Oleh: Dr. Hj. Rahma, S.IP., M.M.
Mantan Wali Kota Tanjungpinang
Ada satu hal yang selalu saya yakini: ekonomi sebuah daerah tidak hanya tumbuh dari investasi besar, pembangunan infrastruktur, atau aktivitas perdagangan dalam skala besar.
Ekonomi juga tumbuh dari tangan-tangan masyarakat yang setiap hari berusaha menciptakan penghasilan bagi keluarganya.
Dari warung kecil, usaha rumahan, produk kuliner, kerajinan, fesyen, hingga berbagai produk kreatif lainnya. Semuanya memiliki peran dalam menghidupkan ekonomi daerah.
Dalam konteks itulah, saya melihat keberadaan bazaar dan UMKM memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan jual-beli.
Bazaar bukan sekadar tempat berjualan. Di balik setiap lapak, ada kreativitas yang sedang dikembangkan, ada perjuangan mempertahankan usaha, ada keberanian mencoba, serta ada harapan untuk menemukan pasar yang lebih luas.
Begitu pula UMKM. UMKM bukan sekadar usaha kecil yang diukur dari besarnya modal atau omzet. Di dalamnya ada kerja keras keluarga, kreativitas anak muda, keterampilan masyarakat, keberanian mengambil risiko, sekaligus harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, bazaar harus kita lihat sebagai sebuah ruang ekonomi. Ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen, memperkenalkan produk lokal, membangun jaringan, sekaligus membuka peluang baru.
Bagi sebagian pelaku UMKM, kesempatan mengikuti bazaar mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sana bisa muncul pelanggan baru. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar bisa menjangkau konsumen yang lebih luas. Pelaku usaha juga dapat melihat secara langsung selera pasar dan mendapatkan pengalaman untuk memperbaiki produknya.
Tidak kalah penting, bazaar menciptakan interaksi antarpelaku usaha. Mereka bisa saling bertukar pengalaman, menemukan mitra, berkolaborasi, bahkan menciptakan produk atau peluang usaha baru. Inilah alasan mengapa kegiatan bazaar perlu terus didorong dan dikembangkan di Tanjungpinang.
Ketika saya dipercaya memimpin Kota Tanjungpinang, UMKM menjadi salah satu perhatian dalam kebijakan pemerintah. Saya meyakini bahwa pemerintah tidak cukup hanya menjadi pembuat regulasi. Pemerintah harus hadir sebagai pembuka jalan.
Pelaku UMKM membutuhkan akses terhadap permodalan, pelatihan, legalitas, teknologi, pemasaran, hingga akses kepada konsumen. Semua itu harus dibangun secara berkesinambungan. Bazaar menjadi salah satu instrumen yang dapat membuka akses tersebut.
Namun, saya juga berpandangan bahwa bazaar tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Jangan sampai setelah tenda dibongkar dan keramaian berakhir, pelaku UMKM kembali berjalan sendiri tanpa pendampingan. Jika ingin memberikan dampak jangka panjang, kegiatan bazaar harus menjadi bagian dari ekosistem pengembangan UMKM.
Produk yang tampil di bazaar harus terus didorong untuk naik kelas. Pelaku usahanya perlu mendapatkan pendampingan, mulai dari peningkatan kualitas produk, kemasan, legalitas, pemasaran digital hingga perluasan jaringan pasar.
Dengan begitu, keberhasilan bazaar tidak hanya dilihat dari berapa banyak pengunjung atau transaksi yang terjadi selama acara, tetapi juga dari apa yang terjadi setelah kegiatan itu selesai.
Apakah ada pelanggan baru? Apakah omzet pelaku usaha meningkat? Apakah produknya semakin dikenal? Apakah ada kerja sama baru? Dan yang paling penting, apakah ada usaha yang kemudian berkembang dan mampu membuka lapangan pekerjaan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi ukuran keberhasilan.
Tanjungpinang memiliki modal yang tidak sedikit. Kita memiliki sejarah, budaya, kuliner, kreativitas masyarakat dan karakter kota yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.
Karena itu, pengembangan UMKM semestinya tidak berdiri sendiri. Ia harus dihubungkan dengan sektor pariwisata, ekonomi kreatif dan berbagai kegiatan masyarakat.
Wisatawan yang datang ke Tanjungpinang jangan hanya membawa pulang kenangan. Mereka juga harus memiliki alasan untuk membawa pulang produk lokal. Kuliner khas, kerajinan, fesyen, cenderamata, produk olahan, dan berbagai karya kreatif masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Di sinilah bazaar dapat memainkan peran strategis.
