dan tahan lama, terutama ketika material kayu lokal semakin sulit dan mahal didapat. Peralihan ini terlihat jelas pada beberapa bangunan yang kini berdiri di atas tiang-tiang beton ramping, menggantikan batang kayu besar yang dulu menjadi andalan.

Ketika Air Hujan Menjadi Penyelamat
Ketiadaan jaringan air bersih perpipaan yang menjangkau kawasan permukiman di atas air membuat warga Panipahan mengandalkan air hujan sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari. Ini bukan tanpa alasan: air tanah di kawasan pesisir seperti Panipahan umumnya sudah bercampur air laut sehingga menjadi payau dan tidak layak konsumsi.
Solusinya terlihat jelas di sepanjang pelataran rumah warga: deretan drum plastik HDPE berkapasitas sekitar 200 liter per unit, sebagian dilengkapi corong air dari pipa paralon atau sekadar sisa atap seng yang disulap menjadi talang darurat. Sistem sederhana ini memungkinkan warga menampung air hujan langsung dari atap tanpa harus repot, sekaligus mengambilnya untuk kebutuhan sehari-hari tanpa masuk ke ruang privat rumah.
Namun sistem ini punya batasnya sendiri. Ketika musim kemarau tiba dan tampungan air menipis, warga mengatasinya lewat kesepakatan sosial tak tertulis: air hujan hasil tampungan diperjualbelikan antartetangga. Praktik jual-beli air ini menjadi bukti bagaimana keterbatasan infrastruktur formal justru melahirkan sistem ekonomi mikro berbasis kebersamaan warga — solusi yang fungsional, meski jauh dari kata ideal untuk keberlanjutan jangka panjang.
Sanitasi yang Masih Jauh dari Layak
Di luar soal air bersih, tantangan yang jauh lebih berat ada pada sistem sanitasi. Tipologi rumah panggung di atas air membuat sistem pengolahan limbah konvensional, seperti septic tank yang memerlukan akses ke lapisan tanah, praktis mustahil diterapkan. Akibatnya, limbah rumah tangga dan tinja kerap dibuang langsung ke badan air yang sama — air yang juga menjadi sumber kehidupan, mata pencaharian, dan jalur transportasi warga sehari-hari.
Tim peneliti mencatat, kondisi ini membawa konsekuensi kesehatan yang nyata. Anak-anak dari keluarga dengan sumber air tak terlindungi dan jamban yang tidak layak diketahui memiliki risiko 1,3 kali lebih tinggi mengalami stunting. Sejumlah nelayan yang diwawancarai pun mengaku hasil tangkapan mereka belakangan lebih sulit dibanding tahun-tahun sebelumnya, sebuah indikasi bahwa pencemaran di badan air mulai berdampak pada rantai pangan yang selama ini menghidupi mereka.
Kelenteng yang Berornamen, Rumah Melayu yang Polos
Selain persoalan fisik, penelitian ini juga menyingkap dimensi sosial yang tersembunyi di balik tampilan bangunan Panipahan. Rumah-rumah milik warga Tionghoa, yang mayoritas bekerja sebagai nelayan atau pedagang dan cenderung bermukim lebih dekat dengan laut, umumnya tampil dengan ornamen yang lebih khas dan mencolok. Sebaliknya, bangunan milik warga Melayu di Jalur B cenderung polos tanpa banyak hiasan bercorak khas Melayu.
Menurut tim peneliti, perbedaan ini bukan semata soal selera, melainkan cerminan sejarah migrasi dan kapasitas ekonomi. Permukiman yang berornamen dan berlokasi paling dekat dengan akses laut cenderung dihuni kelompok dengan kemampuan ekonomi lebih kuat, yang memiliki akses langsung ke jalur perdagangan. Dengan kata lain, peta ornamentasi bangunan di Panipahan, secara tidak langsung, juga adalah peta ekonomi warganya.
Kearifan Lokal yang Butuh Dukungan Nyata
Bagi tim peneliti, seluruh temuan ini menunjukkan bahwa tipologi rumah panggung Panipahan adalah sistem adaptasi yang efektif namun punya batas kemampuannya sendiri. Struktur panggung berhasil menjawab tantangan fluktuasi air dan kondisi lahan yang labil, tetapi menghadapi jalan buntu ketika berhadapan dengan kebutuhan infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi — sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya lewat kearifan lokal maupun kreativitas warga semata.
Pelestarian arsitektur vernakular Panipahan, menurut tim peneliti, perlu berjalan seiring dengan hadirnya infrastruktur dasar yang kontekstual dengan kondisi permukiman di atas air ini — bukan sekadar meniru solusi kawasan daratan, melainkan dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan kampung terapung yang telah bertahan lintas generasi ini.
Ditulis berdasarkan hasil penelitian “Adaptasi Arsitektur Permukiman Panggung terhadap Kondisi Fisik dan Sosial Kawasan Pesisir di Panipahan” oleh tim Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Lancang Kuning. Jika Anda mendalami isu ini lebih lanjut: topik air bersih, sanitasi, dan stunting adalah persoalan kesehatan masyarakat yang sensitif dan sebaiknya dirujuk lebih jauh kepada dinas kesehatan atau tenaga profesional setempat.