Bayangkan jika berbagai event pariwisata, kebudayaan, olahraga, pendidikan hingga kegiatan masyarakat selalu memiliki ruang yang representatif bagi UMKM lokal. Akan semakin banyak produk masyarakat yang dikenal, semakin banyak transaksi yang tercipta, dan semakin luas pula pasar yang dapat dijangkau.
Tetapi tentu saja, kita tidak boleh hanya mengandalkan keramaian. UMKM harus terus berinovasi agar mampu bersaing. Pemerintah dapat membuka ruang, tetapi pelaku usaha harus memanfaatkan ruang itu untuk meningkatkan kualitas.
Sering kali kita memandang UMKM sebagai usaha kecil. Padahal, jika dikumpulkan, UMKM merupakan kekuatan ekonomi masyarakat yang sangat besar.
Sebuah usaha rumahan mungkin hanya memiliki satu atau dua pekerja. Tetapi ketika jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan, kontribusinya terhadap ekonomi kota menjadi sangat berarti.
Lebih jauh lagi, aktivitas sebuah UMKM tidak berhenti pada transaksi antara penjual dan pembeli.
Ketika sebuah usaha berkembang, ia membutuhkan bahan baku. Ia membutuhkan kemasan, transportasi, jasa pemasaran, tenaga kerja, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Artinya, satu usaha yang tumbuh dapat menggerakkan usaha-usaha lainnya.
Dari sinilah kita memahami bahwa UMKM sesungguhnya memiliki efek berantai terhadap perekonomian.
Maka, jangan pernah memandang sebelah mata usaha kecil di sekitar kita. Bisa jadi, usaha yang hari ini masih sederhana adalah calon kekuatan ekonomi kota di masa depan. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, akses dan ekosistem yang memungkinkan mereka berkembang.
Generasi muda juga harus mendapatkan ruang yang sama. Banyak anak muda Tanjungpinang memiliki kreativitas dan keberanian berwirausaha. Bazaar dapat menjadi salah satu panggung pertama bagi mereka untuk memperkenalkan karya sekaligus menguji pasar.
Dari panggung yang sederhana, bukan tidak mungkin lahir usaha yang besar.
Saya percaya membangun ekonomi kota tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, ia dimulai dari seorang ibu yang membuat kue di rumah. Dari anak muda yang membuka usaha kopi. Dari perajin yang menghasilkan produk lokal. Dari pedagang kecil yang berusaha memperbaiki kemasan dan kualitas produknya.
Yang penting adalah mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Karena itu, pemerintah, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat harus membangun kolaborasi. Pemerintah membuka ruang dan memberikan kemudahan. Dunia usaha membantu membuka pasar. Perbankan memperluas akses pembiayaan. Perguruan tinggi menghadirkan pengetahuan dan inovasi. Sementara masyarakat menjadi konsumen sekaligus pendukung produk lokal.
Dengan ekosistem seperti itu, bazaar tidak berhenti sebagai keramaian sesaat. Ia menjadi salah satu bagian dari mesin ekonomi masyarakat.
Pada akhirnya, kita tidak sedang berbicara hanya tentang tenda-tenda bazaar atau transaksi beberapa hari. Kita sedang berbicara tentang manusia yang berusaha. Tentang keluarga yang menggantungkan pendapatan dari usaha mereka. Tentang anak muda yang sedang membangun masa depan. Tentang kreativitas masyarakat yang membutuhkan ruang untuk berkembang. Dan tentang peluang-peluang ekonomi yang harus terus kita buka.
Karena ketika UMKM tumbuh, peluang terbuka. Ketika peluang terbuka, ekonomi bergerak. Dan ketika kita bergerak bersama, kita bisa maju bersama.
Saya berharap Tanjungpinang dapat terus menjadi kota yang memberikan ruang bagi masyarakatnya untuk berusaha dan berkembang. Bazaar harus menjadi salah satu ruang tersebut—bukan sekadar tempat berjualan, tetapi tempat bertemunya kreativitas, peluang dan pasar.
Sebab dari lapak-lapak sederhana, kita dapat menumbuhkan harapan. Dari usaha-usaha kecil, kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
Dan dari gerakan ekonomi masyarakat yang terus tumbuh, kita dapat membangun Tanjungpinang yang lebih kuat, mandiri dan sejahtera.
Mari terus membuka ruang. Mari menciptakan peluang. Dan mari menggerakkan ekonomi Tanjungpinang bersama-sama.











